Bisakah kita belajar KONSISTEN ?

Konsisten hanya sebuah kata, namun maknanya cukup dalam. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “konsisten” mempunyai makna : 1. tetap (tidak berubah-ubah);taat asas, ajek; 2 selaras; sesuai : contoh dalam kalimat “perbuatan hendaknya sesuai dengan ucapan”. Mungkin kalau coba saya definisikan dalam bahasa yang sederhana, konsisten itu artinya “bisa dipercaya” karena “apa yang dikatakan, sesuai dengan apa yang akan dilakukan”.

 

Kita sering sekali merasa kecewa pada seseorang, bisa saja orang tersebut adalah orang yang baru kita kenal, sahabat kita, saudara kita bahkan dari orang yang paling dekat, yaitu keluarga kita sendiri. Kekecewaan itu mungkin saja berasal dari hal yang kecil, sederhana dan terlihat sepele, yaitu karena adanya “janji” yang tidak disepakati. Bahkan dalam kitab suci Al-Qur’an sangat jelas diterangkan mengenai hal ini, seperti tercantum dalam Al-Qur’an (Al-Isra”:34) yang artinya “Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggungjawabannya.”

 

Memang pada kenyataannya, ada dua jenis manusia di muka bumi ini yang memiliki karakter berbeda. Manusia pertama adalah manusia yang selalu menepati janjinya alias konsisten. Manusia yang kedua adalah manusia yang sering tidak menepati janjinya atau tidak konsisten. Bahkan salah seorang rekan saya menyebut temannya dengan istilah “Untrust man” terhadap salah seorang temannya yang ingkar janji. Tentu bukan tanpa alasan dia memberikan atribut yang tidak enak tersebut. Setelah saya tanya alasannya, ternyata dia sudah berulang kali dibohongi oleh temannya itu.

 

Sejujurnya saya katakan, tidak mudah untuk menjadi orang yang konsisten. Saya sendiri kadang tidak konsisten dengan diri sendiri. Misalnya ketika saya berjanji ada diri sendiri untuk menulis dua buah artikel setiap hari, namun pada kenyataannya saya belum bisa melakukannya. Meskipun saya berjanji pada diri sendiri, seharusnya saya harus konsisten menepatinya. Masih untung saya hanya mengecewakan diri sendiri, bagaimana kalau kepada orang lain ? Tentu orang yang saya janjikan akan kecewa dan kepercayaannya kepada saya akan menurun.

 

Berjanji itu penting, apalagi kepada orang lain. Sebaiknya kita jangan membuat sebuah janji kalau kita tidak bisa memenuhinya. Jika kita bernjanji dan ternyata karena sesuatu dan lain hal tidak dapat memenuhinya, sebaiknya kita dengan berbesar hati mau meminta maaf. Langkah ini paling tidak bisa mengurangi kekecewaan orang yang sudah kita janjikan. Jangan karena kita merasa lebih kaya, lebih tinggi jabatannya, lebih tinggi status sosialnya, lebih pintar atau berbagai atribut lainnya membuat kita menyepelekan hal ini. Ingat, setiap kita bernjanji ada sesuatu yang kita pertaruhkan yaitu nama baik (dimata manusia) dan iman (dimata Tuhan).

 

Mari kita belajar konsisten dan berusaha untuk konsisten. Ketika janji atau pernyataan yang kita keluarkan tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan, maka runtuhlah sudah kepercayaan orang terhaddap kita. Harga sebuah kepercayaan itu sangat mahal dan tidak bisa diukur dengan uang. Jika kita ingin dihormati orang, dihargai orang, maka belajarlah menjadi orang yang konsisten. Apakah kita sudah termasuk orang yang konsisten ? Tidak perlu dijawab, karena anda pasti sudah tahu jawabannya. Hati kecil anda tidak bisa berbohong mengenai hal ini. Jika anda masih belum menjadi orang yang konsisten, maka mulai hari ini mari kita berubah menjadi orang yang konsisten. Semoga bermanfaat

 

J. Haryadi

Ir. H. Ace Dj. Latama: Pengusaha Ayam Probiotik dari Ciketing, Mustika Jaya – Kota Bekasi

Ace-001

Ir.H. Ace Dj. Latama

Oleh :  J. Haryadi

Bosan bekerja sebagai tenaga ahli di beberapa konsultan perusahaan TeknoIogi Informasi (TI) membuat Ir. H.Ace Dj. Latama, pria kelahiran Luwuk, Kabupaten Luwuk, Sulawesi Tengah ini akhirnya memilih keluar kerja dan banting stir menjadi seorang pengusaha ternak ayam potong (ayam pedaging). Kini pria penggemar kopi ini bisa bebas mengatur waktunya sendiri, tidak seperti ketika dulu masih bekerja yang selalu disibukkan dengan berbagai pekerjaan rutin di kantor yang cukup banyak menyita waktunya.

Saat penulis temui di peternakan ayam potongnya di daerah Ciketing, kota bekasi, suami dari dr. Helma D.U. ini tengah duduk santai sambil menikmati secangkir kopi luwak kesukaannya.  Beberapa anak buahnya tampak sedang sibuk bekerja membersihkan kandang ayam sedangkan pekerja lainnya sedang memberikan bahan pakan untuk ayam peliharaannya.

Penulis sangat mengenal pria lulusan Fakultas Teknik Jurusan Teknik Informatika, Universitas Islam Nusantara (UNINUS) Bandung ini dengan baik. Mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Uninus ini dari dulu dikenal sebagai pria yang serius dalam melakukan pekerjaan apapun. Oleh sebab itu tidak heran ketika dulu masih berstatus sebagai mahasiswa, dirinya sudah dipercaya menjadi asisten di laboratorium komputer kampusnya. Selain itu, sambil kuliah, dirinya juga aktif mengajar sebagai instruktur komputer di beberapa lembaga kursus di kota Bandung.

Meskipun lahir dari keluarga petani kelapa yang sukses di kampungnya, namun Haji Ace (panggilan akrab beliau) dikenal sebagai pribadi yang baik, pekerja keras dan tidak manja. Hal ini tentu tidak terlepas dari bimbingan ayahnya, H. Djawad Latama (almarhum) yang dikenal tegas dalam membina pendidikan anak-anaknya. Oleh sebab itu tidak heran kalau semua saudara kandungnya bergelar sarjana. Mereka kini semua sudah berkeluarga, hidup mapan dan sukses dibidangnya masing-masing.

Kakak tertua Haji Ace, yaitu Ir.Irham Latama, adalah seorang mantan anggota DPRD Kabupaten Luwuk yang kini berprofesi sebagai petani coklat dan peternak ayam potong di kampungnya. Kakaknya yang kedua, Dr. Ir. Gunarto Latama, dikenal sebagai dosen pasca sarjana dan peneliti senior di Universitas Hasanudin (UNHAS) Ujung Pandang. Sedangkan kakaknya yang ketiga, Dra. Irawati Latama, kini bekerja sebagai akuntan di Jubilee School, sebuah sekolah internasional di Jakarta.

Jauh sebelum menekuni bisnis ayam potong, Haji Ace sudah malang melintang bekerja di berbagai Konsultan TI, baik sebagai Trainer maupun sebagai Sistem Analis dan Senior Programmer. Spesialisasi keahliannya adalah membuat software berbasis Oracle. Beberapa proyek berskala nasional pernah ditanganinya, diantaranya adalah pembuatan Sistem Informasi Manajemen Kependudukan (SIMDUK). Terakhir beliau bekerja sebagai Manajer TI di PT. Solusindo Mitra Sejati (SMS) Jakarta.

Menurut Ayah dari Zahra Nabila Latama, mahasiswi fakultas kedokteran UNISBA Bandung dan Fauzan Rahman Latama yang kini masih bersekolah di SMP Al-Ma’soem ini, menjalankan bisnis sendiri lebih menyenangkan dibandingkan menjadi seorang pekerja. Bedanya, kalau dulu dirinya setiap awal bulan selalu menerima gaji dari hasil kerjanya, sekarang justru dia yang mengeluarkan gaji untuk karyawannya.

Memang, menjadi seorang pengusaha itu banyak tantangan dan suka dukanya. Jika dulu ketika masih bekerja, setiap awal bulan ada kepastian mendapat penghasilan dari kantornya. Sementara sekarang, penghasilannya tidak menentu, tergantung dari hasil penjualan ayam potongnya. Jika harga pakan stabil dan harga jual tinggi, terutama menjelang hari libur semacam Natal dan Tahun Baru, Hari Raya Idul Fitri atau Idul Adha, biasanya keuntungan meningkat.

Sebaliknya jika harga pakan naik,  maka akan berdampak juga terhadap penurunan penghasilan. Dilematisnya, jika ayam dijual dengan harga tinggi, konsumen lari. Terpaksa harga dinaikkan sedikit, tetapi akibatnya keuntungan sedikit, bahkan kadang-kadang rugi. Tetapi menurut Haji Ace, semua itu adalah resiko terjun ke dunia bisnis. Untung atau rugi merupakan hal yang biasa. Oleh karena itu beliau sudah terbiasa dengan kondisi semacam itu dan menikmatinya sebagai sebuah proses dalam berbisnis.

Ketika penulis menanyakan alasan mengapa Haji Ace memilih ayam potong sebagai usahanya. Pria yang bertubuh subur ini beralasan karena menurutnya kebutuhan masyarakat terhadap daging ayam dari waktu ke waktu kian meningkat. Lagi pula, hampir setiap orang menyukai daging ayam, tidak seperti daging sapi atau kambing yang tidak semua orang menyukainya.

Bertambahnya jumlah penduduk dan semakin meningkatnya kesejahteraan masyarakat juga memicu meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan daging ayam. Selain itu, banyak olahan jenis makanan yang bisa dibuat dari daging ayam, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijadikan ladang usaha. Misalnya bisa dibuat masakan seperti : ayam bakar, ayam goreng, ayam tepung (fried chicken), ayam serundeng, opor ayam, ayam kecap, ayam cuil, mie ayam, bubur ayam dan lain-lain. Sudah dipastikan menjalankan bisnis ayam potong mempunyai prosfek yang baik dan sangat menguntungkan, ujarnya.

Haji Ace memilih lokasi usahanya di daerah Ciketing,  kota Bekasi, juga bukan tanpa alasan. Disamping lokasinya tidak jauh dari pasar tradisional, juga dekat dengan jalan tol. Dari sisi kemudahan transportasi juga menjadi pertimbangannya dalam membuka usaha dikawasan ini. Hasil produksi ternak ayamnya bisa dijual di lokasi terdekat yaitu pasar Bekasi, bahkan bisa keluar Bekasi seperti Cikarang, Purwakarta, Karawang maupun Jakarta.

Mulai Menjalankan Bisnis Ayam Potong

Bisnis ternak ayam potong dilakukan Haji Ace terinspirasi dari usaha yang dilakukan oleh kakak tertuanya, Ir. Irham Latama yang sudah terlebih dahulu sukses menjalankannya di Bunta, Kabupaten Luwuk, Provinsi Sulawesi Tengah. Disamping itu, ketika Haji Ace masih bekerja sebagai konsultan TI, juga pernah menangani klien seorang pengusaha ayam potong sukses yang berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Beliau melihat bisnis yang dijalankan cukup menguntungkan dan perputaran uangnya cukup cepat. Bisa dibayangkan, hanya dalam waktu tiga minggu usaha ini sudah menghasilkan keuntungan.

Ir. H. Ace Dj. Latama Di Area Peternakan Ayam Probiotik Miliknya

Ir. H. Ace Dj. Latama Di Area Peternakan Ayam Probiotik Miliknya

Sebelum memutuskan menekuni usaha ini, Haji Ace melakukan perhitungan bisnis dengan bertanya kepada praktisi yang sudah berpengalaman. Diantaranya dia bertemu dengan salah seorang sahabat lamanya asal Bengkalis yang cukup berpengalaman, yaitu H. Mahfudz Arlini. Sahabat baiknya ini cukup banyak membantu memberikan masukan terhadapnya.

Proses Menimbang Ayam Untuk Dijual

Proses Menimbang Ayam Untuk Dijual

Setelah merasa yakin, Haji Ace lalu memutuskan untuk memulai usahanya yaitu dengan menyewa sebuah kandang ayam kosong berkapasitas 3.000 ekor di daerah Ciketing, kota Bekasi. Saat itu dia dibantu dengan 2 orang pekerja dan mulai menanam bibit sebanyak 2.000 ekor ayam. Kini produksi ayam potongnya sudah mencapai 4.000 ekor perbulan dan sedang akan ditingkatkan menjadi 10.000 ekor perbulan.

Ayam Ace 004

Mendatangkan Tenaga Ahli dari Kampung Halaman

Pengalaman pahit dalam berbisnis ayam potong pernah dialami Haji Ace. Beberapa kali panen ayam dan hasilnya tidak begitu menggembirakan, diantaranya akibat harga jual yang anjlok atau faktor penyakit yang membuat ayamnya banyak mati.  Tentu hal ini membuat dirinya mengalami kerugian yang cukup besar. Belum lagi permainan para tengkulak yang sangat menentukan harga pasar, sehingga membuatnya lemas dan kecewa. Betapa tidak, harga jual ke para tengkulak tetap saja rendah meskipun harga pasar sedang tinggi. Selisih harga jual ke tengkulak dan pasar cukup tinggi, berkisar antara 50-80% membuatnya terus memutar otak agar bisnisnya bisa terus bertahan.

Alumni SMA Al Falah Bandung ini melihat tenaga kerja yang selama ini membantunya bekerja di kandang masih belum optimal dalam melakukan pekerjaannya. Beliau teringat ada salah seorang keluarga dekatnya di Luwuk, Sulawesi Tengah, yang bekerja sebagai tenaga ahli ternak ayam potong di kampungnya. Konon saudaranya ini pernah menangani peternakan ayam dengan produksi lebih dari 10.000 ekor perbulan. Beliau bermaksud mengajak tenaga ahli tersebut untuk bergabung dengannya dalam mengelola bisnis ternak ayam potongnya.

Salah Satu Kandang Ayam Peternakan Ayam "Ciketing Farm"

Salah Satu Kandang Ayam Peternakan Ayam “Ciketing Farm”

Usaha yang dilakukan Haji Ace dalam membujuk saudaranya berhasil. Lalu saudaranya itu diterbangkan dari Sulawesi ke Jakarta dan terus ke Bekasi. Semua biaya perjalanan sepenuhnya ditanggung olehnya. Ternyata, apa yang dilakukan beliau sangat tepat. Orang ini benar-benar berpengalaman dalam menangani ternak ayam potong. Mulai dari cara mencuci kandang yang begitu bersih, sampai cara memberi makan dan obat-obatan pada ayam yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Berkat tangan dinginnya, kualitas ayam menjadi lebih baik, tingkat kematian ayam menurun dan pertumbuhan ayam jauh lebih pesat dari sebelumnya.

Sejak kedatangan tenaga ahli tersebut aturan kandang diperketat. Tidak sembarang orang bisa masuk ke kandang kecuali menggunakan pakaian khusus. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi masuknya virus melalui pakaian orang yang masuk ke dalam kandang. Begitu pula sebelum ayam dipelihara, kandang terlebih dahulu dibersihkan dengan cara disemprot dengan air bersih dan diberi obat anti virus. Setelah itu kandang dibiarkan kosong selama satu minggu agar benar-benar steril dan bebas dari virus.

Pemberian minuman ayam tidak boleh telat hanya karena petugas malas mengontrol tong penampung air. Jika minuman telat, bisa mengganggu pertumbuhan ayam. Begitu juga pemberian makan ayam tidak boleh terlalu banyak, melainkan sesuai dengan porsinya. Sesekali petugas wajib mengontrol kondisi ayam di kandang apakah mereka sedang bergerombol. Bila ayam bergerombol, sebaiknya jangan dibiarkan, melainkan disuruh berpencar dengan cara mengetuk-ngetuk kandang dengan pemukul sehingga ayam berpencar. Tujuannya adalah agar ayam tidak malas dan gesit sehingga tetap sehat. Jika terlihat ada ayam yang sakit segera diambil dan dipisahkan agar penyakitnya tidak menular ke ayam yang lain.

Melalui sistem pemeliharaan yang baik, dan pakan yang berkualitas menyebabkan pertumbuhan ayam hasil ternak Haji Ace memiliki beberapa keunggulan dibandingkan ayam potong sejenis. Diantaranya usia panen ayam lebih cepat, bentuk ayam yang lebih segar dan rasa dagingnya yang lebih gurih. Disamping itu daya tahannya juga lebih lama jika disimpan dalam lemari es atau freezer.

Kualitas ayam ini secara fisik bisa dikenali misalnya dari bentuk bulunya yang sedikit, warna kulitnya yang lebih merah dan gerakannya yang lincah serta tingkat kematian akibat stresh yang rendah. Oleh sebab itu tidak heran jika ayam produksi Haji Ace selama ini sangat digemari dan menjadi rebutan para tengkulak.

Beralih ke Sistem Probiotik

Sukses beternak ayam potong dengan kualitas yang lebih baik dibandingkan peternak ayam sejenis lainnya tidak membuat Haji Ace merasa puas. Pria kreatif dan enerjik yang hobi membaca ini terus melakukan berbagai inovasi dan terobosan baru. Dari hasil penelusurannya, ternyata masih ada cara lain yang bisa membuat kualitas produksi ayamnya menjadi lebih baik yaitu dengan mengubah pola pemeliharaan ayam dengan menggunakan sistem Probiotik.

Suasana Pemeliharaan Ayam Probiotik di dalam Kandang

Suasana Pemeliharaan Ayam Probiotik di dalam Kandang

Sistem Probiotik adalah pemberian obat pada hewan atau tanaman tanpa menggunakan bahan kimia melainkan diambil dari microba yang bisa membunuh bakteri yang merugikan (patogen), sehingga membantu penyerapan nutrisi pada hewan atau tumbuhan sehingga pertumbuhannya menjadi optimal.

Haji Ace menjelaskan bahwa berternak ayam dengan memakai sistem probiotik lebih efisien dan menguntungkan dibandingkan dengan cara biasa yang menggunakan obat dari bahan kimia. Sebagai ilustrasi, 1 kg pakan ternak, dengan cara biasa (memakai obat kimia) akan menghasilkan sekitar 4-5 ons daging, sedangkan dengan sistem probiotik (tanpa obat kimia) bisa menghasilkan daging sekitar 7,5-8,3 ons daging atau daya serapnya sekitar 75-83%.

Ayam Probiotik yang Sehat dan Banyak Dagingnya

Ayam Probiotik yang Sehat dan Banyak Dagingnya

Berdasarkan hasil pengalaman dan pengamatannya selama menggunakan sistem probiotik, kotoran yang dihasilkan menjadi berkurang. Jika masih menggunakan cara lama (memakai obat kimia), untuk memproduksi 4.000 ekor ayam yang siap panen (usia 23 hari) menghasilkan kotoran sebanyak 120 karung, sedangkan ketika menggunakan sistem probiotik Cuma menghasilkan kotoran ayam sebanyak 80 karung. Artinya terjadi penyusutan kotoran sebanyak 40 karung atau 13%. Dampaknya, ternyata terjadi pengiritan bahan pakan dan mengurangi biaya pengeluaran.

Darah Ayam Probiotik Yang Sudah Dipotong Terlihat Segar

Darah Ayam Probiotik Yang Sudah Dipotong Terlihat Segar

Bagi seorang peternak, biaya terbesar dalam memelihara ayam adalah terletak di bahan pakan yaitu sebesar 70%. Menurut Haji Ace, dengan cara biasa (menggunakan bahan obat kimia), jika peternak ingin menghasilkan 1 ton daging, idealnya dibutuhkan sebanyak 1,6 – 1,7 ton bahan pakan. Sedangkan jika menggunakan sistem probiotik cuma dibutuhkan 1,2 ton bahan pakan. Artinya, untuk produksi yang sama terjadi pengiritan sebanyak 0,4-0,5 ton.

Bentuk Ayam Probitok Yang Sudah Dikuliti

Bentuk Ayam Probitok Yang Sudah Dikuliti

Bentuk Serat Daging Ayam Probiotik

Bentuk Serat Daging Ayam Probiotil

Beberapa pertimbangan lain yang membuat Pengusaha ayam potong asal Bunta ini tertarik menerapkan sistem probiotik dalam peternakan ayam potongnya adalah :

  • Pemeliharaan ayam tidak menggunakan bahan kimia melainkan dengan bantuan microba.
  • Mampu menekan angka kematian ayam menurun bahkan bisa ditekan sampai 0%. 
  • Kualitas daging lebih baik, bahkan tekstur dagingnya cenderung mirip ayam kampung, dengan ciri-ciri fisik : daging lebih padat dan berserat. 
  • Kandungan lemak rendah (low colesterol). 
  • Jika disimpan dalam freezer dalam waktu lama dagingnya tidak menyusut dan rasanya tidak berubah.

Pada tabel berikut ini ditampilkan perbandingan keunggulan daging ayam potong hasil beternak dengan cara biasa dibandingkan dengan sistem probiotik, sebagai berikut :

TAbel Perbandingan ayam probiotik

Ekspansi Usaha, Jadi Penyalur Obat Probiotik

Sukses menjalankan usaha ternak ayam potong menggunakan sistem probiotik membuat produk ayam “Ciketing Farm” milik Haji Ace menjadi incaran para tengkulak. Bahkan mereka rela membeli ayamnya dengan harga lebih tinggi dari harga ayam potong biasa. Hal ini dikarenakan mutu ayamnya memang jauh lebih baik dibandingkan dengan produk peternakan ayam lainnya yang masih menggunakan obat-obatan kimia.

Kesuksesan Haji Ace ternyata tercium juga oleh para peternak ayam potong lainnya. Beberapa diantara mereka minta diberi tahu resep atau cara beternak dengan menggunakan sistem probiotik. Karena banyak peternak lain yang bertanya dan ingin dibantu beralih ke sistem probiotik, akhirnya Haji Ace memutuskan untuk mengambil peluang ini sebagai usaha barunya, yaitu sebagai agen obat probiotik.

Secara kebetulan lahan peternakan Haji Ace ini tidak jauh dari areal persawahan. Beliau sering mengobrol dengan petani penggarap bagaimana cara mereka selama ini mengolah lahan pertaniannya. Ternyata para petani penggarap masih menggunakan cara-cara lama dalam merawat tanamannya agar tidak diserang hama yaitu menggunakan bahan pestisida. Padahal penggunaan pestisida yang terus menerus dalam jangka waktu lama tidak diperbolehkan, karena bisa merusak struktur zat hara dalam tanah yang bisa mengurangi tingkat kesuburannya.

Mengetahui kondisi tersebut, Haji Ace lalu menawarkan kepada para petani penggarap agar mau menerapkan sistem pertanian dengan sistem probiotik dan menghentikan pemakaian pestisida serta obat-obatan kimia lainnya. Bukan saja menyehatkan tanah, namun menurut suami dr. Helma D.U ini, hasil panen mereka bisa meningkat beberapa kali lipat. Bukannya disambut baik, mereka justru mentertawakannya dan menganggap apa yang dikatakannya sudah sering mereka dengar. Mereka beralasan bahwa struktur tanah di daerah mereka tidak sama dengan tanah yang ada di daerah sentra penghasil padi seperti Karawang, Subang, Cianjur dan Purwakarta.

Sebagai pebisnis handal yang sudah berpengalaman, Haji Ace tidak putus asa menghadapi penolakan masyarakat. Baginya, berbuat baik itu memang butuh pengorbanan, waktu dan biaya. Dia juga menyadari sikap apatis masyarakat sebagai akibat banyaknya orang yang sering menipu para petani dengan menjual berbagai produk obat-obatan yang ternyata hasilnya tidak seperti apa yang dikatakannya.

Pada saat itu kebetulan juga ada salah seorang petani penggarap yang sudah telat dua minggu belum menanam padi di sawahnya. Haji Ace lalu menawarkan bantuannya kepada petani tersebut dengan menawarkan produk probiotik secara gratis untuk diujicobakan pada 3 petak lahan sawahnya. Petani penggarap itu ternyata setuju, lalu menerapkan apa saja petunjuk yang dianjurkan olehnya tanpa harus memberitahukan kepada pemilik lahannya.

Pada hari ke-10 terjadi hal yang luar biasa. Pertumbuhan padi ujicoba tersebut ternyata bisa mengejar padi yang masa tanamnya berusia 2 minggu lebih awal. Warna daunnya hijau alami, lebih lebat karena pada pangkal pohonnya banyak sekali anakannya. Melihat kenyataan ini membuat semua petani penggarap di daerah tersebut merasa heran dan bertanya pada petani penggarapnya, apa yang menyebabkan 3 petak sawah tersebut pertumbuhannya luar biasa. Petani itu lalu menjelaskan kepada mereka kalau dia menerapkan sistem pertanian probiotik seperti yang dianjurkan oleh Haji Ace Latama.

Akhirnya mereka semua percaya setelah melihat fakta yang terjadi dilapangan. Mereka semua sepakat akan menggunakan sistem pertanian probiotik dilahan sawahnya.

Kiat Sukses Dalam Berbisnis

Kesuksesan adalah hak setiap orang namun pada kenyataannya tidak semua orang bisa mencapai kesuksesan dalam hidupnya. Setiap kesuksesan yang diperoleh seseorang sudah dipastikan tidak diperoleh secara instan, seperti emas yang turun dari langit, melainkan hasil usaha dan perjuangan yang panjang.

Ketika penulis menanyakan apa kiat sukses dalam menjalankan bisnisnya ? Haji Ace Latama dengan rendah hati mengatakan bahwa apa yang dilakukannya tidak seberapa dibandingkan dengan pengusaha sukses lainnya.

Demi berbagi pengalaman dan tanpa maksud menggurui, Haji Ace membagi kiat-kiatnya sebagai berikut :

  • Jangan pernah takut mencoba sesuatu yang baru sebab bisa saja itulah yang terbaik bagi anda.
  • Ketika kita menyerah dalam berbisnis maka kita hanya dapat kata “kegagalan”,  tetapi jika kita terus bergerak maju maka peluang untuk memperoleh keberhasilan sangat terbuka lebar. 
  • Menghindar dari resiko hanya milik seorang pecundang. 
  • Dalam bisnis resiko adalah sesuatu yang harus kita hadapi, bukannya dihindari. 
  • Terlalu banyak berhitung tanpa pernah mencoba laksana mengukir diatas air. 
  • Terus lakukan perbaikan dan ikuti setiap perkembangan yang ada dalam bisnis anda, sebab bisnis itu penuh dengan dinamika yang setiap saat bisa terjadi. 
  • Jangan jadikan ketidaktersediaan modal sebagai alasan untuk tidak berbisnis,  sebab bukankah satu buah butir telur pun bisa membawa anda menjadi seorang pengusaha tanker minyak.

Kepada para pembaca yang ingin mengenal Ir. H. Ace Dj. Latama lebih jauh atau ingin menjalin kerjasama dibidang usaha peternakan atau pertanian dengan menggunakan sistem Probiotik, silahkan Anda menghubungi “Ciketing Farm” melalui :

Handphone    : 0813 2367 6767

Email                : ace.latama@gmail.com

Facebook        : Ace Latama

Twitter             : @acelatama

***

Wani Jaya Langit, Pelopor Pelukis Jalanan di Kota Cimahi

Gambar

Oleh : J. Haryadi

Pernahkah anda bertandang ke Kota Cimahi ? Jika anda pernah kesana, mungkin anda pernah melewati Jalan Raya Cimahi yang melintas dari depan alun-alun Cimahi menuju arah ke Kota Bandung. Tidak jauh dari Toko Kue “Kartika Sari” terdapat tempat mangkal seorang pelukis jalanan dengan penampilan cukup nyentrik, berkaca mata hitam, berambut gondrong sebahu, mengenakan kemeja atau kaos oblong dan celana jeans butut. Hampir setiap hari pelukis ini terlihat duduk sendiri sambil asik membuat sketsa lukisan. Biasanya dia duduk  di bangku kayu sambil menghisap rokok kesayangannya dan ditemani segelas kopi pahit kesukaannya. Pelukis berdarah Jawa tersebut bernama “Wani Jaya Langit” atau lebih dikenal dengan julukan WJL (baca “We Je El”) yang merupakan inisial dari namanya.

Gambar

Atraksi melukis Wani Jaya Langit (Sumber : Koleksi pribadi)

Jika anda hanya melihat dari tempat mangkalnya yang begitu sederhana, yaitu sebuah halaman depan sebuah bangunan tua yang sudah kosong dan tidak terurus, tampaknya tidak ada hal yang istimewa. Beberapa karya lukisnya pun tampak dipajang berjejer seadanya di dinding tempok tua, tanpa bingkai yang mahal, bahkan diantaranya ada yang terlihat lusuh karena berdebu. Sebagian lagi lukisannya terlihat bertumpuk diatas lantai dan hanya disandarkan begitu saja di sisi tembok.

Kesan pertama ketika bertemu dengan pria kelahiran Juli 1968 ini cukup menyeramkan, seperti preman jalanan saja. namun kesan negatif tersebut akan segera sirna jika anda sudah mengenalnya lebih dekat. Ternyata seniman yang satu ini cukup menyenangkan jika diajak bicara, mudah akrab dan humoris.

WJL merupakan pelopor pelukis jalanan di Kota Cimahi. Dulu, ketika dirinya pertama kali berkesenian di emper trotoar, belum ada pelukis lain yang melakukannya. Namun kita sudah banyak pelukis jalanan yang hadir di Kota Cimahi.

Selama berkreasi melukis di jalanan, sudah ratusan siswa yang datang padanya untuk bertanya dan belajar tentang lukisan. Beberapa wartawan juga sering mewawancari kiprahnya melukis dijalanan. Oleh sebab itu tidah heran jika beberapa media seperti Harian Umum Pikiran Rakyat pernah meliput aktivitas berkesenianya.

WJL for Kompasian 002

Aksi Wani Jaya Langit sebagai objek “Body Painting” para pelukis Cimahi

Ketika penulis menanyakan apa yang melatarbelakangi dirinya melukis dijalanan, WJL mengungkapkan beberapa alasan, yaitu :

– Seni harus dekat dengan masyarakat. Berkarya dijalan menciptakan interaksi langsung antara dirinya dengan masyarakat, sehingga tercipta hubungan yang harmonis. Misalnya beberapa kali dirinya  kedatangan siswa-siswi dari berbagai sekolah di sekitar Cimahi yang ingin belajar melukis dan bertanya tentang kehidupan seorang seniman.

– Berkesenian bisa dilakukan dimana saja, termasuk dijalan dan jangan terpaku dengan masalah tempat.

– Masyarakat bisa kenal dan dekat dengan pelaku seni, bukan hanya mengoleksi karyanya saja.

– Sebagai eksistensi diri bahwa di Kota Cimahi ada senimannya.

Menurut WJL, seni itu tumbuh bersama pelakunya. Pelaku seni tumbuh bersama pembangunan wilayahnya. Sebagai salah satu warga Kota Cimahi, dirinya ingin berkontribusi pemikiran dan kreativitas bagi pembangunan dibidang seni dan budaya di kotanya. Harapannya, seniman bisa tumbuh dan berkembang serta ikut andil dalam pembangunan kotanya, terutama dibidang seni.

ASAL MUASAL NAMA

Sebelum dikenal dengan nama “Wani Jaya Langit“, dulu dirinya bernama asli “Suroto“. Wani kecil sering sakit-sakitan. Dalam sehari, dirinya sering sekali mengalami peti’an (Bahasa Jawa) atau step. Kondisi ini membuat kedua orangtuanya khawatir dan menganggap nama “Suroto”  tidak cocok. Kemudian orangtuanya berinisiatif mengganti namanya menjadi “Wani” (Bahasa Jawa yang artinya “berani“). Tujuannya agar nantinya dirinya panjang umur atau Berani Hidup. Entah kebetulan atau memang nama baru itu benar-benar sakti, sejak ganti nama, dirinya justru bertambah sehat dan benar-benar panjang umur.

Pada 2004, ketika WJL sedang mangkal dijalanan, tiba-tiba melintas sebuah bus antar kota. Secara tidak sengaja Wani membaca nama bus tersebut yaitu “Jaya Langit“. Tiba-tiba muncul inspirasi dibenaknya untuk menggabungkan nama bus tersebut dibelakang namanya sehingga menjadi “Wani Jaya Langit“.

Wani tidak mau sembarangan mengganti namanya. Dia ingin nama barunya nanti lebih menguntungkan dan dirinya mendapat berkah dari Allah SWT. Pria religius ini lalu mengadakan acara selamatan dengan membuat nasi kuning. Beberapa teman dan saudara dekat diundangnya untuk ikut mendoakan nama barunya. Sejak saat itulah dia dikelan dengan sebutan “Wani Jaya Langit” atau WJL.

MASA LALU

WJL lahir dan dibesarkan di desa Gisting, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Kedua orangtuanya berprofesi sebagai petani dengan penghasilan tidak seberapa. Bakat seni sudah terlihat sejak WJL masih kanak-kanak. Dia begitu tertarik kalau melihat ada orang lain yang sedang menggambar sehingga suka menirunya.  Dia juga suka memegang, memperhatikan dan mengagumi keindahan keris milik ayahnya yang sangat artistik dimatanya.

Bengkel seni Wani Jaya Langit di Cimahi

Bengkel seni Wani Jaya Langit di Cimahi (Koleksi Pribadi)

Memasuki usia SMP, WJL mulai tertarik membaca komik lokal klasik. Dia begitu menikmati gambar-gambar dalam komik yang dibacanya. Beberapa komik yang dibuat oleh komikus terkenal pada masa itu seperti Jan Mintaraga, Tegus Santosa, Ganes TH,  dan RA Kosasih habis dibacanya. Kalau dihitung mungkin sudah ratusan judul komik yang sempat dibacanya. Tentu saja cukup banyak juga uang jajannya yang habis dipakai untuk menyewa komik. Hobi membaca komik ini terus berlangsung hingga WJL menamatkan pendidikan SMA-nya.

Kata orang, masa SMA itu adalah masa yang paling indah untuk dikenang. Setiap orang tentu punya kenangan tersendiri, begitu juga dengan WJL. Kala itu dirinya sempat diajar oleh seorang guru yang kebetulan juga sebagai seorang seniman Lampung yang cukup dikenal, yaitu Pak Nurbaito. Melalui gurunya ini WJL banyak menimba ilmu tentang seni lukis dan mempraktekkannya. Salah satu hasil karyanya ketika itu adalah sebuah komik silat  berjudul “Jalan Setapak“.

Pak Nurbaito menurut wani adalah pigur guru yang baik dan rendah hati. Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu dikenal sangat piawai mengolah cat diatas kanvas dengan gaya lukisan realis klasik Eropa. Karya lukis Pak Nurbaito begitu hidup, indah dan sangat menarik sehingga banyak yang laris terjual. Hal ini telah membuat ekonomi keluarganya jauh lebih baik dibandingkan guru-guru lainnya. WJL begitu terobsesi dengan kesuksesan gurunya tersebut sehingga berniat untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang seniman sejati.

Karya lukis Wani jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Meskipun Pak Nurbaito termasuk pelukis terkenal di daerahnya dan juga sebagai seorang guru, namun dirinya tidak pernah menganggap WJL sebagai muridnya, melainkan dianggapnya sebagai teman. Hal ini tambah membuat WJl semakin kagum dan hormat padanya. Ada nasihat gurunya ini yang selalu terngiang-ngiang ditelinganya dan tidak bisa dilupakannya adalah “Kalau kamu mau sukses menjadi seoang pelukis, jangan pernah berhenti berkarya, rajin berlatih dan terus belajar. Kalau ini terus kamu lakukan, maka kesuksesan akan datang dengan sendirinya.”

Selepas SMA, WJL memberanikan diri merantau ke Kota Cimahi, Jawa Barat. Semula dia bekerja sebagai buruh kecil di beberapa perusahaan. Keluar masuk kerja baginya merupakan hal biasa, disamping untuk mencari penghasilan yang lebih baik, juga untuk mencari pengalaman. Baginya, mencari rezeki yang halal itu penting, walau penghasilannya tidak seberapa dan harus mempertaruhkan tenaganya. Dia selalu berpikir agar tetap bisa bertahan hidup di tanah rantau.

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Atas prakarsa seorang teman baik, WJL dikenalkan dengan pelukis senior Kota Cimahi yang  terkenal dengan julukan “Pelukis Naga” yaitu Pak Priyadi. Beliau adalah pendiri sekaligus sebagai Ketua Yayasan Pilar Seni Indonesia (YAPSI). Selama  kurang lebih 3 bulan WJL menimba ilmu dari pelukis beraliran realis tersebut. Selama proses belajar tersebut, beberapa karya WJL laris terjual sehingga membuat semangat berkeseniannya semakin tinggi. Bahkan hasil penjualan luksan karyanya jauh lebih tinggi dibandingkan gajinya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan.

Sebagai seorang murid, WJL begitu menghormati pak Priyadi sebagai gurunya. Apalagi terbukti beberapa hasil karya lukisan Pak Priyadi yang begitu indah dan bernilai seni tinggi sudah berhasil terjual dengan harga yang cukup tinggi dan dikoleksi oleh kolektor Indonesia maupun manca negara. Kehidupan Pak Priyadi yang begitu mapan sebagai seorang seniman membuat WJL jadi semakin tergoda untuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang seniman sejati. Akhirnya dengan tekad bulat WJL  berani mengambil keputusan keluar dari tempatnya bekerja dan total berkiprah sebagai seorang pelukis.

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Dari Pak Priyadi, WJL banyak sekali mendapatkan ilmu dan pengalaman, sehingga dirinya semakin percaya diri dan semakin matang dalam berkesenian. Pesan penting dari Sang Pelukis Naga yang tidak terlupakan olehnya adalah “Seniman harus bekerja keras dan selalu kreatif dalam berkarya. Jangan mudah menyerah dan menganggap diri sendiri rendah. Bersikap jujur dalam berkarya dan jangan menjadi plagiat. Karya yang orisinil, unik dan khas bisa membuat seorang seniman mempunyai indentitas tersendiri sehingga suatu saat bisa menjadi seniman terkenal dan sukses.”

BERKARYA DAN BERKREASI

Kalau anda hanya mengenal WJL dijalanan, tentu anda tidak akan mendapatkan informasi yang utuh tentang dirinya. Sosoknya ternyata bukan pelukis jalanan biasa dan jangan dipandang dengan sebelah mata. Pelukis berpenampilan metal ini ternyata punya segudang aktivitas dalam berkesenian. Dirinya tidak hanya mangkal dijalanan, namun ada juga aktivitas lainnya yang luput dari perhatian.

WJL pernah membuat heboh para seniman lukis ketika dirinya ikut berpartisipasi dalam sebuah ajang pameran lukisan bersama di Topas Gallery, Bandung. Ketika itu dirinya memajang karya lukisnya dengan harga yang paling tinggi. Tentu saja ulahnya ini sempat mebuat perbincangan dikalangan seniman, baik bernada positif maupun negatif. Tetapi WJL tidak ambil pusing. Walaupun lukisannya tidak laku terjual dan menuai banyak kritikan, namun setidaknya apa yang dilakukannya telah membuat namanya terdongkrak naik. Ya, itulah Wani Jaya Langit.

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Menurut WJL, dalam berkarya sebaiknya seorang seniman memiliki tanggug jawab. Setiap karya lukis yang diciptakan harus mempunyai makna dan tidak sekedar goresan cat diatas kanvas. Oleh karena itu kualitas karya, makna yang hendak disampaikan dan keasliannya harus menjadi prioritas utama dalam berkesenian. Sebauh karya seni harus mencerminkan prilaku si pelukisnya, sehingga karya dan pelaku seninya berpadu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Dari beberapa pamean lukisan bersama yang pernah diikutinya, WJL mendapat banyak pelajaran. Dirinya bisa mengamati dan belajar dari karya rekan-rekannya sesama seniman. Berbagai teknik melukis yang semula tidak dikuasainya bisa diperoleh dari hasil pergaulannya dengan seniman lain.

Bersama para seniman Kota Cimahi, pada 2010 WJL ikut mendirikan organisasi Forum Pelukis Cimahi (FORKIS). Dirinya sering berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Selain pameran lukisan, dirinya juga pernah unjuk kebolehan seperti body painting, aksi teaterikal menggunakan pakaian dari kertas koran dan lain sebagainya.

Mimpi berpameran tunggal baru berhasil diwujudkan oleh WJL pada 2011 silam. Acara bertema “Aku, Akar, Air dan Benih” yang dilaksanakan di Gedung DPRD Kota Cimahi ini berhasil terlaksana dengan meriah dan diliput oleh beberapa wartawan cetak dan elektronik.  Kegiatan ini merupakan pintu gerbang bagi dirinya untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.

Pada 2012 WJL ikut berkiprah dalam keggiatan performance art  bertema ” Sembunyi Setelah Lelah ” di Cimahi dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 10 Kota Cimahi. WJL juga pernah ikut memeriahkan acara Grand Opening Gedung Historich Cimahi dan terlibat dalam kegiatan lelang lukisan.

Di tahun 2013 ini Wani Jaya Langit sedang mempersiapkan diri untuk mengadakan gelar pameran lukisan di Gedung Historich Kota Cimahi berduet dengan rekannya Agus Hamdani.

Satu lagi mimpi WJL yang belum terwujud adalah ingin mengadakan Pameran Tunggal di 50 Kota Besar di Indonesia. Dirinya kini sedang mencari sponsor yang bersedia berkolaborasi untuk mewujudkan mimpinya tersebut.

***

J. Haryadi
Penulis buku Best Seller : “Dahsyatnya Sabar, Syukur dan Ikhlas Muhammad SWT” yang diterbitkan oleh penerbit Ruangkata – Bandung