Cerpen : Setan diantara Malaikat

SETAN DIANTARA MALAIKAT

Oleh : Fika Faila Sufa

Pukul 10 malam, jalanan di Yogyakarta tidak terlalu ramai. Suasana terasa lenggang. Sisa hujan yang tadi turun masih terlihat dijalanan. Kubang air hujan yang membentuk danau kecil ditengah-tengah aspal jalanan yang berlubang, menjadi saksi bisu hasil kinerja pemborong nakal yang menggunakan aspal murahan. Padahal semua tahu, pemerintah sudah menganggarkan uang rakyat yang tidak sedikit untuk membangunnya. Semua ini tentu hasil kong kalingkong antara oknum aparat pemerintah dengan pemborong tersebut.

Perut Dino berbunyi pertanda lapar. Mencari warung makan yang masih buka bukanlah perkara sulit. Sebagai kota pelajar tentu masih banyak warung makan yang buka hingga tengah malam. Beberapa warung nasi  dengan “harga kaki lima tetapi rasa bintang lima” banyak bertebaran pinggir jalan. Faktanya, rasa enak ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan harga mahal. Terbukti sangat banyak warung nasi di Yogyakarta ini yang menawarkan paket nasi dengan harga yang terjangkau dompet mahasiswa.

Motor distater, dan Dino langsung meluncur menuju warung nasi bu Menik, menembus dinginnya malam yang menusuk tulang. Jarak tempuh warung itu tidak begitu jauh lama, hanya sekitar 10 menit perjalanan. Namun siapa yang menyangka, perjalanan singkat itu merupakan awal dari perjalanan panjang tentang kesabaran, kesakitan, dan tentang hidup yang ternyata sangat berharga.

Dino memang mempunyai sedikit masalah dengan mata. Sinar lampu kendaraan yang menyilaukan mata dari lawan arah berlawanan,  sungguh sangat menyiksa dirinya. Tetapi apa boleh buat, satu-satunya penawar rasa lapar perutnya adalah makan di warung bu Menik. Apalagi jika mengingat sambal terasi bu Menik yang begitu enak, sangat jelas terbayang dipelupuk matanya, membuat selera makannya kian bertambah, sehingga ingin cepat-cepat sampai ke tujuan. Toh hanya sebentar dan tidak jauh, pikirnya. Sambil berkendaraan, pikirannya melayang jauh membayangkan kelezatan sambal bu Menik.

Sudah menjadi kebiasaan, Dino dan teman-temannya sering bercanda kepada bu Menik kalau sedang makan diwarungnya.

Sambalnya diludahin dulu ya Bu sebelum diuleg..ha..ha..ha ?” begitu gurau Dino dan teman-temannya.

Meskipun sambal buatan bu Menik hanya memakai bahan cabe, bawang, terasi dan tomat seperti warung yang lain, tetapi tetap saja rasanya sangat enak. Mungkin kelezatan sambal ini juga yang membuat Pak Bondan, mantan Kepala Desa di kampung Dino yang harus rela masuk ke gang sempit itu untuk menemui bu Menik.

Belum sempat Dino sadar dari lamunannya, tiba-tiba dia mendengar suara berdecit, yang membuatnya menekan rem untuk berhenti mendadak. Suara ban yang beradu dengan permukaan aspal, diiringi dengan suara benturan yang sangat keras, terdengar memekakkan telinga. Suasana kemudian terasa hening sejenak.

Dino merasakan malam disekitarnya tiba-tiba berubah menjadi lebih gelap dan dingin. Dia tidak sadarkan diri untuk beberapa saat. Ketika sadar, dirinya merasa bingung, mengapa begitu banyak orang-orang berkumpul mengelilingi dirinya. Namun tubuhnya masih begitu lemah dan sulit sekali untuk bersuara. Susah sekali untuk mengucapkan sepatah katapun, tangannya hanya mampu bergerak, menunjuk sesuatu.

Samar-samar Dino sempat mendengarkan suara-suara asing di sekitarnya, “Hpnya mana, cek dompetnya, orang mana ini?.

Entah benar atau tidak. Sepertinya Dino berhasil menjawab semua pertanyaan orang-orang itu.

Ach, lampu itu lagi,” pikir Dino sambil memicingkan matanya yang masih terasa sakit jika melihat cahaya lampu yang tajam. Tapi kali ini berbeda ! Ini bukan lampu kendaraan seperti yang dilihatnya terakhir sebelum dia tertidur.

Dino melihat ke sekelilingnya. Tidak ! Ternyata dia tidak tertidur. Ini jelas-jelas bukan kamarnya. Cat tembok putih, tabung oksigen dan alat-alat asing yang pernah dilihatnya ketika di Rumah Sakit, semuanya ada disana. Dia berusaha memaksakan tubuhnya untuk bangun, namun gagal lagi. Bahkan untuk mengangkat kepalanya saja dia  tak sanggup.

Tidak jauh dari tubuh Dino yang hampir mati rasa, terdapat sebuah kabel putih dengan tombol merah diujungnya. Sementara itu ada sedikit pemandangan yang aneh pada jari tangannya. Bentuknya terlihat tidak seperti biasanya, namun dia berusaha mengacuhkannya. Dia tidak sempat berpikir seburuk apa keadaan keempat jari kanannya itu. Hanya dengan sedikit gerakan sederhana,  akhirnya dia berhasil memencet tombol disampingnya.

Sambil menunggu perawat datang, pandangan mata Dino terus menatap ke arah pintu. Napasnya berhenti sejenak ketika melihat handle pintu bergerak, menunggu dengan tegang siapa gerangan yang muncul. Lalu terlihat seorang gadis berseragam putih, berwajah cantik alami, sederhana, dengan dandanan yang wajar, tanpa make up yang berlebihan, tersenyum menuju kearahnya.

Selamat malam, boleh tahu siapa nama mas?”, tanya suster itu dengan nada lembut.

“Dino …,” jawab Dino, dengan suara sedikit serak. Maklum tenggorokannya sakit ketika berbicara.

Rupanya suster itu tahu penderitaan yang sedang dialami Dino. Diambilnya air putih yang ada dimeja, lalu dibantunya Dino meneguk air putih itu melalui sedotan.

Ma’af, apakah Mas Dinomasih  ingat dengan kejadian tadi?

Tidak … !,” Jawab Dino singkat.

Tampaknya Dino masih belum begitu menyadari dengan apa yang telah menimpa dirinya. Dia masih bingung dengan bentuk jari kanannya yang aneh, tabung oksigen yang ada di sampingnya, dan ruangan kamar tempat tidurnya. Lagi-lagi suster itu tersenyum. Kali ini sepertinya dia ingin lebih akrab dengan Dino. Kursi dipojok ruangan itu ditariknya mendekati sisi ranjang tempat Dino berbaring.

Tadi Mas Dino mengalami kecelakaan.Ada bebrapa orang yang mengantar mas Dino ke Rumah Sakit ini. Sepertinya mereka adalah warga disekitar lokasi kecelakaan.

Dino berusaha mencerna tiap kata deni kata suster itu. Otaknya terus berusaha memunculkan memori tentang kejadian yang baru saja dialaminya. Sayangnya usahanya  sia-sia belaka.

Kami sudah melakukan tindakan darurat, tetapi untuk operasi kami harus menunggu pihak keluarga Mas Dino. Yach …termasuk jari itu,” tutur Suster itu, seolah-olah tahu kegelisahan Dino yang melihat keempat jarinya sedikit bengkak, memerah, dan tidak dapat digerakkan.

Kami agak kesulitan untuk menghubungi teman atau saudara mas Dino, karena kami tidak menemukan dompet maupun telepon seluler mas Dino. Atau memang tadi mas Dino tidak membawa dompet dan HP?”, kata Suster itu panjang lebar.

Sepertinya saya tadi bawa HP Sus ….,” kata Dino dengan suara lemah, sambil memejamkan matanya, berusaha mengingat-ingat kejadian 3 jam yang lalu.

Saya ingat ! Tadi saya bawa HP Sus. ,” lanjut Dino setengah berteriak,  membuat suster tersebut sedikit kaget. Dia ingat, sebelum keluar rumah, dia sempat mengantongi uang 20 ribuan dan sebuah HP.

Tapi  HP itu tidak dibawa serta ketika mas Dino diantarkan ke Rumah Sakit. Kira-kira ingat tidak nomor keluarga atau teman yang bisa dihubungi untuk mengabarkan keadaan mas Dino?.

Dino kembali berpikir keras. Ya ampun, susah sekali dia mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Sekarang dia dipaksa untuk mengingat 11 digit nomor secara acak. Ya Tuhan… jerit Dino dalam hati. Suster memandang Dino dengan tatapan prihatin. Seandainya saja dia bisa menolong Dino untuk mengingat nomor Handphone keluarga atau seseorang yang dikenal Dino, tentu dia akan melakukannya.

Dalam diam Dino berpikir keras. Otaknya mulai bekerja, berusaha menyusun angka-angka yang dia kenal, namun tampaknya sulit sekali. Nomor kakaknya, adiknya, ibunya, seolah-olah sudah berada diujung pikiran, namun sama sekali tidak berhasil diingatnya.  Suster tahu apa yang dirasakan Dino sehingga  dia tidak berusaha terus memaksanya.

Pelan-pelan saja Mas …..coba diingat-ingat sambil tiduran saja.

Dengan mata masih terpejam, mulut Dino masih komat-kamit mencoba kombinasi angka yang dia kenal. Suster itu tidak tega melihat usaha yang dilakukannya. Orang normalpun pasti akan kesulitan untuk mengingat nomor telepon, apalagi orang yang baru saja terkena kecelakaan.

Sudah sering Suster Ratna menyaksikan kejadian seperti itu. Bukan kali pertama ini saja ada pasien korban kecelakaan yang kehilangan barang-barang berharganya ketika terjadi kecelakaan lalu lintas. Ada saja tangan-tangan Setan yang mencuri kesempatan, bergerak diantara malaikat yang menolong korban kecelakaan. Korban kecelakaan yang sungguh malang, seperti kata pepatah, “sudah njatuh ketimpa tangga” pula.

Sungguh aneh sifat manusia yang tidak bermoral. Disaat ada orang yang sangat membutuhkan pertolongan dengan segera, tetapi justru malah mencuri kesempatan. Biasanya perbuatan ini dilakukan ketika korban kecelakaan tidak sadarkan diri.

Tangan setan diantara tangan-tangan malaikat. Ungkapan itu sepertinya pas untuk menggambarkan keadaan Dino malam itu. Padahal Handphonenya sudah pasti berisi data penting, diantaranya nomor anggota keluarga, kerabat maupun maunpun teman-temanya. Sungguh tega sekali orang yang mengambilnya.

Lagi-lagi suster Ratna hanya bisa protes dalam diam, tidak mungkin dia menceritakan kejadian lain yang hampir mirip dialami oleh korban-korban kecelakaan yang pernah ditanganinya.

Dino masih terlihat lemas dengan raut wajah memelas. deretan angka satu sampai dengan sembilan dia bolak-balik, bahkan sampe nol lupa harus ditempatkan dimana.

Usaha Dino akhirnya membuahkan hasil.

Suster saya ingat sekarang !Nomornya 08197888XXXX….! Itu nomor abang saya”.

Dino hampir memekik kegirangan membuyarkan lamunan keprihatinan suster Ratna tentang tangan setan diantara tangan malaikat.

Baiklah, ….tunggu sebentar ….,” jawab suster Ratna, sambil sibuk memencet nomor di HP-nya.

Suasana kemudian menjadi hening, seperti di kuburan.

Haloooo ….

Mata suster Ratna berbinar memandang Dino, mengirim isyarat ada yang menjawab diseberang sana.

“Iya halo …..

Mendadak suster Ratna gugup saking gembiranya.

Apa betul ini abangnya Dino? Kami dari Rumah Sakit Mutiara Putih.

Bukan, salah sambung ,” terdengar nada tut tut tut dari seberang sana. Suster Ratna memandang Dino dengan perasaan sedih.

Salah ya sus nomernya ?

Suster itu Ratna tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya.

Ya Tuhan tolong hambamu ini, pekik Dino dalam hati.

Engkau pasti menolong hambaMu yang meminta kepadaMu.

Dino memjamkan mata. Doa orang yang terdzalimi langsung didengar.

Suster!”, lagi-lagi Dino berkata hampir setengah berteriak.

Suster Ratna hampir terbiasa oleh sikap Dino yang heboh ketika berhasil mengingat nomor.

Belakangnya 90 bukan 09 ! ,” Kata Dino yakin.

Suster Ratna kembali mencoba memencet tombol keypad, kembali hening menunggu sepenggal kata dari seberang.

Halo, ini siapa?,” tanya suara diseberang telepon

Apa betul ini abangnya Mas Dino?”

Dino? maksud mbak Herdino?  Iya itu adik saya, ini dari mana?,” suara laki-laki itu terdengar sedikit cemas.

Kami dari Rumah Sakit Mutiara Putih, Pak..”

Belum sempat suster Ratna menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba lelaki diseberang telepon itu menyahut, “Dino kenapa? Ada apa dengan dia?”.

Suara laki-laki itu bergetar, dan suster Ratna benci menjadi pembawa berita buruk.

Dino sekarang sudah sadar, Pak ….dia sudah  bisa diajak berkomunikasi…

Saya ada di Medan sekarang,  coba mana Dino,  saya mau bicara ….,

Suster Ratna langsung menyerahkan handphonenya kepada Dino.

Mana yang kau rasa sakit No

Perutku, bang

Kepala kau gimana?

Kepalaku tak ada sakit, bang

Kau bisa duduk sekarang?

Tidak, bang, kepalaku pusing untuk duduk

Mana suster tadi, Abang mau bicara sama dia

Dino menyerahkan handphone itu kembali kepada suster Ratna.  Kemudian Suster itu keluar dari kamarnya. Ada beberapa hal penting yang ingin dibicarakan suster itu dengan abangnya tetapi tidak boleh di dengarnya.

Sebenarnya kondisi Dino bagaimana, sus? Parah?

Kami perlu CT-Scan Pak, tapi kami perlu tanda tangan dari pihak keluarga untuk menyetujui tindakan tersebut. Apakah ada saudara yang bisa dihubungi di Jogja?”.

Ada, sus. Nanti saya telepon adik saya yang ada di Jogja

Baik pak, akan kami tunggu

Terimakasih Sus, saya segera mengambil penerbangan untuk malam ini ke Jogja. Selamat malam Sus”

Selamat malam, Pak”.

Suster Ratna lantas menceritakan percakapannya tadi kepada Dino. Dino terlihat tenang, seperti anak hilang yang baru saja bertemu dengan ibu kandungnya. Suster Ratna juga tenang, satu masalah sudah selesai. Sekarang dia sedang menyiapkan mental untuk mengatakan keadaan Dino yang sejujurnya kepada keluarganya. Ada yang salah dengan kepala Dino, yang menjadi kekhawatiran utama suster Ratna adalah terjadi pendarahan di dalam.

Tidak berapa lama, saudara Dino datang, gambaran wajah panik terlihat jelas dari raut muka mereka. Akhirnya setelah tanda tangan, dokter segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Senyum kecil Dino sebelum masuk ruang operasi kepada suster Ratna menyisakan haru, ada rasa terimakasih dalam senyuman tanpa ucapan itu. Dan rasa yang sama menyelimuti kalbu suster Ratna, haru yang tidak bisa digambarkan dengan jelas ketika melihat korban kecelakaan seperti Dino. Diantara tangan-tangan malaikat yang menolong Dino, ada satu tangan setan yang mengambil handphone Dino. Sungguh tragis, jika mengingat ada yang tega melakukan itu kepada Dino, maupun korban-korban kecelakaan yang lain.

Mudah-mudahan kamu akan segera pulih, Dino,” kata suster Ratna dalam hati sambil menutup pintu kamar yang tadi digunakan oleh Dino.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: