Cerpen : “REMEMBER OF YOU”

Remember Of You ….

By : Retno Oktarini

Kulirik jam yang terbalut di tanganku,, sudah yang ke tujuh belas kalinya mungkin tapi jarum jam tak juga merapat ke pukul 16.00.  Padahal, mataku sudah tak sanggup lagi mendengarkan guru Fisika yang sibuk menjelaskan Hukum Newton III tentang aksi-reaksi (itu juga kalau aku tak salah dengar sieh … ya maklumlah !!! Dalam keadaan mengantuk seperti ini biasanya pendengaran agak kurang). Pelajaran siang ini juga hanya menambah pusing kepala yang sudah nyut,,nyutan dari tadi.

Hari ini aku sangat lelah. Gak tau kenapa seharian ini aku ngerasa keeeseeel bangets. Mulai dari tugas sekolah yang numpuk, dimarahi ortu gara-gara bulan ini aku minta uang jajan yang berlebihan (ya,,padahal yang aku minta cuma untuk keperluan sekolah tapi tetep aja di bilang aku boros). Gak cuma itu aku juga di tinggalin sama temen-temen entah karena masalah apa. Euhm,,,,, rasanya penuh bangets isi otakku. Kalo bisa aku pengen lari sekenceng-kencengnya ke hutan terus teriak sekeras-kerasnya……

Sekarang, percuma saja Bu Ina menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi tentang Hukum Newton. Aku yakin tak akan sanggup menangkap apa yang dijelaskannya, karena aku benar-benar gak ada mood untuk belajar. Yang harus aku lakukan sekarang adalah fokus mendengarkan, kalau-kalau bel tiba-tiba berbunyi. Setelah itu, aku akan segera melesat ke asrama dan menuju kamar tinggalku kemudian aku mau langsung merebahkan badanku yang sudah lelah setelah seharian sekolah di kasur, menyalakan kipas angin dengan volume sekencang-kencangnya sambil memutar Mp3 dengan lagu penghantar tidur and next, welcome to my dream !!!!!!!!!

***

Kenalkan namaku Effril. Sekarang aku berusia 18 tahun dan saat ini aku merupakan siswi salah satu Sekolah Menengah Atas di salah satu kota terbesar di Indonesia. Aku tidak tinggal bersama keluarga dan orang tuaku, karena mereka tetap berada di daerah asalku, sedangkan sekolahku berada di kota yang berbeda dengan kota asalku. Di sekolahku  sekarang terdapat  fasilitas berupa asrama dan merupakan kewajiaban bagi semua siswa untuk tinggal di sini. Tentu saja juga harus tinggal di asrama, seperti siswi-siswi lainnya.

Sebenarnya, masuk ke sekolah ini bukan keinginanku tapi keinginan ayahku. Bukan aku manja karena mengeluh harus berjauhan dengan keluarga dan teman-teman, tapi aku malas saja kalau harus beradaptasi dengan orang baru. Bisa di bilang aku tipe orang yang sangat susah beradaptasi dengan orang baru. Apalagi dulu yang aku dengar, bahwa sekolah  ini menerima peserta didik dari berbagai kota. Namun, rasanya tak mungkin menolak keinginan ayah yang begitu berharap, ya maklum aku adalah anak pertama,  jadi mungkin ayah berharap suatu saat nanti aku bisa membantu biaya untuk pendidikan adik-adikku selanjutnya.

***

“Tet,,tet,,,tet,,,tet….”

Suara bel sore itu terdengar sangat keras menyeruak ke seluruh bangunan di sekolah ini. Bahkan seakan-seakan dinding juga berteriak memberitahuku bahwa sudah wakunya aku pulang. Aku memasang telinga rapat-rapat, takut kalau salah dengar. Tapi aku yakin itu adalah suara bel sekolah, baru ku lirik jam tangan yang masih terbalut di tangan kiriku. Akhirnya aku dapat menarik nafas lega. Jarum jam tepat menunjukkan pukul 16.00, bel berbunyi dan tandanya aku dapat segera pergi menemui kasur tercinta, jadi gak sabar. Lagi pula aku juga sudah tak sanggup lama-lama berada di ruangan pengap, panas dengan dongeng yang tak berbobot sama sekali seperti ini.

Setelah pelajaran ditutup, tanpa ragu-ragu ku ambil tas dan secepat kilat berlari menuju pintu kelas, sebelum berebut dengan teman-teman yang lain. Saking tak sabarnya, Aku berlari sepanjang jalan menuju asrama. Di atas terlihat langit berwarna hitam yang menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Setelah terasa tak sanggup lagi kakiku berlari, aku mulai memperlambat langkahku. Dari kejauhan samar-samar sudah mulai terlihat bangunan kokoh, dengan banyak jendela dan dinding yang di cat warna merah marun, yang setiap hari menjadi tempatku melepas lelah (dalam sekejap aku sudah sampai di depan asrama. Tak ku sangka ternyata kakiku mirip atlit lari juga yang mungkin dapat meraih juara dalam ajang bergengsi Sea games kemarin! (wkwkwkwkwk …. narsis yew).

“Braaaakkkkkkkkk!!!!!!”

Sampai di kamar tanpa basa-basi aku rebahkan badan yang dari tadi sudah berteriak kelelahan di atas kasur yang dingin dan ya lumayan empuk walaupun jarang di jemur (hahahahahahaha… habis berat males gitu !). Tak lama, dalam sekejap saja mataku sudah sayup-sayup mulai menutup mengikuti alunan musik yang keluar dari mp3 yang sedang ku putar.

***

Belum juga genap 30 menit aku tertidur, aku dikagetkan dengan suara petir yang menyambar-nyambar dengan keras (seperti raksasa yang siap memangsa timun emas di dongeng masa kecilku) membuat siapapun yang sedang menyaksikan panorama alam itu akan ketakutan dan mungkin hendak berlari kencang untuk menghindarinya. Ku lihat dari jendela kamar, awan begitu tebal menyelimuti langit yang kehitam-hitaman. Tak lama kemudian, hujan mulai turun dengan sangat lebat, aku terpaksa bangun dari jam tidur yang terasa sangat cepat karena rasa kantukku sudah hilang.

Rasanya tak ingin membuka mata ini, tapi apa daya! Suara petir tadi mengagetkan aku dan memaksa mataku untuk tidak ngantuk lagi. Mp3 yang dari tadi menemaniku masih terus memutarkan lagu-lagu kesukaanku ( ya, walaupun gak pandai bernyanyi tapi aku suka banget sama yang namanya musik ). Sekarang giliran lagunya Av7 yang berjudul So far away meluncur dari MP3 Player tersebut.

Aku hanya duduk di atas tempat sambil menyanyi kecil mengikuti Mp3 yang tanpa lelah memutarkan lagu-lagu favoritku, meskipun sudah tidak mengantuk tapi rasanya sangat enggan kalau harus beranjak dari kasur kesayanganku ini. Mataku menerawang jauh keluar jendela, sambil menatap butiran air hujan yang jatuh dengan derasnya, menabrak genting-genting asrama menimbulkan keributan bagi serangga-serangga yang sedang berlindung dari guyuran hujan, terasa kompak sambil  diiringi sambaran petir yang menakutkan.

Gak tahu kenapa, tiba-tiba aku merasakan hal yang sangat aneh. Jantungku berdetak sangat cepat membuat dada ini terasa sesak untuk bernapas. Aku tertegun, terdiam, tak mampu bergerak sedikitpun mendengar lantunan lirik demi lirik lagu itu. Laksana air hujan yang di tumpahkan oleh langit, mataku pun sudah tak kuasa menahan lagi, ingin segera rasanya menumpahkan air yang sudah tak terbendung dikelopak mata. Akhirnya, Akupun sudah tak tahan lagi menahan. Tetes demi tetes air mataku mengalir membasahi pipi. Ya, aku menangis !

Mataku terus menerawang  jauh, mencoba mengingat-ingat, ada apa sebenarnya? kenapa mendengar lagu ini aku harus menangis ? Dan dalam sekejap aku tahu jawabannya.

Ehmmm, ya lagu ini mengingatkanku pada seseorang. Dia adalah Raka, mantan pacarku, karena saat aku menulis ini kami sudah berpisah. Dulu saat kami masih bersama, dia bukanlah hanya sekedar laki-laki yang menyandang gelar sebagai my lovely, my babby, my honey atau apalah yang dapat mencirikan bahwa dia adalah orang yang sangat berarti dalam hidupku, tapi lebih dari itu. Dia bisa menjadikan dirinya apapun bila sedang menghadapiku, kadang saat aku merasa sendiri dia berubah jadi teman, saat aku butuh tempat untuk bercerita mengenai masalah yang sedang ku hadapai diapun ada untuk menjadi seorang pendengar sejati. Saat aku  ingin pulang dia bisa jadi orang tuaku dengan cara menasehatiku bahwa untuk menjadi sukses itu perlu pengorbanan dan mungkin ini saatnya aku berkorban untuk meraih kesempatan itu. Dia sangat menyayangiku, begitu juga aku.

Aku sudah mengenal Raka sejak kelas 1 SMP. Waktu itu, kita sekelas. Gak tahu kenapa aku dan dia selalu terus bersama-sama. Dari mulai posisi tempat duduk yang berdekatan, terus selalu 1 tim kalau ada kerja kelompok (ya, walaupun aku memang lebih pintar dari Raka). Sampai akhirnya, Raka nembak aku, dia bilang kalau dia suka aku dan kita mutusin untuk pacaran. Tapi itu gak berlangsung lama, cuma 3 hari. Kita putus karena permintaan Raka, yang aku juga gak tahu juga apa alasannya.

Dari situ aku berusaha lupain Raka, tapi anehnya aku gak bisa, telalu sulit. Aku kagum banget sama dia. Daripada aku frustasi gara-gara gak bisa lupain Raka, akhirnya aku mutusin kalau aku nyerah untuk lupain dia. Aku putusin untuk tetap mengingatnya, aku bakal jadiin dia motivasi aku sampai kapanpun aku mau. Ya bisa di bilang mau jadi penggemar rahasianya Raka. Dan itu memang benar aku lakuin sampai sekarang.

Tapi waktu aku kelas 1 SMA, ada cerita tentang aku sama Raka lagi. Aku sama Raka CLBK alias Cinta Lama Bersemi Kembali  (kalau kalian fikir ini berarti kita sudah jelas long distance …yupz benar sekali #!!!).

Lagu “So Far Away” ini merupakan lagu yang dia sukai, tiap kami bertemu di manapun, saat kami berbicara lewat telepon seluler, dia selalu menyanyikan lagu ini untukku. Menurutnya, lagu ini dianggap mirip dengan cerita cinta kami berdua. “ So far away” katanya lagu yang menceritakan kisah cinta jarak jauh atau long distance gitu, jadi meskipun terpisah jarak kalau sudah yakin ya tetap harus dijalankan dan dilanjutkan. Memang sih, aku dan diapun terpaut jarak yang jauh. Dia berada di daerah tempatku berasal karena dia merupakan teman SMP ku dulu, sedang aku harus tinggal di lain kota karena harus melanjutkan pendidikan di sekolahku yang sekarang atas usulan orang tuaku.

Aku dan Raka bisa kembali lagi berkat Tude, sahabat kami waktu SMP dulu. Awalnya aku cuma iseng smsan dengan Tude sekedar tanya-tanya kabar dan seputar sekolah.  Tapi, karena aku ngerasa galau juga waktu itu akhirnya aku curhat tentang Raka padanya. Mungkin karena Tude merasa kasihan melihat aku mungkin juga melihat Raka, ia menceritakan semua yang aku ceritakan ke Raka.

Malam itu juga Raka menelpon aku. Raka menceritakan soal perasaannya sama aku,termasuk niatnya untuk mengungkapkan perasaannya pada waktu perpisahan SMP dulu, tapi karena dia malu jadi ya Raka mengurungkan niatnya.

Malam itu……………..(04 Oktober 2009)

“Fril, ada telpon nieh !,” ujar Osa, teman sekamarku sambil menepuk bahuku saat aku lagi asyik mendengarkan Mp3 sambil mengerjakan tugas untuk esok harinya.

Aku terlonjak karena kaget, “Ush, kamu sa, ngagetin aja! Ganggu orang lagi asyik aja..”

“Kamu tuch, dari tadi aku teriak-teriak pantes aja gak denger orang dengerin musik sampe full gitu. Nieh, angkat dulu dari tadi hp kamu bunyi. Aku takut ada sesuatu yang penting.”

“oupz .. maaf sister,” jawabku sambil nyengir-nyengir gitu ke muka Osa.

Osa adalah teman yang pertama kali aku kenal, semenjak aku masuk sekolah ini. Dan beruntungnya, waktu pembagian kamar dia juga yang jadi teman sekamarku. Menurutku, dia teman yang baik, dia selalu sabar ngadepin aku (hahahahahahha, habis aku orangnya rada bandel). Tapi Osa tidak semalang aku yang harus berjauhan dengan orang tua dan keluarga, Osa berasal dari kota yang sama dengan sekolah ini, orang tuanyapun rutin menjenguknya tiap sebulan sekali.

#Tude Friends Calling#

Ku lihat nama di layar Hp yang katanya sejak tadi udah berisik, aku kira yang akan telpon orang penting, guru atau kepala sekolah gitu. Ternyata Tude, dia sahabatku di rumah. Kenapa tude telpon ya, fikirku ? Padahal baru sekitar sejam yang lalu kita smsan. Daripada penasaran secepat kilat aku segera memencet tombol answer, takut kalau memang ada yang penting.

“hallo”

“ya hallo, ini bener sama Effril ?”

Ada yang aneh,sepertinya yang ku dengar bukan suara Tude. Ahk, tapi itu mungkin hanya fikiranku aja karena kitakan udah 6 bulan gak ketemu. Mungkin saat ini Tude sudah mengalami perubahan pita suara.

“Yupz, bener ini Effril. Kenapa nieh bukannya kita baru aja smsan, kamu kangen ya??? ckckckckckckck.”

“Ini bener Effril, no absen 25 dari kelas IX A, SMP WIRA KARTIKA dulu?”

“Iya, iya. Kamu ini kenapa sih De ?  Ini memang bener aku, Effril, no absen 25 dari kelas IX A, SMP WIRA KARTIKA dulu? Temen sekelas kamu, masak kamu smsan sama orang yang salah,” kataku mengulangi.

“Ehm, (suaranya terdengar gugup, kemudian dilanjutkan dengan lirih). Maaf ya aku telpon malem-malem gini mungkin ganggu kamu,tapi aku perlu ngomong ffril. Sebenernya ini aku, Raka.”

Jantungku terasa berdetak sangat cepat. Aku tak percaya Raka menelponku. Seperti mimpi, tapi ini nyata. Aku ingin menangis, ingin berteriak, rasa sakit hati yang telah tiga tahun tertanam dalam-dalam kini muncul lagi. Aku teringat kejadian 3 tahun lalu saat aku masih kelas 1 SMP.

“Raka! Kok kamu bisa pake nomor tude? Ada apa ini ?”, jawabku, sambil terbata-bata karena menahan tangis.

“Gini ceritanya ffril, Aku dan Tude sekarang satu sekolah SMA juga. Sekarang kita lagi ada praktek selama 3 bulan. Kebetulan aku sama Tude di tempatkan di tempat praktek yang sama. Akhirnya kita putusin untuk ngekos sama-sama juga. Ffril aku mau tanya …boleh ?”

“Iya ka, boleh kok ! ,” jawabku masih heran, tak percaya.

“Tapi sebelumnya aku minta maaf  ya ? Tadi aku sama Tude lagi ngobrol, terus Tude cerita tentang curhatan kamu sama dia tadi. Apa itu semua bener ?”

Tangan ku lemas seketika Raka selesai berbicara. Aku bingung, aku harus jawab apa? Apa harus aku jujur kalau tadi aku curhat sama Tude tentang sakit hatiku ma Raka itu bener? Tapi apa itu gak nyakitin buat Raka? Aku takut Raka marah.

“Hallo,,ffril,,Effril kamu masih disitukan ? kamu masih dengarkan ?”

Ssuara Raka membuyarkan lamunanku, “Eh,, iya,, iya anu,, aku masih disini, aku masih denger ka !”.

“Loh, kamu kok jadi gugup ? Udah, udah biasa aja Fril. Jujur aja sama aku, nggak perlu ada yang ditutup-tutupi. Aku lebih menghargai orang yang jujur.”

“Ehm, iya ka. Maaf! Aku,,, aku gak bermaksud mau buat kamu sakit atau tersinggung tapi aku bener-bener####”

“Ssssttttt, (Raka, memotong omonganku sebelum aku selesai menjelaskan) Effril, dengerin aku ya? Aku janji gak akan ada sakit hati, gak akan ada tersinggung dan gak akan ada lagi permusuhan. Sekarang kamu jujur aja!”

“Ka, semua yang aku bilang ke Tude memang bener, itu semua isi hatiku selama ini. Aku memang suka sama kamu dari kita SMP dan itu bisa di bilang sampai sekarang. Meskipun dulu hubungan kita cuma berlangsung 3 hari tapi setelah itu aku emang bener-bener gak bisa lupa sama kamu. Aku terus perhatiin kamu meski kamu udah punya pacar setelah aku, aku jadiin kamu motivasi belajar aku sampai sekarang. Aku gak pernah lupa sama kamu, ka (aku mulai terisak, air mataku mulai menetes tak karuan)”

“Maafin aku fril, aku gak tahu. Aku bakal cerita semuanya sekarang fril, karena aku yakin Tuhan nunjukin keadilannya sekarang buat aku.  Sebelumnya maaf fril, dulu kita harus pisah hanya dalam waktu 3 hari, tapi itu aku lakuin karena aku gak mau kamu sakit. Itu bukan mauku fril, itu semua karena ibuku. Ibu udah lama nyuruh aku pacaran dengan anak temen deketnya, namanya Silvia. Dia sekolah di SMP yang ada di belakang sekolah kita itu. Dan dia juga yang bilang ke ibu kalau kita deket. Waktu itu ibu marah fril, dia bilang aku harus pilih. Mutusin kamu sekarang apa uang jajanku di tarik. Aku gak munafik fril, namanya juga anak SMP lagipula aku belum ngerasain apa-apa sama kamu karena kita baru dua hari jadian, aku kira kamu juga sama kayak aku. Akhirnya, aku bilang aku mau aja putus dari kamu. Tapi aku beneran gak ada maksud buat putus dari kamu,”

“Terus,, gimana sama hubungan kamu dengan Viana dan Sita ? ,” tanyaku lagi, sambil masih terisak.

“Kalau soal Sita gini Fril, kamu tahu  si Bakti temen sebangku aku dulu itukan ? Nah, dia yang buat aku jadian sama Sita. Sita bilang kalau dia suka sama aku, tapi karena sebenernya aku masih punya rasa sama kamu jadi aku cuekin aja. Waktu itu lagi istirahat di sekolah, aku sama Bakti kayak biasanya ke kantin bareng, pas aku mau ke kantin Sita ngedeketin aku terus dia bilang kalau dia mau jadi pacar aku, aku cuekin aja terus langsung ke kantin. Terus waktu aku ke kelas lagi, Sita udah nangis! Akhirnya, si Bakti yang ngedeketin dan berusaha nenangin Sita tapi Sita terus aja nangis. Akhirnya karena takut ketahuan sama guru-guru, Bakti bilang katanya aku mau jadi pacar Sita padahal aku gak coment apa-apa waktu itu. Aku sempet marah sama si Bakti tapi katanya sementara aja daripada Sita nangis terus-terusan di kelas. Aku sama Sita juga gak lama, lama-kelamaan Sita tahu kalau sebenernya aku memang gak suka ma dia dan terus kita udahin aja semuanya. Kalau masalah aku sama Viana, itu cuma biar kamu benci sama aku aja kok fril. Daripada kamu di marahin Ibuku lebih baik kamu benci sama aku”

Aku diam membeku. Entah karena adanya perubahan suhu atau memang darah di dalam tubuhku berhenti mengalir. Aku menarik nafas sedalam-dalamnya, dan berusaha tetap tenang. “Ka, aku gak tahu harus ngomong apa lagi. Aku udah gak sanggup ka, rasanya perih kalau aku harus inget-inget saat kamu mutusin hubungan kita dan terus jadian sama Viana yang padahal kamu juga tahu kalau dia musuh aku. Terus kamu jadian sama Sita, yang kamu tahu kalau dia sahabat aku.”

“Maafin aku fril, mungkin aku terlambat ungkapin semuanya. Kamu perlu tahu satu hal fril, kamu masih inget gak waktu perpisahan yang kita foto bareng itu?”

“Ya, terus kenapa?,” jawabku,singkat.

“Waktu kita habis foto bareng itukan aku sempat tanya kemana kamu mau ngelanjutin sekolah, tapi kamu bilang kamu mau sekolah jauh dengan nada ketus gitu. Tadinya, aku kira kamu bohong kalau mau sekolah jauh, aku kira kamu bilang gitu biar aku gak ngikutin kamu ke sekolah yang sama, mungkin kamu benci sama aku. Sebenernya aku sengaja nanyain itu, kalau emang kita bisa satu sekolah aku mau bilang kalau aku pengen kita bisa pacaran lagi kayak dulu. Berhubung kamu bersikap kayak gitu, aku takut mau ungkapin semuanya”

Air mataku terus mengalir, apalagi setelah mendengar pengakuan Raka. 4 tahun aku berharap Raka nembak aku lagi dan kini dia sudah kembali. “Ka, maafin aku. Aku nyesel dulu bersikap kayak gitu. aku sekolah jauh karena keinginan Ayah lagian tadinya aku juga pengen lupain kamu meski sampe sekarang niat itu susah banget dilakuin. Aku terlalu suka kamu ka, aku juga gak tahu kenapa.”

“Gak apa-apa fril, kita gak ada yang salah. Ini sudah jalan Tuhan, kalau gak lewatin apa yang terjadi kemarin kita juga gak akan bisa lihat apa yang terjadi hari ini.  Fril, aku boleh tanya sesuatu gak?”

“Oke, kalau gitu gak ada salahnya juga kita saling maafin sekarang,” jawabku, dengan ceria meskipun air mata masih terbendung dikelopak mata.

“Mau tanya apa ka?”

“Apa sekarang kamu udah punya pacar?”

“hahahahahahahha,,raka,raka. Gaka ada kok ka, aku belum terlalu kenal sama temen-temenku disini jadi mana mungkin udah punya pacar.”

“Ehm,,Fril aku boleh ngomong gak sama kamu ? Ini serius ? Masalah kita ?”

“Ouh,,ada apa lagi ka? Bukannya masalah kita udah selesai ? kan udah damai?”

“Bukan gitu,,ehm maksud aku ? maksud aku gini Fril ?”

“Kenapa ka ? Ada apa?”

“Uhhhhh … Fril aku pengen kita lanjutin hubungan kita yang tertunda. Aku pengen kita mulai lagi dari awal, gmna kamu bisakan fril ?”

“Aku,,aku?????”

“Frill,, gak akan ada kesempatan ketiga. Please,,,kamu mau ya ? Aku butuh jawabannya sekarang. Aku janji, aku gakkan ninggalin kamu kayak dulu. Izinin aku tebus kesalahanku ma kamu Fril ? Aku gak mau terlambat?”

Tanpa fikir panjang aku langsung memutuskan,”Oke,,,iya aku mau”

“Serius???Jadi sekarang kita pacaran?Makasih ya fri. Aku janji aku bakal jagain kamu..”

“Iya…sama-sama ka ? tapi kita backstreet dulu ya dari orangtua aku? Akukan belum boleh pacaran?

”Oke …siap sayangku…”

Dari sini kita mulai lagi ngejalanin hubungan kita. Aku ngerasa nyaman banget bisa pacaran ma Raka. Meskipun kita longdistance tapi Raka perhatian banget sama aku. Dia rajin bangets sms terus telpon aku,, ngingetin aku makan,, ngingetin aku belajar. Tiap aku liburan Raka selalu anter pulang aku, kita juga masih bisa ketemu meskipun sembunyi-sembunyi. Waktu-waktu yang terlewatkan terasa sangat menyenangkan, pokoknya sempurna deh..

Tapi itu cuma berlangsung setahun. Aku dan Raka putus tepat tiga hari sebelum kita genap setahun. Aku belum bisa terima sebenarnya sampai sekarang, Raka tiba-tiba aja ninggalin aku dengan alasan yang gak jelas.

***

Waktu itu, aku lagi asyik ngobrol sama temen-temenku di kamar. Tiba-tiba,,,

@love me…love me … say that you love me (suara ringtone sms di hpku berbunyi, ku lihat di layar Hp, 1 pesan diterima).

Ternyata smsnya dari Gria,, sahabat karibku semenjak kecil di rumah.

“Effril,,?”

“(dengan cepat ku balas sms dari Gria, gak pake’ fikir panjang). Yupz,,,Effril disini. Ada apa sob?”

“uhm,, aku mau tanya tentang hubunganmu ma Raka. Apa kalian udah putus?”

“hahahahaha,,,(aku tertawa lihat sms dari Gria tadi). Belumlah sayang,, akhir-akhir ini aku memang jarang ngubungin dia tapi dia ngerti kok. Aku lagi sibuk di sekolah, lagian kenapa kamu nyimpulin kayak gitu?”

“Hahk,, masak sih? Itu fril,, kemarin aku lihat Raka lagi naik motor bareng cewek yang kelihatannya udah dewasa banget. Terus mereka mesra kok?”

“(aku tersentak) Ouh,, gitu. Aku juga gak tau, Gri. Tapi memang dia sekarang gak pernah sms aku, aku kira dia juga sama sibuknya seperti aku? Ehm,,ya udah fril aku telpon Raka sekarang nanti aku kabari lagi. Makasih buat infonya ya?”

“oke.”

Saat itu juga dengan secepat kilat aku telpon Raka. Tut,,tut,,tut …..beberapa kali ku coba tapi tak juga di angkat.

Akhirnya ….

“iya, Hallo”

Rasanya langsung pengen nangis, yang menjawab telpon ternyata suara seorang cewek, tapi aku berusaha tetap berbicara, “Ehm, maaf Raka ada nggak ya?”.

“Ouh ada. Ini dengan siapa ya?”

“Ini temennya Raka. Kemarin Raka suruh aku telpon katanya ada yang mau diceritain.”

“oke,,tunggu sebentar ya?”

(Dengan hati deg-degan dan gelisah, aku nunggu. Berharap kalau suara cewek tadi adalah kakak perempuan Raka)

“Ya ,,Hallo. Cyapa ini?

“(suara Raka, mengagetkanku). Ka, ini Efril?”

“Effril,,,???? Iya ada apa?”

“Aku mau tanya,, apa bener kamu udah punya pacar lagi ? Apa kamu udah lupa sama janji kamu kalau gak kan pernah tinggalin aku?”

“Ouh,,itu. Iya fril,, itu memang bener. Maaf fril,, aku gak bisa sama-sama kamu. Aku butuh pacar yang setia di samping aku terus, tapi kamu gak bisa. Kamu jauh, di tambah lagi sekarang kamu sibuk. Kalau Wita beda ma kamu fril …(mungkin Wita adalah nama cwek tadi) Wita sealu ada buat aku. Dia juga dewasa, gak kayak anak kecil seperti kamu”

(aku menarik napas panjang, dan berusaha berfikir dengan kepala dingin. Aku harus bisa nerima keadaan ini, aku gak mungkin marah-marah ke Raka. Gak akan mengembalikan keadaan, toh Raka juga sudah memilih Wita daripada aku. Setelah mungkin agak lama aku terdiam, aku sudah siap untuk bicara lagi sama Raka)

“Ya sudah Ka. Aku ikut seneng aja, aku berdoa semoga dia yang terbaik buat kamu. Selamat ya ka?”

“iya, fril. Aku juga sayang banget kok ma dia!!”

Tut,,tut,,tut,,tut. Segera ku putuskan telpon dengan Raka, aku menangis sejadi-jadinya di kamar.

Tak ku sangka Raka yang aku sangat harapkan, sekarang menyakiti aku tuk kedua kalinya. Beberapa hari setelah kejadian itu, aku sempet down banget. Nilai-nilaiku banyak yang turun, pokoknya sekolahku jadi hancur. Badanku kurus, aku jadi orang yang pemalas. Kerjaanku pulang sekolah Cuma tidur, dengerin musik gak pernah belajar. Semangatku seperti sudah putus.

Aku ceritain rasa sakit ini ke Osa, ke Gria juga, tentang pengkhianatan Raka ke aku. Itu memang berlangsung sangat lama, tapi akhirnya aku sadar. Disini aku punya teman, ada sahabat aku yang bisa aku ajak cerita, di rumah ada keluarga yang menunggu kesuksesanku, aku gak boleh terus-terusan larut mikirin orang sejahat Raka. Aku gak mau orang-orang yang udah berjuang buat aku jadi kecewa. Aku berusaha bangkit lagi, memperbaiki hidupku.

Aku ingin jadi Effril yang dulu,, Effril yng selalu ceria. Aku kembali sedikit demi sedikit lebih bersemangat belajar lagi, aku berusaha dekat sama sang pencipta agar aku diberi kesabaran dan kemudahan. Ternyata gak ada yang sia-sia, semua itu aku dapatkan hasilnya. Sekarang aku bisa meraih Juara kelas, itu karena temen-temenku disini, karena orang tuaku dan karena Raka motivatorku.

Sampai sekarang Raka memang gak pernah bisa hilang dari ingatanku dan akupun tak mau melupakannya. Dulu aku pernah berjanji kalau Raka adalah motivasiku, aku juga gak pernah sakit hati kalu inget dia, malah aku jadi tambah semangat. Gimanapun Raka,, sejahat apapun dia aku mau tetep inget dia. Aku yakin, suatu saat Raka pasti akan tahu, kalau aku terus inget dia bukan karena perasaan tapi lebih dari itu.

***

Hujan sudah berhenti, tinggal gerimis kecil yang tersisa. Haripun sudah semakin gelap. Sakit ini tak akan pernah aku keluarkan lagi, akan aku buang jauh-jauh dari  fikiranku, yang harus aku ingat adalah belajar untuk masa depan yang sukses. Cerita ini adalah masa lalu yang pahit dan aku tak mau terus hidup dalam kepahitan. Dari awal raka adalah motivasiku bukan pembuat sakit hati. Akan ku tutup cerita ini sampai disini, aku akan terus berjuang demi masa depanku. Ku usap air mata yang dari tadi menetes di pipi dan aku segera mandi.

“So far away”. Raka, what did you know?  I believe you and you will stay in my thinking forever and never end.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: