SOLIDARITAS VERSI ITIK

Oleh : J. Haryadi

Suatu hari, menjelang hari raya Idul Adha, saya memotong seekor itik jantan
yang masih remaja. Itik tersebut memang sengaja diternakkan secara tradisional oleh ibu saya, tepat di belakang rumah, sebagai hiburan dalam mengisi waktu luang semasa tuanya. Itik yang dipotong ini adalah itik remaja yang terakhir, semula berjumlah 5 ekor, namun semua saudara-2 seangkatannya sudah dijual oleh ibu saya ke pedagang unggas, kecuali masih tersisa 6 ekor itik kecil (adik-adiknya) dan orangtuanya (babon dan basor).

Ada pengalaman unik dan sangat menarik yang tidak bisa saya lupakan. Ketika itik tersebut selesai disembelih, itik-itik lainnya (adiknya dan orangtuanya) pada berdatangan ingin mendekatinya. Tentu saja saya mengusirnya, karena saya tidak mau itik tersebut stress melihat saudaranya sedang meregang nyawa. Biasanya, itik tersebut kalau didekati oleh kita pasti akan berlari menjauh karena takut ditangkap, namun hal yang terjadi justru sebaliknya. Semua itik yang ada seakan memaksa ingin mendekati itik yang sudah saya sembelih tersebut. Tentu saja saya tetap berusaha mengusir itik-itik tersebut agar menjauh dari lokasi itik yang sedang menanti ajalnya itu.

Anehnya, setiap kali diusir, itik-itik tersebut tetap memaksa untuk mendekati saudaranya yang sedang sekarat. Beberapa kali saya usir, mereka tetap nekat mendekatinya secara bergerombol, bahkan berani menerobos dibawah kaki saya dan merasa tidak takut.  Sampai itik yang dipotong meregang nyawa, itik lainnya akhirnya hanya bisa memperhatikan dari jauh dengan pandangan mata kosong, penuh tanda tanya.

Tiba-tiba saya punya ide, saya merasa penasaran ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh itik-itik tersebut jika mereka saya biarkan mendekat saudaranya yang sudah mati itu.  Benar saja, ketika saya pergi menjauh, mereka segera menghampiri saudaranya dari jarak dekat, sekitar 1 meter. Mereka tidak menyentuh itik yang sudah mati tersebut, melainkan hanya memandangnya saja dengan terdiam, seakan mereka ingin mengucapkan salam perpisahan dan berkata dalam hati “Selamat jalan saudaraku “.

Beberapa menit mereka hanya terdiam mematung, memandangi itik yang sudah mati dengan pandangan mata kosong, tanpa bersuara sedikitpun. Lalu saya iseng-iseng menggiring para itik tersebut untuk berjalan lebih mendekat ke arah itik yang sudah mati itu. Anehnya, mereka sama sekali tidak mau lebih dekat lagi, padahal posisi mereka sudah sangat terpojok. Mereka lebih baik melawan arah dan lari kebawah kaki saya dari pada harus menginjak saudaranya yang sudah menjadi mayat. Akhirnya saya membiarkan semua ini terjadi sambil merasa sedih dan penuh tanda tanya. Ternyata binatang pun memiliki rasa solidaritas dengan sesama mereka. Lalu bagaimana dengan kita manusia ?

***

Advertisements

One response

  1. Maaf.. saya berterus terang … walaupun saya kurang bersetuju dengan awak.
    .. tapi saya akui… pendapat awak memang logik dan pos nih memang menarik.
    .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: