HARTA BUKAN SEGALA-GALANYA

Gambar

Sumber gambar : http://vps-hosting.bestreviews.net

Oleh : J. Haryadi

Aktivitas manusia di dunia ini semakin hari kian bertambah sibuk. Cobalah lihat saat pagi hari, ribuan kendaraan mulai bertaburan dijalan raya. Mereka semua berlomba mengejar waktu untuk segera sampai ke tujuannya masing-masing. Apa sebenarnya yang mereka kejar ? Tentu saja sebagian besar demi uang, karena dengan benda yang satu ini, semua keinginan manusia dengan mudah bisa dipenuhi.

Asiknya berburu materi terkadang melupakan hakikat membina rumah tangga. Suami dan istri sama-sama bekerja, sementara anak dibiarkan dikelola oleh pembantu rumah tangga. Mereka berpikir asuhan anak cukup dilakukan oleh pembantu, karena uang adalah hal utama bagi rumah tangganya. Jika banyak uang, semua keinginan  anak bisa dipenuhi. Sayangnya mereka lupa, kasih sayang orangtua itu tidak bisa dibeli, melainkan memerlukan pengorbanan. Anak butuh belaian kasih sayang, perlu sentuhan, perlu bimbingan, perlu didikan dan perlu kedekatan langsung dari orangtuanya. Jika orangtua salah dalam mendidik anaknya dan hanya mengandalkan pembantu dan gurunya di sekolah, maka jangan salahkan Tuhan jika suatu saat kita menuai hasil yang tidak sesuai dengan harapan.

Seorang pria berumur tujuh puluhan yang juga merupakan kenalan penulis berkisah tentang kesuksesannya dalam bisnis. Asetnya ada dimana-mana, baik berupa tanah, bangunan (property), saham, barang beharga (emas, intan dan berlian), kendaraan dan benda-benda mahal lainnya. Saat  penulis mengajak bicara tentang anaknya, dia mulai bicara dengan nada yang datar, kurang bersemangat dan sedih.

Pria tua bertubuh kekar yang masih sehat dan sanggup lari 5 km disiang hari itu mulai bercerita tentang anak-anaknya. Dia mempunya dua anak, satu laki dan satu perempuan. Anak yang perempuan disekolahkannya sampai S-2 di Amerika, lalu kerja di sebuah perusahan perhotelan kelas dunia. Jangan ditanya berapa gajinya, karena standar di Amerika gajinya ribuan  dolar.

Anak perempuan kesayangannya ini akhirnya menikah dengan pria Prancis. Semula kenalan penulis tidak mengizinkannya, namun karena calon suaminya mau memeluk agama Islam, akhirnya pernikahan pun dilangsungkan. Sayangnya, suami anak perempuannya itu tidak mendapatkan bimbingan agama Islam ketika jadi mualaf, karena anak perempuannya pun jarang melaksanakan sholat, alias Islam KTP.

Suatu saat anak perempuan dan menantunya itu pindah ke Indonesia dan mendirikan perusahaan hotel sendiri. Pengaaman anak perempuannya yang sebelumnya pernah bekerja di beberapa hotel Internasional diterapkan dengan baik, sehingga perusahaan mereka cepat maju dan berkembang. Sayangnya ada kebiasan menantunya itu yang tidak baik, yaitu senang sekali berpesta, suka minum minuman beralkohol sampai mabuk-mabukan. Rumah tangga mereka tidak harmonis, walau bergelimang harta, namun mereka sering bertengkar, bagai menginjak bara api.

Pernah suatu kali kenalan penulis datang untuk menasehati menantunya, namun pria yang masih jadi warga negara Prancis tersebut justru marah dan tidak terima. Kenalan penulis diminta untuk tidak mencampuri rumah tangganya, bahkan tega mengusirnya saat itu. Hal itu membuat mereka bertengkar hebat dan akhirnya kenalan penulis pulang dengan hati yang terluka. Ketika bercerita mengenai kejadian ini, kenalan penulis sempat meneteskan air matanya.

Lalu anak kenalan penulis yang pria semula termasuk anak yang nakal. Kalau sekolah suka mabal (kabur dan tidak masuk sekolah). Kerjanya hanya meminta uang dan menghabiskannya dengan berpoya-poya dengan rekan-rekannya. Akhirnya anaknya ini dipindahkan sekolah ke Jepang yang terkenal disiplin. Walaupun harus mengeluarkan biaya sebesar 15 juta sebulan, baginya tidak mengapa, yang penting anaknya bisa berubah dan maju pendidikannya.

Bersyukurnya dia, anak lelakinya ini ternyata bisa berubah. Di Jepang prestasinya meningkat, sehingga kenalan penulis terus menyekolahkannya hingga S-2. Sayangnya, walau disekolahkan tinggi dan berprestasi, anaknya ini tidak dibekali agama yang cukup, sehingga jarang sekali melaksanakan sholat. Berita terakhir, sang anak akan kawin dengan gadis Jepang yang tidak beragama. Calon istri anaknya tidak percaya dengan agama, baginya berbuat baik, jujur, konsisten dan santun terhadap orang lain sudah cukup. Ketika calon istrinya itu diajak pindah ke agama Islam sebagai syarat perkawinannya, dia menjawab bahwa dirinya sudah Islam, karena apa yang dianjurkan oleh Islam sudah dilaksanakannya. Tentu saja selain sahadat,  sholat lima waktu dan puasa.

Semula kenalan penulis memutuskan untuk tidak merestui pernikahan anak laki-lakinya itu, namun istri kenalan penulis yang juga kurang pendidikan agamanya menyetujuinya. Mereka berdua akhirnya bertengkar, semua demi sayang terhadap anak. Akhirnya kenalan penulis mengalah dan tidak bisa berbuat banyak kecuali mengikuti saran istrinya. Sampai disini bercerita kenalan penulis kembali meneteskan air matanya. Dia mengatakan bagaimana  pertanggungjawaban dirinya nanti terhadapa anak-anaknya di akhirat ketika dirinya sudah dipanggil menghadap Allah SWT.

Mengapa kenalan penulis begitu kecewa? Bukankah kenalan penulis ini sudah sukses dari segi materi ? Oh, ternyata harta bukanlah segala-galanya. Setidaknya hal itu yang bisa penulis simpulkan ketika selesai berbicara dengannya. Dia bahkan berniat akan menghibahkan seluruh hartanya untuk anak yatim piatu, bukan kepada kedua anaknya. Dia merasa telah gagal mendidik anak, karena anak-anaknya sejak kecil dimanja dengan harta dan tidak dibekali dengan pendidikan agama yang cukup.

Semoga bermanfaat

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: