Wani Jaya Langit, Pelopor Pelukis Jalanan di Kota Cimahi

Gambar

Oleh : J. Haryadi

Pernahkah anda bertandang ke Kota Cimahi ? Jika anda pernah kesana, mungkin anda pernah melewati Jalan Raya Cimahi yang melintas dari depan alun-alun Cimahi menuju arah ke Kota Bandung. Tidak jauh dari Toko Kue “Kartika Sari” terdapat tempat mangkal seorang pelukis jalanan dengan penampilan cukup nyentrik, berkaca mata hitam, berambut gondrong sebahu, mengenakan kemeja atau kaos oblong dan celana jeans butut. Hampir setiap hari pelukis ini terlihat duduk sendiri sambil asik membuat sketsa lukisan. Biasanya dia duduk  di bangku kayu sambil menghisap rokok kesayangannya dan ditemani segelas kopi pahit kesukaannya. Pelukis berdarah Jawa tersebut bernama “Wani Jaya Langit” atau lebih dikenal dengan julukan WJL (baca “We Je El”) yang merupakan inisial dari namanya.

Gambar

Atraksi melukis Wani Jaya Langit (Sumber : Koleksi pribadi)

Jika anda hanya melihat dari tempat mangkalnya yang begitu sederhana, yaitu sebuah halaman depan sebuah bangunan tua yang sudah kosong dan tidak terurus, tampaknya tidak ada hal yang istimewa. Beberapa karya lukisnya pun tampak dipajang berjejer seadanya di dinding tempok tua, tanpa bingkai yang mahal, bahkan diantaranya ada yang terlihat lusuh karena berdebu. Sebagian lagi lukisannya terlihat bertumpuk diatas lantai dan hanya disandarkan begitu saja di sisi tembok.

Kesan pertama ketika bertemu dengan pria kelahiran Juli 1968 ini cukup menyeramkan, seperti preman jalanan saja. namun kesan negatif tersebut akan segera sirna jika anda sudah mengenalnya lebih dekat. Ternyata seniman yang satu ini cukup menyenangkan jika diajak bicara, mudah akrab dan humoris.

WJL merupakan pelopor pelukis jalanan di Kota Cimahi. Dulu, ketika dirinya pertama kali berkesenian di emper trotoar, belum ada pelukis lain yang melakukannya. Namun kita sudah banyak pelukis jalanan yang hadir di Kota Cimahi.

Selama berkreasi melukis di jalanan, sudah ratusan siswa yang datang padanya untuk bertanya dan belajar tentang lukisan. Beberapa wartawan juga sering mewawancari kiprahnya melukis dijalanan. Oleh sebab itu tidah heran jika beberapa media seperti Harian Umum Pikiran Rakyat pernah meliput aktivitas berkesenianya.

WJL for Kompasian 002

Aksi Wani Jaya Langit sebagai objek “Body Painting” para pelukis Cimahi

Ketika penulis menanyakan apa yang melatarbelakangi dirinya melukis dijalanan, WJL mengungkapkan beberapa alasan, yaitu :

– Seni harus dekat dengan masyarakat. Berkarya dijalan menciptakan interaksi langsung antara dirinya dengan masyarakat, sehingga tercipta hubungan yang harmonis. Misalnya beberapa kali dirinya  kedatangan siswa-siswi dari berbagai sekolah di sekitar Cimahi yang ingin belajar melukis dan bertanya tentang kehidupan seorang seniman.

– Berkesenian bisa dilakukan dimana saja, termasuk dijalan dan jangan terpaku dengan masalah tempat.

– Masyarakat bisa kenal dan dekat dengan pelaku seni, bukan hanya mengoleksi karyanya saja.

– Sebagai eksistensi diri bahwa di Kota Cimahi ada senimannya.

Menurut WJL, seni itu tumbuh bersama pelakunya. Pelaku seni tumbuh bersama pembangunan wilayahnya. Sebagai salah satu warga Kota Cimahi, dirinya ingin berkontribusi pemikiran dan kreativitas bagi pembangunan dibidang seni dan budaya di kotanya. Harapannya, seniman bisa tumbuh dan berkembang serta ikut andil dalam pembangunan kotanya, terutama dibidang seni.

ASAL MUASAL NAMA

Sebelum dikenal dengan nama “Wani Jaya Langit“, dulu dirinya bernama asli “Suroto“. Wani kecil sering sakit-sakitan. Dalam sehari, dirinya sering sekali mengalami peti’an (Bahasa Jawa) atau step. Kondisi ini membuat kedua orangtuanya khawatir dan menganggap nama “Suroto”  tidak cocok. Kemudian orangtuanya berinisiatif mengganti namanya menjadi “Wani” (Bahasa Jawa yang artinya “berani“). Tujuannya agar nantinya dirinya panjang umur atau Berani Hidup. Entah kebetulan atau memang nama baru itu benar-benar sakti, sejak ganti nama, dirinya justru bertambah sehat dan benar-benar panjang umur.

Pada 2004, ketika WJL sedang mangkal dijalanan, tiba-tiba melintas sebuah bus antar kota. Secara tidak sengaja Wani membaca nama bus tersebut yaitu “Jaya Langit“. Tiba-tiba muncul inspirasi dibenaknya untuk menggabungkan nama bus tersebut dibelakang namanya sehingga menjadi “Wani Jaya Langit“.

Wani tidak mau sembarangan mengganti namanya. Dia ingin nama barunya nanti lebih menguntungkan dan dirinya mendapat berkah dari Allah SWT. Pria religius ini lalu mengadakan acara selamatan dengan membuat nasi kuning. Beberapa teman dan saudara dekat diundangnya untuk ikut mendoakan nama barunya. Sejak saat itulah dia dikelan dengan sebutan “Wani Jaya Langit” atau WJL.

MASA LALU

WJL lahir dan dibesarkan di desa Gisting, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Kedua orangtuanya berprofesi sebagai petani dengan penghasilan tidak seberapa. Bakat seni sudah terlihat sejak WJL masih kanak-kanak. Dia begitu tertarik kalau melihat ada orang lain yang sedang menggambar sehingga suka menirunya.  Dia juga suka memegang, memperhatikan dan mengagumi keindahan keris milik ayahnya yang sangat artistik dimatanya.

Bengkel seni Wani Jaya Langit di Cimahi

Bengkel seni Wani Jaya Langit di Cimahi (Koleksi Pribadi)

Memasuki usia SMP, WJL mulai tertarik membaca komik lokal klasik. Dia begitu menikmati gambar-gambar dalam komik yang dibacanya. Beberapa komik yang dibuat oleh komikus terkenal pada masa itu seperti Jan Mintaraga, Tegus Santosa, Ganes TH,  dan RA Kosasih habis dibacanya. Kalau dihitung mungkin sudah ratusan judul komik yang sempat dibacanya. Tentu saja cukup banyak juga uang jajannya yang habis dipakai untuk menyewa komik. Hobi membaca komik ini terus berlangsung hingga WJL menamatkan pendidikan SMA-nya.

Kata orang, masa SMA itu adalah masa yang paling indah untuk dikenang. Setiap orang tentu punya kenangan tersendiri, begitu juga dengan WJL. Kala itu dirinya sempat diajar oleh seorang guru yang kebetulan juga sebagai seorang seniman Lampung yang cukup dikenal, yaitu Pak Nurbaito. Melalui gurunya ini WJL banyak menimba ilmu tentang seni lukis dan mempraktekkannya. Salah satu hasil karyanya ketika itu adalah sebuah komik silat  berjudul “Jalan Setapak“.

Pak Nurbaito menurut wani adalah pigur guru yang baik dan rendah hati. Pria lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta itu dikenal sangat piawai mengolah cat diatas kanvas dengan gaya lukisan realis klasik Eropa. Karya lukis Pak Nurbaito begitu hidup, indah dan sangat menarik sehingga banyak yang laris terjual. Hal ini telah membuat ekonomi keluarganya jauh lebih baik dibandingkan guru-guru lainnya. WJL begitu terobsesi dengan kesuksesan gurunya tersebut sehingga berniat untuk mengikuti jejaknya sebagai seorang seniman sejati.

Karya lukis Wani jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Meskipun Pak Nurbaito termasuk pelukis terkenal di daerahnya dan juga sebagai seorang guru, namun dirinya tidak pernah menganggap WJL sebagai muridnya, melainkan dianggapnya sebagai teman. Hal ini tambah membuat WJl semakin kagum dan hormat padanya. Ada nasihat gurunya ini yang selalu terngiang-ngiang ditelinganya dan tidak bisa dilupakannya adalah “Kalau kamu mau sukses menjadi seoang pelukis, jangan pernah berhenti berkarya, rajin berlatih dan terus belajar. Kalau ini terus kamu lakukan, maka kesuksesan akan datang dengan sendirinya.”

Selepas SMA, WJL memberanikan diri merantau ke Kota Cimahi, Jawa Barat. Semula dia bekerja sebagai buruh kecil di beberapa perusahaan. Keluar masuk kerja baginya merupakan hal biasa, disamping untuk mencari penghasilan yang lebih baik, juga untuk mencari pengalaman. Baginya, mencari rezeki yang halal itu penting, walau penghasilannya tidak seberapa dan harus mempertaruhkan tenaganya. Dia selalu berpikir agar tetap bisa bertahan hidup di tanah rantau.

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Atas prakarsa seorang teman baik, WJL dikenalkan dengan pelukis senior Kota Cimahi yang  terkenal dengan julukan “Pelukis Naga” yaitu Pak Priyadi. Beliau adalah pendiri sekaligus sebagai Ketua Yayasan Pilar Seni Indonesia (YAPSI). Selama  kurang lebih 3 bulan WJL menimba ilmu dari pelukis beraliran realis tersebut. Selama proses belajar tersebut, beberapa karya WJL laris terjual sehingga membuat semangat berkeseniannya semakin tinggi. Bahkan hasil penjualan luksan karyanya jauh lebih tinggi dibandingkan gajinya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan.

Sebagai seorang murid, WJL begitu menghormati pak Priyadi sebagai gurunya. Apalagi terbukti beberapa hasil karya lukisan Pak Priyadi yang begitu indah dan bernilai seni tinggi sudah berhasil terjual dengan harga yang cukup tinggi dan dikoleksi oleh kolektor Indonesia maupun manca negara. Kehidupan Pak Priyadi yang begitu mapan sebagai seorang seniman membuat WJL jadi semakin tergoda untuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang seniman sejati. Akhirnya dengan tekad bulat WJL  berani mengambil keputusan keluar dari tempatnya bekerja dan total berkiprah sebagai seorang pelukis.

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Dari Pak Priyadi, WJL banyak sekali mendapatkan ilmu dan pengalaman, sehingga dirinya semakin percaya diri dan semakin matang dalam berkesenian. Pesan penting dari Sang Pelukis Naga yang tidak terlupakan olehnya adalah “Seniman harus bekerja keras dan selalu kreatif dalam berkarya. Jangan mudah menyerah dan menganggap diri sendiri rendah. Bersikap jujur dalam berkarya dan jangan menjadi plagiat. Karya yang orisinil, unik dan khas bisa membuat seorang seniman mempunyai indentitas tersendiri sehingga suatu saat bisa menjadi seniman terkenal dan sukses.”

BERKARYA DAN BERKREASI

Kalau anda hanya mengenal WJL dijalanan, tentu anda tidak akan mendapatkan informasi yang utuh tentang dirinya. Sosoknya ternyata bukan pelukis jalanan biasa dan jangan dipandang dengan sebelah mata. Pelukis berpenampilan metal ini ternyata punya segudang aktivitas dalam berkesenian. Dirinya tidak hanya mangkal dijalanan, namun ada juga aktivitas lainnya yang luput dari perhatian.

WJL pernah membuat heboh para seniman lukis ketika dirinya ikut berpartisipasi dalam sebuah ajang pameran lukisan bersama di Topas Gallery, Bandung. Ketika itu dirinya memajang karya lukisnya dengan harga yang paling tinggi. Tentu saja ulahnya ini sempat mebuat perbincangan dikalangan seniman, baik bernada positif maupun negatif. Tetapi WJL tidak ambil pusing. Walaupun lukisannya tidak laku terjual dan menuai banyak kritikan, namun setidaknya apa yang dilakukannya telah membuat namanya terdongkrak naik. Ya, itulah Wani Jaya Langit.

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Karya lukis Wani Jaya Langit (Sumber : koleksi pribadi)

Menurut WJL, dalam berkarya sebaiknya seorang seniman memiliki tanggug jawab. Setiap karya lukis yang diciptakan harus mempunyai makna dan tidak sekedar goresan cat diatas kanvas. Oleh karena itu kualitas karya, makna yang hendak disampaikan dan keasliannya harus menjadi prioritas utama dalam berkesenian. Sebauh karya seni harus mencerminkan prilaku si pelukisnya, sehingga karya dan pelaku seninya berpadu menjadi satu kesatuan yang utuh.

Dari beberapa pamean lukisan bersama yang pernah diikutinya, WJL mendapat banyak pelajaran. Dirinya bisa mengamati dan belajar dari karya rekan-rekannya sesama seniman. Berbagai teknik melukis yang semula tidak dikuasainya bisa diperoleh dari hasil pergaulannya dengan seniman lain.

Bersama para seniman Kota Cimahi, pada 2010 WJL ikut mendirikan organisasi Forum Pelukis Cimahi (FORKIS). Dirinya sering berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh organisasi tersebut. Selain pameran lukisan, dirinya juga pernah unjuk kebolehan seperti body painting, aksi teaterikal menggunakan pakaian dari kertas koran dan lain sebagainya.

Mimpi berpameran tunggal baru berhasil diwujudkan oleh WJL pada 2011 silam. Acara bertema “Aku, Akar, Air dan Benih” yang dilaksanakan di Gedung DPRD Kota Cimahi ini berhasil terlaksana dengan meriah dan diliput oleh beberapa wartawan cetak dan elektronik.  Kegiatan ini merupakan pintu gerbang bagi dirinya untuk meraih kesuksesan yang lebih besar.

Pada 2012 WJL ikut berkiprah dalam keggiatan performance art  bertema ” Sembunyi Setelah Lelah ” di Cimahi dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 10 Kota Cimahi. WJL juga pernah ikut memeriahkan acara Grand Opening Gedung Historich Cimahi dan terlibat dalam kegiatan lelang lukisan.

Di tahun 2013 ini Wani Jaya Langit sedang mempersiapkan diri untuk mengadakan gelar pameran lukisan di Gedung Historich Kota Cimahi berduet dengan rekannya Agus Hamdani.

Satu lagi mimpi WJL yang belum terwujud adalah ingin mengadakan Pameran Tunggal di 50 Kota Besar di Indonesia. Dirinya kini sedang mencari sponsor yang bersedia berkolaborasi untuk mewujudkan mimpinya tersebut.

***

J. Haryadi
Penulis buku Best Seller : “Dahsyatnya Sabar, Syukur dan Ikhlas Muhammad SWT” yang diterbitkan oleh penerbit Ruangkata – Bandung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: