Kiat hidup Hemat Ala Anak Kos

Anak kos sedang makan (ilustrasi)

Anak kos sedang makan (ilustrasi)

Oleh : Jumari Haryadi

Kehidupan mahasiswa sangat indentik dengan kehidupan anak kos. Maklum, kebanyakan mahasiswa adalah para perantau yang berasal dari luar kota dan jauh dari orangtuanya. Tentu saja bagi orang yang mempunyai keluarga atau saudara, bisa numpang tinggal di tempat mereka. Namun dengan pertimbangan ingin bebas dan ingin belajar mandiri, kebanyakan mahasiswa lebih memilih kos ketimbang tinggal di tempat saudara.

Kehidupan sebagai anak kos pernah saya rasakan sekitar 28 tahun yang lalu. Ketika itu, setamat SMA saya pergi ke Bandung untuk meneruskan kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta. Sebagai pendatang baru, saya harus banyak belajar dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Mencari tempat kos adalah pengalaman yang cukup melelahkan. Maklum, dengan dana terbatas saya harus mencari tempat kos yang murah meriah namun layak ditempati. Tentu saja sulit mencari tempat yang sesuai dengan keinginan. Akhirnya saya menyewa kamar kos berukuran 2,5 m X 3 m di sebuah perkampungan yang cukup padat penduduknya. Letaknya tidak jauh dari sungai kecil tempat orang membuang saluran air kotor.  Demi penghematan, kamar tersebut saya isi berdua dengan teman yang kebetulan sama-sama merantau.

Bagi orang yang berasal dari sebuah kota kecil dan bukan berasal dari keluarga kaya seperti saya, kehidupan kos di kota besar benar-benar butuh perjuangan. Saya harus siap hidup dengan fasilitas minim dan harus pandai menghemat pengeluaran. Apalagi jatah bulanan sudah dipatok pas-pasan, hanya cukup untuk makan, ongkos ke kampus dan keperluan rutin seperti sabun, odol dan keperluan kecil lainnya.

Rumus hidup hemat musti ada dalam otak anak kos seperti saya. Misalnya sarapan pagi, cukup dengan mie instan rebus dan sebutir telur. Kalau sedang buru-buru, mie tersebut tidak direbus, melainkan diremas-remas, lalu dibuka bungkusnya. Kemudian bumbunya dimasukkan ke dalam bungkus mie, lalu diseduh dengan air panas dari termos dan diikat dengan tali karet. Biarkan sekitar 2-3 menit, maka mie rebus ala koboi tersebut sudah siap disantap. Jangan ditanya rasanya seperti apa, yang penting lumayan buat ganjal perut di kala darurat.

Kalau makan siang, jangan coba-coba makan di warung Padang, harganya pasti lebih mahal. Biasanya saya memilih makan di kantin kampus atau di warung tegal (warteg) yang dijamin murah. Saya  harus pintar-pintar memilih makanan. Resep makan murah sudah saya dapatkan, belajar dari senior kampus yang sudah berpengalaman. Cukup nasi putih, satu jenis sayuran plus satu jenis lauk, misalnya telor atau ikan. Kalau mau tambah lauk paling banter tempe atau tahu yang harganya dijamin murah. Sedangkan untuk menyiasati rasa, biasanya saya minta kuah sayur daging ayam atau daging sapi, ditambah sambal dan lalapan.

Kalau nasib lagi beruntung, kadang-kadang saya bisa makan bersama teman kuliah yang koceknya tebal. Saya biasanya mencari teman anak orang kaya namun orangnya malas belajar. Saya sering mengajari materi kuliah yang dianggapnya sulit. Kalau ketemu dia, bisanya sering mengajak makan bersama. Tentu saja dia yang bayar. Lumayan bisa menghemat untuk sekali makan, sehingga uangnya bisa disimpan atau dialihkan untuk makan malam.

Kehidupan mahasiswa yang dinamis dengan berbagai aktivitasnya, terkadang membuat hidup saya menjadi tidak teratur. Maklum belum terbiasa dengan irama hidup seperti ini. Kalau sedang banyak tugas, tidurpun larut malam, akibatnya bangun pagi sering kesiangan. Kalau sudah begini, habis mandi langsung berangkat kuliah, tanpa sempat sarapan dulu. Makan siang pun kadang telat, sehingga perut kadang melilit menahan lapar. Kalau sudah begini, makan siang bisa dimana saja, tidak peduli tempatnya bersih atau tidak, yang penting harganya murah dan bisa menghilangkan rasa lapar.

Akibat makan yang tidak teratur dan kurang menjaga kebersihan, saya pernah terkena penyakit gejala tipes (typus) . Awalnya badan terasa deman, terutama di malam hari. Anehnya, jika pagi badan terasa agak enak, sehingga saya gunakan untuk berolah raga biar keluar keringat. Semula saya hanya pakai obat warung, karena saya pikir hanya gejala flu biasa. Dampaknya ternyata fatal, penyakit tambah parah sampai saya tidak bisa berjalan dan terpaksa dibawa ke dokter oleh ibu kos. Dokter menyarankan saya agar di opname karena penyakitnya sudah agak parah.  Terpaksa orangtua di telegram oleh ibu kos (waktu itu belum ada handphone seperti sekarang) agar beliau segera datang ke Bandung membesuk saya.

Kisah lainnya adalah urusan pakaian. Biasanya pakaian kotor tidak langsung dicuci dengan alsan sibuk (padahal malas ..he..he..he.). Saya mencuci pakaian setiap 2-3 hari sekali. Pakaian yang sudah dicuci kadang digosok kadang juga tidak. Kalau sedang malas, biasanya pakaian itu saya lipat, lalu disimpan dibawah kasur. Biarkan 1-2 hari, dijamin pakaian tersebut rapi seolah-olah sudah digosok. Tentu saja hasilnya tidak akan serapi di strika, tetapi bagi mahasiswa kos seperti saya, itu sudah lebih dari cukup.

Ada lagi cara sakti menghemat biaya ke kampus yang kebetulan jaraknya cukup jauh dan harus menggunakan kendaraaan umum. Kebetulan saya punya sahabat satu kampus yang tempat kosnya agak berjauhan, berjarak sekitar 1 km. Teman tersebut anak orang berada sehingga dia kuliah memakai kendaraan bermotor. Saya harus rela jalan kaki ke rumahnya sekitar 5-10 menit, melewati gang-gang sempit.  Lalu kami berangkat bersama dan saya dibonceng dibelakang. Pulangnya kadang-kadang barsama, kadang-kadang tidak, tergantung kesibukan kami masing-masing. Kalau kebetulan sama-sama tidak sibuk, biasanya kami pulang lagi bersama. Lumayan bisa menghemat ongkos kuliah, namun tentu saja semua itu bisa terjadi karena persahabatan kami berjalan dengan baik.

Saya teringat nasihat almarhum Ayah saya ketika pertama akan merantau ke Bandung. Beliau mengatakan agar saya agar selalu menjalankan ibadah, bisa menjaga diri dan pandai-pandai bergaul dengan siapa saja. Beliau juga mengajarkan saya agar memegang prinsip seperti pepatah “Dimana bumi dipijak, disitu langit kita junjung”. Artinya, saya diminta untuk bisa menghargai adat-istiadat penduduk setempat dimanapun saya berada. Kalau saya pandai bergaul dan bisa menghargai orang lain, Insya Allah saya akan mempunyai banyak teman dan saudara dan hidup saya tidak akan susah. Begitulah nasihat beliau.

Nasihat orangtua tersebut saya terapkan dan hasilnya ternyata sangat dahsyat sekali. Akibat pergaulan, akhirnya saya mempunyai banyak teman. Ketika ada teman yang terlambat menerima kiriman uangnya, saya rela berbagi uang jatah bulanan saya untuk dipinjam olehnya, walau jumlahnya sebenarnya sangat terbatas. Namun ketika saya mengalami hal yang sama, banyak juga teman yang bersedia membantu kesulitan saya.

Hubungan yang baik dengan ibu kos dan keluarganya ternyata juag berdampak positif. Sering kali saya diajak makan bersama, terutama ketika malam hari. Awalnya saya menolak, tapi lama-lama tidak enak juga karena mereka mengajaknya dengan ikhlas. Sebagai timbal baliknya, saya sering mengajar anaknya yang ketika itu masih duduk dibangku Sekolah Dasar. Ketika kiriman bulanan telat, ibu kos memberikan kelonggaran kepada saya untuk menunggak pembayaran. Bahkan lucunya, dia bahkan rela meminjamkan uangnya juga untuk dipakai ongkos ke kampus dan keperluan lainnya. Tentu saja ketika kiriman uang sampai, saya langsung memperioritaskan membayar hutang tersebut agar kepercayaan tidak luntur. Sampai saat ini hubungan saya dan keluarga ibu kos masih berjalan dengan baik, bahkan kami sudah seperti keluarga.

Kisah diatas tentu saja pengalaman pribadi yang tidak semuanya bisa ditiru melainkan sebagai bahan pelajaran. Bagi mahasiswa yang sekarang hidup sebagai anak kos dan bagi anak-anak SMA kelas XII yang sebentar lagi menjadi anak kos, saya memberikan nasihat sebagai berikut :

  1. Setahun sebelum kos, sebaiknya belajar masak, mencuci dan menggosok baju sendiri di rumah.
  2. Kalau sudah merantau dan kos di kota lain, sebaiknya mau menghargai adat istiadat setempat.
  3. Perluas pergaulan dengan berbagai kalangan. Cara agar Anda mempunyai banyak teman itu mudah, yaitu:  bisa menghargai orang lain; jangan menyinggung perasaan orang lain, mau menerima kekurangan orang lain, dan bisa menjadi pendengar yang baik.
  4. Jangan pelit dan tapi jangan juga boros. Jika ada teman yang sedang mengalami kesulitan, berikan bantuan semampu Anda
  5. Belajar hemat dan jangan membeli sesuatu yang tidak penting. Pergunakan uang bulanan hanya untuk keperluan kuliah.
  6. Jangan bergaul dengan orang yang salah. Jika teman kita sepertinya lebih banyak negatif dari pada positifnya, sebaiknya jangan didekati, kecuali jika Anda mampu mempengaruhinya untuk berbuat kebaikan.
  7. Rajin berolah raga secara rutin dan Jaga kesehatan. Usahakan jangan telat makan dan jangan makan di sembarang tempat. Kalau perlu bawa makanan seperti roti untuk cadangan kalau tiba-tiba perut tidak bisa diajak kompromi, sehingga tidak makan disembarang tempat.
  8. Rajin beribadah dan berdoa agar segala urusan menjadi mudah dan mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Semoga bermanfaat.

***

Advertisements

2 responses

  1. Hi. Wow menarik artikel ni… tahniah admin.

  2. sya mulai kelas X SMA sudah kost, tapi seru juga ternyata nge kost bisa ngambil banyak pengalaman , ada suka duka nya juga…hehehe#salamAnakKost

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: