Artikel : 5 Menit Yang Berharga

5 MENIT YANG BERHARGA

Oleh : J. Haryadi

Lima menit adalah waktu yang singkat, namun jika kita pandai memanfaatkannya dengan baik, maka lima menit adalah waktu yang sangat berharga dan bisa digunakan untuk mengubah prilaku murid-murid kita menjadi pribadi yang mandiri, berjiwa pejuang, pantang menyerah, cerdas dan beretika sehingga kelak mereka bisa memaksimalkan potensi diri yang dimilikinya dan menjadi pemenang bagi kehidupannya.

Sebagaimana kita ketahui, bangsa kita terkenal dengan jemaah hajinya yang paling banyak di dunia. Orang pintar banyak dan ada dimana-mana, bahkan para pengangguran intelektualpun bertebaran. Namun ironisnya, justru negara kita terkenal juga sebagai negara terkorup didunia. Apa artinya ? Artinya pendidikan agama, etika dan moral sudah gagal diterapkan. Pasti ada yang salah dengan sistem pendidikan di negara kita. Selama ini pendidikan kita lebih mengedapankan teori, tetapi perakteknya kurang. Agama baru sebatas kegiatan ritual semata, belum sampai pada tahap implementasi. Para pakar pendidikan kita berteriak agar pendidikan etika dan moral kembali diterapkan di Indonesia. Faktanya sampai saat ini hal tersebut masih berupa wacana dan belum ada realisasinya.

Jadi, dari pada kita menanti sesuatu yang belum pasti, alangkah baiknya kita mulai saja dari sekarang dengan cara yang praktis, hemat dan tidak bertele-tele. Kalau saja kita mau sedikit meluangkan waktu 5 menit saja diawal pelajaran dengan memberikan pencerahan, semangat dan motivasi kepada murid-murid kita mengenai makna kehidupan, tujuan hidup, bagaimana merancang masa depan ? Bagaimana etiket bergaul yang baik ? Bagaimana cara mengatasi kegagalan ? Bagaimana menjadi seorang pemenang ? dan berbagai topik menarik yang bisa membangkitkan gairah mereka untuk belajar dan menggapai cita-citanya, Saya pikir justru 5 menit tersebut jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan sisa waktu lainnya yang biasa dipakai membahas berbagai topik ilmu pengetahuan.

Setiap awal pertemuan, lakukan pembukaan dengan do’a bersama, lalu dimulai dengan pemberian motivasi, bisa berupa cerita pendek seperti contoh diatas, bisa dengan sharing atau berbagi pengalaman, bisa dengan menonton tayangan video singkat tentang orang-orang yang luar biasa, bisa juga dengan  mengajak murid kita meneriakkan yel-yel pemberi semangat dan bentuk-bentuk kreativitas lainnya.

Bisa dibayangkan kalau seorang guru setiap kali mau mengajar, selalu membukanya dengan bermacam-macam cerita menarik seputar kehidupan yang bisa memotivasi mereka. Misalnya kita membahas sedikit tentang “Kegagalan dan Kesuksesan” dari tokoh Thomas Alfa edison. Kisah “Kesabaran” Nabi Muhammad SAW dalam menerima cobaan dari Allah SWT. Berikan cerita singkat atau  intisarinya saja, tidak perlu panjang, yang penting maknanya bisa menjadi pelajaran dan bisa memotivasi murid-murid kita. Lima menit cukup berharga kalau kita mau melakukannya.

Kalau dalam satu semester seorang guru mengajar sebanyak 18 kali pertemuan, maka waktu yang sudah kita berikan untuk memberikan motivasi kepada mereka adalah sebanyak 90 menit, itu sama dengan 2 jam pelajaran (1 JP = 45 menit). Kalau dalam 1 semester terdapat 15 guru bidang studi dan mereka semua melakukan hal yang sama, maka akan terkumpul sebanyak 15 X 2 JP = 30 JP. Saya rasa lima menit tersebut ternyata cukup dahsayat kalau bisa dimanfaatkan dengan baik

Sebagai seorang guru yang membidangi bidang studi tertentu, selama ini kita hanya terfokus mengajarkan materi yang menjadi tanggungjawab kita saja. Hal ini bisa dimaklumi karena tugas pokok guru memang demikian, sehingga kita jarang mau perduli dengan memberikan motivasi atau pelajaran etika yang tidak sesuai dengan materi pelajaran kita namun mempunyai dampak besar bagi kehidupan murid-murid kita tersebut.

Setiap guru memang dituntut agar dapat menyelesaikan materi yang menjadi tanggung jawabnya, namun sebenarnya masih ada tugas guru lainnya yang jauh lebih penting dari sekedar mengajar materi bidang studi  yaitu membimbing dan mendidik mereka dengan etika serta memberikan motivasi agar kelak menjadi orang yang sukses. Tapi, bukankah hal tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab guru BP dan guru Agama ? Saya kira pendapat tersebut keliru ! Saya tidak sependapat ! Hal tersebut menurut saya merupakan tugas dan tanggung jawab semua guru, tentu saja dengan bobot yang berbeda.

Secara “house of rule” memang tidak semua guru ada kewajiban untuk memberikan “wejangan” kepada murid-muridnya, tetapi secara moral kita harus memiliki sense of belonging terhadap mereka. Kita tidak boleh berpikiran sempit dan naif dengan mengatakan : “Tugas Saya kan hanya mengajar mata pelajaran …..” atau “Waktu mengajar Saya terbatas, mana mungkin bisa melakukannya …” atau melempar tanggung jawab seolah-olah memang kita tidak mempunyai kewajiban dengan mengatakan, “Bukankah itu tanggung jawab guru BP dan guru Agama ?” dan beragam pertanyaan klise yang sengaja kita berikan untuk membenarkan prilaku kita yang tidak peduli.

Sekarang, kembali kepada kita sebagai guru, maukah kita melakukan perubahan tersebut ? maukah kita menyisihkan 5 menit waktu mengajar kita untuk sesuatu yang justru lebih bermanfaat ? maukah kita menggadaikan 5 menit yang berharga demi masa depan murid-murid kita ? Kalu kita tidak memulainya, lalu sipa lagi ? kalau bukan kita yang memulainya, lalu siapa lagi ? kalau bukan dari sekarang, lalu kapan lagi ?

Advertisements

3 responses

  1. Salam kenal, pak guru
    Setujua bangettttt

    5 menit saja….
    ku harus bisa temani siswaaa…
    dengan cerita ataupun materi apa saja
    sehingga mereka berakaklak mulia dan bertingkah laku sesaui tata krama,
    cinta ayah bunda.
    negara dan
    agama

    Cukup lima menit saja, guru harus bisa mengelola waktu untuk membuka atau menutup proses pembelajaran. N kalau menurut aku yang masuk Ranah Afektif adalah tanggungjawab semua guru. Untuk masalah aklak bisa diserahkah keguru agama dan untuk keribadian diserahkan keguru PKn. Kegunaan untuk menentukan kenaikan atau kelulusan. Mohon maaf bila kekurangan

    1. Salam kenal kembali Bu…..Terimakasih ya atas komentar dan dukungannya yang sangat konstruktif. Mari kita bersama-sama mebangun anak-anak murid kita dengan memanfaatkan waktu yang memang tidak banyak tersebut.

      Salam Hangat
      J. haryadi

  2. Agus pa ari tulisannya, pak ari coba kirim tulisan ke forum guru pr, pa ari kan guru, sabil kembanguin ilmu buat dapur ngebul juga hheheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: