BUAH TAHAJUD 7 MALAM

Oleh : J. Haryadi

Bang Abu Jamal (bukan nama sebenarnya) adalah seorang mua’alaf yang berasal dari sebuah kampung di Kupang, Nusa tenggara Timur. Ia merantau ke tanah Jawa dan terdampar di propinsi Jawa Barat. Berkat kegigihannya berjuang ia kini telah mempunyai pekerjaan tetap sebagai salah seorang Asisten Manajer di sebuah perusahaan leasing yang sedang berkembang pesat di kota Bandung. Kecintaan terhadap kota Bandung yang ramah dan berudara sejuk telah membuatnya terpikat pula dengan dara manis mojang priangan. Ia kini telah berhasil mempersunting seorang wanita Sunda yang cantik dan tinggal disebuah perbukitan yang berudara sejuk di daerah Cisarua, kabupaten Bandung Barat.

Ketika pertama kali menikah dan berikrar menjadi seorang muslim, Abu Jamal mendapat hambatan dari keluraga besarnya. Betapa tidak, ia adalah seorang aktivis pemuda gereja dan menjadi seorang ketuanya. Tentu saja banyak sekali yang memusuhinya, termasuk saudara-saudaranya yang berasal dari satu kampung yang semuanya beragama nasrani.

Suatu hari ketika ia sedang mengendarai sebuah mobil, tiba-tiba mobilnya dihentikan oleh sekelompok pemuda berkulit hitam. Belum sempat ia bertanya apa kesalahannya, tiba-tiba sebuah bogem mentah mendarat telak dipipinya. Darah segarpun menitis dari wajahnya yang hitam manis. Tidak berhenti sampai disitu, ia diseret keluar dari kendaraannya secara paksa dan tanpa mengenal ampun, sekitar 20 orang pemuda berkulit hitam berperawakan tegap itupun menghajarnya secara bergantian bagaikan sangsak tinju. Abu Jamalpun tidak bisa berbuat apa-apa. Kakinya yang kuatpun tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang gempal, iapun segera terjerembab mencium bumi. Ia roboh bagaikan sebatang pohon yang tumbang. Badannya terasa remuk, mukanya sudah tidak berbentuk lagi, bengkak dan memar, penuh dengan cucuran darah segar. Kalau patroli polisi tidak segera lewat, entah seperti apa nasibnya, mungkin bisa berakibat fatal.

Pemuda hitam itu segera berlarian ketika melihat sebuah mobil patroli polisi mendatanginya. Abu Jamal sudah tergeletak tak sadarkan diri. Ketika ia sadar, dirinya sudah berada di sebuah rumah sakit swasta di daerah Dago. Ia segera mendapaat pertolongan dan selamat dari musibah yang lebih fatal. Sebuah giginya copot pada kejadian tersebut. Ketika polisi memintanya untuk mem-visumnya, ia dengan halus menolaknya dan tidak mau melaporkan kejadian tersebut ke pihak yang berwajib. Mengapa demikian ? Karena ia tahu, pelaku pengeroyokan itu tak lain adalah saudara-saudara satu kampungnya yang sama-sama merantau ke Bandung. Ketika  mereka mengetahuinya berpaling agama menjadi muslim, semua saudara-saudaranya jadi memusuhinya. Ia diancam akan dibunuh kalau sampai nekad pindah agama menjadi Muslim. Ia tetap dengan pendiriannya, masuk menjadi muslim dan akhirnya mengalami kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya tersebut. Ia menganggap kejadian itu sebagai tebusan atas dosa-dosanya nya selama ini.

Cobaan berikutnya kembali datang. Kakak kandungnya yang berhutan padanya ratusan juta rupiah mengancam tidak akan membayar hutang-hutangnya jika ia menjadi muslim. Bahkan rumah yang dibuatnya di kampung halamannya yang merupakan hasil kerja kerasnya selama ini juga dirampas oleh keluarga besarnya jika ia tetap menjadi muslim. Abu Jamal tidak bergeming, ia tetap pada pendiriannya. Tahu sendiri akibatnya, ia tidak diakui oleh semua keluarga besarnya. Ia dibuang dan keberadaannya dimuka bumi diangap tidak ada. Semua hartanya dirampas oleh saudara-saudaranya, termasuk mobil yang tadinya dipinjam oleh salah seorang adiknya.

Dua bulan setelah perkawinannya dengan gadis Sunda pujaan hatinya, ia mengundurkan diri dari pekerjaannya karena ditawari pekerjaan yang lebih menarik oleh salah seorang kenalan barunya. Ketika ia sudah mengundurkan diri, ternyata pekerjaan yang ditawarkan tersebut tak kunjung tiba. Temannya bahkan lari entah kemana, sehingga ia menjadi pengangguran. Akibatnya tabungan yang ia simpan dari hasil kerja kerasnya selam ini dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lambat laun pesediaan pun semakin menipis. Cibiran dari keluarga istripun ia terima. Hatinya menjerit, dadanya sesak, ia coba untuk tetap bersabar sambil terus berusaha mencari kerja kesana kemari, namun pekerjaan belum juga ia dapatkan.

Alhamdulillah ia memiliki istri yang sholehah. Istrinya mengajak Abu Jamal untuk melaksanakan sholat tahajjud. Setiap tengah malam, mereka berdua bangun dan melaksanakan sholat tahajjud bersama sambil berlinangan air mata memohon pertolongan Allah. Setelah 7 malam berturut-turut melaksanakan tahajjud, keajaiban itupun tiba. Pagi harinya sekitar jam 9, sebuah telepon datang berdering. Ternyata telepon tersebut berasal dari seorang direktur sebuh perusahaan tempat dimana ia dulu pernah bekerja. Kebetulan dikantornya dibutuhkan seorang kepala kolektor. Ia diminta datang ke kantor mantan Bosnya itu. Ia ditawarkan untuk mengisi posisi yang kosong tersebut. Iapun segera menyanggupinya.

Berkat ketekunan dan dedikasinya, ia selalu mencapai prestasi yang ditargetkan oleh kantornya. Kini ia baru saja dipromosikan menjadi salah seorang asisten manajer. Dan kini senyuman dibibirnya sudah sering terlihat seiring dengan meningkatnya penghasilan dan kesejahteraannya.  Kesabaran dan keyakinan akan pertolongan Allah telah membuatnya menjadi kuat dan tak goyah diterpa badai. Kesabaran membuahkan kebahagiaan.

* * *

Advertisements

2 responses

  1. subhanallah….

  2. Apakah saya bisa setegar itu,dia mualaf saya islam bawaan tp saya bertingkah sangat bejat diluar aturan agama,betapa malu dengan dia!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: