Category Archives: Uncategorized

Bambang Sumantri, Pelukis Cimahi yang Doyan Motor Antik

001-bambang-sumantri-1

Oleh: J.Haryadi

Tidak banyak anak mudah yang berani mengambil profesi berkesenian secara total, misalnya melukis. Salah satu pemuda berani tersebut adalah Bambang Sumantri. Pria kelahiran 28 April 1982 ini begitu percaya diri dalam meraih masa depannya dengan mengambil profesi sebagai pelukis.

Bakat Seni Menurun dari Sang Kakek

Dunia seni bagi Bambang bukanlah hal baru baginya. Sejak kecil dirinya sudah terbiasa hidup dilingkungan keluarga yang kental dengan dunia kesenian. Darah seni mengalir dalam dirinya berasal dari Kakeknya, Tirpada – seorang seorang Seniman Patung dan Kuda Lumping di Kebumen, pemilik sanggar gamelan bernama “Tirpada” yang cukup dikenal.

Bambang terjun menjadi pelaku seni terinspirasi dari kegiatan kakeknya ketika dirinya masih kecil. Saat itu Bambang kecil sering melihat kakeknya membuat alat kesenian Kuda Lumping dan Patung Kayu (seperti misalnya Patung Barong) yang sering diberi warna merah, hitam, dan putih. Dari situlah timbul keinginannya untuk ikut mencoba membuatnya.

Pertama Kali Belajar Menggambar dari Kakak Sepupu

Salah seorang yang banyak jasanya mengantarkan Bambang menjadi pelukis adalah kakak sepupunya sendiri, yaitu Sarno Basis – seorang kaligrafi dan wayang kulit, putra dari kakak kandung ibunya. Kakaknya tersebut sering membimbing Bambang dalam belajar menggambar.

Mulanya Bambang kecil sering diminta membantu Sarno memberi warna pada lukisannya.  Setelah selesai melaksanakan tugasnya, kakak sepupunya itu lalu memberinya uang jajan, sekadar upah dari hasil jerih payahnya.

Mungkin karena sering sekali menggambar, lambat laun timbul rasa senang berkesenian dalam dirinya. Ibarat kata pepatah yang mengatakan,”Tak kenal maka tak sayang, Tak sayang maka tak cinta.

Semakin lama kemampuan Bambang menggambar semakin mahir. Ketika masih bersekolah di TK dan SD, guru sekolahnya sering mengikutsertakan Bambang dalam berbagai even lomba menggambar. Mungkin karena sudah terlatih menggambar dirumahnya, tidak heran kalau dirinya kerap mendapat juara.

“Melukis itu bukan bakat. Siapa saja bisa, asal mau belajar dan berlatih,” ujar pria berbintang Taurus dan penggemar motor ini menjelaskan.

Perjalanan Berkesenian Sang Pelukis

Sejak neneknya wafat, Bambang hijrah ke Kota Cimahi – Jawa Barat. Putra dari Toto Sudirmanto – seorang petani sayur asal Cimahi dan Sri Wahyuni – wanita asal Kebumen, Jawa Tengah ini kemudian melanjutkan sekolahnya di SMP PGRI 4 Cimahi dan lulus pada tahun 1998. Sementara pendidikan SMA-nya dilanjutkan di SMU Mutiara 2 Bandung, mengambil Jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) dan lulus pada tahun 2001.

Banyak orang mengatakan kalau masa remaja adalah masa panca roba. Saat dimana remaja ingin mencoba segala sesuatu yang diinginkannya. Begitu juga yang dialami oleh Bambang. Keinginan untuk melampiaskan hasratnya berkesenian ditumpahkannya melalui aktivitas art street dengan melukis mural dan grafiti di berbagai dinding tembok jalanan.

Salah satu hal yang sangat membekas dan membanggakan dalam hidupnya adalah perkenalan Bambang dengan Madam Marrie – seorang pelukis asal Essen, sebuah kota kecil di pinggiran Jerman pada awal 2001. Perkenalan dengan wanita Jerman yang bersuamikan orang Sunda ini difasilitasi oleh seorang pelukis berdarah Tionghoa.

Melalui Madam Marrie, pria yang memiliki motto hidup “Banyak Saudara, Banyak Kawan, Banyak Rezeki” ini belajar banyak tentang gaya lukisan Barat khususnya Eropa. Selama dua kali dalam seminggu Bambang kerap datang ke rumah Madam Marrie. Beliau mengajari Bambang secara gratis dengan tekun dan sabar, sehingga membuat Bambang semakin bersemangat dalam berkarya. Salah satu kata-kata Madam Marrie yang masih melekat erat dalam benaknya adalah “Beraktivitaslah Sampai Akhir Hayatmu”.

Suami Madam Marrie juga punya andil besar dalam membuka cakrawala berkesenian Bambang. Beliau sering mengajak pria kelahiran Kebumen ini untuk berkunjung ke beberapa rumah orang kaya yang ada Bandung. Dalam setiap kunjungan tersebut suami Madam Marrie tersebut meminta Bambang mengamati rumah orang kaya yang mereka kunjungi.

002-lukisan-1

Sebuah lukisan Bambang Sumantra yang bergaya Eropa (Sumber: Bambang Sumantri)

Dalam pengamatannya, pelukis yang beralamat di kampung Sukawargi, Cihanjuang, Cimahi ini melihat ada sesuatu yang istimewa dari setiap rumah orang kaya tersebut. Dia  selalu melihat ada beberapa lukisan berukuran besar yang terpajang di rumah mereka dan berasal dari pelukis ternama. Bambang berpikir tentu lukisan tersebut harganya mahal. Oleh sebab itu timbul ide dalam pikirannya untuk serius tekun menjalani profesi sebagai pelukis, karena dia melihat profesi tersebut memiliki masa depan yang cerah.

Orang lain yang cukup berjasa dalam perjalanan karir Bambang adalah Eyyo Sunaryo – pria asal Cilacap – Jawa Tengah yang kini bermukim di Cimahi. Saat itu pria yang semasa mudanya sering mendapat juara dalam berbagai lomba melukis itu melihat potensi besar yang dimiliki bambang. Salah satu perataan Eyyo yang masih melekat dalam benaknya hingga sekarang adalah “Bambang, Saya ingin suatu saat melihat masa depanmu cerah”.

003-lukisan-2

Bambang Sumantri saat melukis sosok harimau yang menjadi salah satu objek favoritnya (Sumber: Bambang Sumantri)

Eyyo membantu menyekolahkan Bambang dengan biayanya sendiri untuk belajar ke beberapa orang pelukis, di antaranya pelukis di Jelekong – sebuah kampung seni di pinggiran Kabupaten Bandung. Kemudian Bambang juga belajar dengan pelukis senior Cimahi, Priyadie – pelukis yang dikenal dengan julukan Sang Pelukis Naga.

Selanjutnya pelukis yang mempunyai hobi memakai motor Vespa dan pernah berambut gondrong ini menimba ilmu dengan Pelukis Mitra Art Center, yaitu Ropie – pemilik Rumah Seni Ropie dan Galeri Bunga yang bermarkas di Jalan Braga, Bandung. Beberapa karya lukis Bambang banyak yang dipajang di galeri tersebut untuk dijual ke publik.

Sebuah nasihat penting dari Ropie ketika Bambang masih bergabung di masih bergabung di Rumah Seni Ropie adalah “Jadilah Orang yang Bermanfaat bagi Orang Lain”. Nasihat tersebut sampai saat ini masih dipegang teguhnya sebagai salah satu pedoman hidupnya.

06-penghargaan-ori

Mendapat penghargaan dari Original Record Indonesia (ORI) sebagai salah satu tim dari 5 pelukis Cimahi yang melukis di atas satu kanvas secara terbalik (Sumber: Bambang Sumantri)

07-ori-2

Mendapat penghargaan dari Original Record Indonesia (ORI) sebagai Penyelenggara Pendukung (Sumber: Bambang Sumantri)

fb_img_1487215720547

Pose bersama model dan teman pelukis sebelum menerima penghargaan dari Original Record Indonesia (ORI) dalam sebuah even di Purwakarta (Sumber: Bambang Sumantri)

Pengalaman Mengikuti Pameran Lukisan

Sejak bergabung dengan Rumah Seni Ropie, kegiatan Bambang berkesenian semakin eksis. Rumah seni tersebut selalu menyiapkan berbagai keperluan melukis, seperti cat, kuas, dan kanvas. Bambang semakin produktif melukis, sehingga semakin banyak karyanya yang bisa dijual dan siap dipamerkan.

Beberapa ajang pameran yang pernah diikuti Bambang di bawah manajemen Rumah Seni Ropie, di antaranya adalah: 1) Pameran 100 Pelukis Indonesia di Gedung YPK Bandung pada 2010; 2) Pameran di Museum Barli, Jalan Dr. Soetami, Bandung; 3) Pameran Bersama di Savoy Homan “Love Earth Save World” (Bambang merupakan satu-satunya Pelukis asal Cimahi yang mengikuti ajang tersebut); dan 4) Pameran di Lagung Galeri Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

005-pameran-lukisan

Berpose bersama sahabatnya ketika mengikuti sebuah pameran lukisan di Purwakarta (Sumber: Bambang Sumantri)

Kemudian mengikuti berbagai pameran lainnya, yaitu: 5) Pameran Bersama Forum Pelukis Cimahi (Forkis); 6) Pameran di Galeri Kita Bersama Komunitas Sekoci (Seniman Kota Cimahi); 7) Pameran Semangat Patriotik di Rumah Seni Ropie Braga 2012-2013; 8) Pameran di Gedung The Historich Cimahi Bertajuk “Save Our Culture Herritage” Bersama Forum Pelukis Cimahi (Forkis), dan; 9) Pameran Bersama “Sketsa Sore” di Purwakarta pada akhir Januari 2012.

Hobi Mengendarai Motor

Suami dari Yati Mulyati – wanita asli Bungbulang, Garut yang dinikasinya di Garut pada 9 November 2011 ini sangat menyukai motor. Bambang suka sekali beraktivitas mengendarai sepeda motor antiknya – Vespa. Bahkan, saking cintanya dengan kendaraan yang satu ini, anak semata wayangnya diberi nama Muhammad Piaggio (kelahiran Cimahi pada 2012).

Perkenalan Bambang dengan istrinya juga ada kaitannya dengan hobinya mengendarai Vespa. Pernah suatu hari Bambang turing ke Jakarta mengendarai Vespa dalam rangka menghadiri acara Jambore Sekuter Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta. Ketika pulang menuju Bandung, kaena tidak hafal jalan, dirinya kesasar sampai ke Purwakarta.

05-berpose-dengan-motor-moge

Bambang Sumantri berpose di atas motor gede kesayangannya (Sumber: Bambang Sumantri)

Kebetulan di Purwakarta ini Bambang memiliki seorang sahabat. Dia menghubungi sahabatnya itu untuk menginap semalam. Nah, di rumah sahabatnya inilah Bambang sempat berkenalan dengan seorang wanita cantik yang kelak menjadi pendamping hidupnya.

Pada tahun 2010 bersamaan dengan berdirinya Forum Pelukis Cimahi (Forkis), Bambang juga mendirikan komunitas penggemar motor Vespa dengan nama “Scooterlove” di Kota Cimahi dan menjadi Presidente (semacam ketua umum) di komunitas tersebut. Visinya adalah ingin melestarikan budaya sekuter di tanah air, khususnya di Cimahi.

Kalau image komunitas motor biasanya identik dengan tindakan brutal dan perilaku anarkis anggotanya, maka berbeda dengan komunitas motor yang didirikan bambang. Kegiatan mereka justru sangat positif yaitu berupa sharing dan bakti sosial.  Berkat kegigihannya membina organisasi ini, kini anggotanya sudah berjumlah sekitar 200 orang dan sudah memiliki cabang hampir di semua kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.

Tidak puas hanya di sana, kakak dari Taufik Mulyana – adik kandungnya yang kini bekerja di sebuah perusahaan leasing di Cimahi, ini pada tahun 2015 mendirikan lagi komunitas Motor Gede (Moge) di Cimahi dengan nama  “Angelo” – kata plesetan dari kalimat “Anu Gelo“ dalam Bahasa Sunda yang dalam Bahasa Indonesia artinya “Orang yang Gila”. Alasan pemberian juukan itu karena motor besar mereka hanya Mono Jok (jok tunggal), sehingga tidak bisa dipakai untuk berboncengan.

Berbakti Untuk Negeri

Pada tahun 2011, selain beraktivitas melukis, Bambang juga dipercaya mengajar seni melukis di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Purwakarta. Dia juga mengajar mata pelajaran Seni Budaya dan keterampilan di SMK Farmasi Purwakarta. Dari aktivitasnya tersebut Bambang mendapat honor yang terbilang layak dan selalu berusaha bersyukur kepada-Nya.

Salah satu wujud syukur yang dilakukan Bambang adalah melakukan aktivitas sosial. Baginya kekayaan harta bukanlah jaminan untuk bisa berbuat kebaikan, tetapi kekayaan hati pasti mampu membuat orang menjadi baik dan senang berbagi. Oleh sebab itu dengan segenap kemampuan yang dimilikinya, dia beusaha untuk dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat yang ada di sekitarnya.

Meskipun belum memiliki harta berlimpah, tetapi apa yang telah dilakukan pelukis muda ini patut kita acungi jempol. Betapa tidak, di tempat kontrakannya yang tergolong kecil dan sempit, Bambang tetap semangat berkarya dan berbagi ilmu melukis terhadap anak-anak jalanan secara gratis. Rasa cintanya terhadap anak-anak jalanan ini merupakan salah satu upayanya menjadi orang yang bermanfaat.

Semua anak-anak jalanan yang datang ke rumahnya dibekali dengan life skill berupa dasar-dasar ilmu melukis. Mereka bebas melukis apa saja yang mereka inginkan.

“Saya tahu mereka ini lama hidup dijalanan. Biasanya mereka mencari ruang untuk berekspresi. Saya ingin mereka tetap menjadi diri mereka sendiri dan tidak ingin mengubah karakter mereka,” ujar Bambang menjelaskan.

Bambang berharap agar apa yang diberikannya mampu menjadi pegangan hidup mereka. Pria berperawakan ramping ini tidak ingin anak-anak jalanan tersebut selamanya hidup luntang-lantung tidak karuan. Dengan memiliki keterampilan, Bambang berharap suatu saat mereka bisa hidup mandiri dan berhenti menggelandang di jalanan.

Anak-anak jalanan yang diasuh Pengurus Forum pelukis Cimahi (Forkis) ini bukan saja berasal dari Purwakarta, melainkan juga datang dari berbagai daerah seperti Pelabuhan Ratu (Sukabumi), Kerawang, Bekasi, Bandung dan Cimahi. Bagi Bambang, berbuat amal merupakan suatu keharusan.

Biarlah Allah yang akan membayar perbuatan saya, karena Allah Maha Kaya dan mempunyai harta yang tidak terhingga,” ujar Bambang dengan nada serius.

Alhamdulilah beberapa anak didiknya kini sudah ada yang belajar mandiri dengan membuka usaha pengecatan motor dengan sistem Air Brush, membuat mural dan grafiti di sekolah-sekolah, membuat sablon kaos untuk dipasok ke distro, melukis kaos, dan lain-lain.

Kepada anak-anak muda tersebut Bambang sering berpesan,”Isilah hidupmu dengan kegiatan-kegiatan kreatif dan carilah sensasi dengan prestasi, bukan dengan kegiatan negatif”.

Beberapa Lukisan Karya  Bambang Sumantri

004a-lukisan-potret-gabungan-1a

Sketsa Lukisan Potret 1 Gaya Bambang Sumantri (Sumber: Bambang Sumantri)

004a-lukisan-potret-gabungan-2a

Sketsa Lukisan Potret 2 Gaya Bambang Sumantri (Sumber: Bambang Sumantri)

004c-lukisan-harimau

Lukisan harimau mengaum karya Bambang Sumantri (Sumber: Bambang Sumantri)

Kontak Person

Bagi siapa saja yang berminat belajar melukis, pesan lukisan atau ingin membeli karya lukis Bambang Sumantri, bisa menghubungi via Akun Facebook: Pelukis Bambang Sumantri.

***

Advertisements

Asal Mula Lahirnya Internet

Oleh : J. Haryadi

Tulisan Asli (Hasil Copy Paste)

Berikut sejarah kemunculan dan perkembangan internet. Sejarah internet dimulai pada 1969 ketika Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency(DARPA) memutuskan untuk mengadakan riset tentang bagaimana caranya menghubungkan sejumlah komputer sehingga membentuk jaringan organik.

Tulisan Baru (Hasil Modifikasi)

Siapa yang tidak mengenal internet ? Rasanya hampir semua orang sudah mengenal internet, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Tetapi tahukah Anda sejak kapan internet itu ditemukan ? Perlu Anda ketahui bahwa lahirnya internet dimulai pada tahun 1969. Saat itu pimpinan Departemen Pertahanan Amerika, U.S. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) membuat sebuah keputusan penting yang akhirnya menjadi sejarah. DARPA bermaksud meneliti bagaimana agar beberapa komputer yang mereka miliki bisa terhubung sehingga terkoneksi satu dengan lainnya.

BUAH TAHAJUD 7 MALAM

Oleh : J. Haryadi

Bang Abu Jamal (bukan nama sebenarnya) adalah seorang mua’alaf yang berasal dari sebuah kampung di Kupang, Nusa tenggara Timur. Ia merantau ke tanah Jawa dan terdampar di propinsi Jawa Barat. Berkat kegigihannya berjuang ia kini telah mempunyai pekerjaan tetap sebagai salah seorang Asisten Manajer di sebuah perusahaan leasing yang sedang berkembang pesat di kota Bandung. Kecintaan terhadap kota Bandung yang ramah dan berudara sejuk telah membuatnya terpikat pula dengan dara manis mojang priangan. Ia kini telah berhasil mempersunting seorang wanita Sunda yang cantik dan tinggal disebuah perbukitan yang berudara sejuk di daerah Cisarua, kabupaten Bandung Barat.

Ketika pertama kali menikah dan berikrar menjadi seorang muslim, Abu Jamal mendapat hambatan dari keluraga besarnya. Betapa tidak, ia adalah seorang aktivis pemuda gereja dan menjadi seorang ketuanya. Tentu saja banyak sekali yang memusuhinya, termasuk saudara-saudaranya yang berasal dari satu kampung yang semuanya beragama nasrani.

Suatu hari ketika ia sedang mengendarai sebuah mobil, tiba-tiba mobilnya dihentikan oleh sekelompok pemuda berkulit hitam. Belum sempat ia bertanya apa kesalahannya, tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat telak dipipinya. Darah segarpun menitis dari wajahnya yang hitam manis. Tidak berhenti sampai disitu, ia diseret keluar dari kendaraannya secara paksa dan tanpa mengenal ampun, sekitar 20 orang pemuda berkulit hitam berperawakan tegap itupun menghajarnya secara bergantian bagaikan sangsak tinju. Abu Jamalpun tidak bisa berbuat apa-apa. Kakinya yang kuatpun tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang gempal, iapun segera terjerembab mencium bumi. Ia roboh bagaikan sebatang pohon yang tumbang. Badannya terasa remuk, mukanya sudah tidak berbentuk lagi, bengkak dan memar, penuh dengan cucuran darah segar. Kalau patroli polisi tidak segera lewat, entah seperti apa nasibnya, mungkin bisa berakibat fatal.

Pemuda hitam itu segera berlarian ketika melihat sebuah mobil patroli polisi mendatanginya. Abu Jamal sudah tergeletak tak sadarkan diri. Ketika ia sadar, dirinya sudah berada di sebuah rumah sakit swasta di daerah Dago. Ia segera mendapaat pertolongan dan selamat dari musibah yang lebih fatal. Sebuah giginya copot pada kejadian tersebut. Ketika polisi memintanya untuk mem-visumnya, ia dengan halus menolaknya dan tidak mau melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwajib. Mengapa demikian ? Karena ia tahu, pelaku pengeroyokan itu tak lain adalah saudara-saudara satu kampungnya yang sama-sama merantau ke Bandung. Ketika  mereka mengetahuinya berpaling agama menjadi muslim, semua saudara-saudaranya jadi memusuhinya. Ia diancam akan dibunuh kalau sampai nekad pindah agama menjadi Muslim. Ia tetap dengan pendiriannya, masuk menjadi muslim dan akhirnya mengalami kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya tersebut. Ia menganggap kejadian itu sebagai tebusan atas dosa-dosanya nya selama ini.

Cobaan berikutnya kembali datang. Kakak kandungnya yang berhutan padanya ratusan juta rupiah mengancam tidak akan membayar hutang-hutangnya jika ia menjadi muslim. Bahkan rumah yang dibuatnya di kampung halamannya yang merupakan hasil kerja kerasnya selama ini juga dirampas oleh keluarga besarnya jika ia tetap menjadi muslim. Abu Jamal tidak bergeming, ia tetap pada pendiriannya. Tahu sendiri akibatnya, ia tidak diakui oleh semua keluarga besarnya. Ia dibuang dan keberadaannya dimuka bumi diangap tidak ada. Semua hartanya dirampas oleh saudara-saudaranya, termasuk mobil yang tadinya dipinjam oleh salah seorang adiknya.

Dua bulan setelah perkawinannya dengan gadis Sunda pujaan hatinya, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ditawari pekerjaan yang lebih menarik oleh salah seorang kenalan barunya. Ketika ia sudah mengundurkan diri, ternyata pekerjaan yang ditawarkan tersebut tak kunjung tiba. Temannya bahkan lari entah kemana, sehingga ia menjadi pengangguran. Akibatnya tabungan yang ia simpan dari hasil kerja kerasnya selam ini dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lambat laun pesediaan pun semakin menipis. Cibiran dari keluarga istripun ia terima. Hatinya menjerit, dadanya sesak, ia coba untuk tetap bersabar sambil terus berusaha mencari kerja kesana kemari, namun pekerjaan belum juga ia dapatkan.

Alhamdulillah ia memiliki istri yang sholehah. Istrinya mengajak Abu Jamal untuk melaksanakan sholat tahajjud. Setiap tengah malam, mereka berdua bangun dan melaksanakan sholat tahajjud bersama sambil berlinangan air mata memohon pertolongan Allah. Setelah 7 malam berturut-turut melaksanakan tahajjud, keajaiban itupun tiba. Pagi harinya sekitar jam 9, sebuah telepon datang berdering. Ternyata telepon tersebut berasal dari seorang direktur sebuh perusahaan tempat dimana ia dulu pernah bekerja. Kebetulan dikantornya dibutuhkan seorang kepala kolektor. Ia diminta datang ke kantor mantan Bosnya itu. Ia ditawarkan untuk mengisi posisi yang kosong tersebut. Iapun segera menyanggupinya.

Berkat ketekunan dan dedikasinya, ia selalu mencapai prestasi yang ditargetkan oleh kantornya. Kini ia baru saja dipromosikan menjadi salah seorang asisten manajer. Dan kini senyuman dibibirnya sudah sering terlihat seiring dengan meningkatnya penghasilan dan kesejahteraannya.  Kesabaran dan keyakinan akan pertolongan Allah telah membuatnya menjadi kuat dan tak goyah diterpa badai. Kesabaran membuahkan kebahagiaan.

* * *