MENINGKATKAN MUTU PENGAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH

Oleh : Neulis Rahmawati

Selama ini masyarakat menilai pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di sekolah kurang menunjukkan hasil yang memuaskan. Siswa kurang memiliki pengalaman berbahasa yang baik.. Diantaranya kemampuan menulis yang kurang memadai, kebiasaan membaca yang tidak mentradisi, kurang mahir berbicara, serta belum mampu mengapresiasi dan berekspresi sastra sesuai dengan harapan.

Meskipun kurikulum selalu mengalami perubahan, pelatihan guru dilangsungkan, seminar dan diskusi bergulir, kualitas buku ajar diperbaiki, serta jumlah buku di perpustakaan ditambah. Persoalan tersebut tetap saja selalu muncul ke permukaan.

Sebenarnya pernyataan tersebut tidak selamanya benar. Misalnya, untuk kebiasaan membaca dan menulis, bila kita perhatikan data Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat menyebutkan, pada 2008 lalu tidak kurang dari 12.000 judul buku baru diterbitkan atau 2.000 lebih banyak dari tahun sebelumnya. Hal ini tampak dari peningkatan jumlah penerbit yang pada 2007 lalu 179 buah, setahun berikutnya menjadi 185 buah,. seperti yang diungkapkan Ketua Ikapi Pusat, Setia Dharma Madjid “Jumlah buku yang diterbitkan terus bertambah . Meski krisis, orang tetap membaca buku.” (Pikiran Rakyat, 5 Februari 2009).

Berarti hal tersebut menunjukkan minat membaca dan menulis mulaitumbuh. Meskipun di kalangan remaja minat baca mulai tumbuh dengan membaca buku-buku chiklik dan teenlit, yaitu buku sastra remaja yang digemari masyaraka. Hal itu menunjukkkan kegairahan menulis dan membaca di kalangan remaja masih sebatas genre sastra remaja. Sedangkan sastra di luar sastra remaja kurang dikenal. Terutama, ketika bersentuhan dengan karya sastra yang memerlukan minat dan motivasi belajar serius, khusu, dan mendalam, seperti karya Iwan Simatupang, N.H. Dini, Umar Kayam, Taufiq Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Seno Gumira Ajidarma, Zawawi Imron, Acep Zamzam N, Jamal D. Rahman, Agus R. Sarjono, dan yang lainnya ,kurang diminati para siswa.

Untuk mengatasi hal tersebut guru tidak perlu kaku dan berpusat pada dirinya sendiri, tetapi peran dan keberadaan siswa harus dilibatkan. Dengan cara siswa diajak membandingkan sastra remaja sebagai modal dasar dan tantangan dalam menyampaikan sastra yang lebih serius. Sehingga memperkaya wawasan dan bacaan para siswa untuk berpikir luas dan kritis.
Kegiatan membandingkan sastra remaja dengan sastra yang lebih serius dapat juga dilakukan melalui kegiatan menonton acara baca puisi, cerpen, pergelaran sastra, teater, baik melalui kaset atau VCD maupun pertunjukan langsung. Sekolah (guru dan siswa) juga dapat kerjasama dengan komunitas baca atau taman bacaan dan sanggar kesenian yang ada di sekitar lingkungan sekolah sehingga dapat melaksanakan kegiatan workshop menulis sastra, membaca puisi, bahkan mementaskan drama.

Upaya lain untuk meningkatan mutu pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dapat dilakukan dengan melaksanakan inovasi pembelajaran termasuk dalam memanfaatkan alat-alat teknologi atau information communication technology (ICT) School Models.

Untuk bisa menguasai dan menerapkan teknologi tersebut diperlukan pelatihan-pelatihan langsung kepada guru melalui diklat-diklat yang memberi kesempatan kepada guru untuk terjun langsung memanfaatkannya tidak hanya pendidikan dan pelatihan yang memberikan bekal teori-teori saja. Seperti Diklat Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra (MMAS), yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah telah mampu memberikan kesempatan kepada guru untuk mampu menulis dan mengapresiasi sastra. Sehingga guru dapat menjadi model dalam menyajikan materi kepada para siswanya.

Begitupun dengan kegiatan Musawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) harus lebih diintensifkan dengan bantuan pihak sekolah dan dinas setempat Hal tersebut dilakukan untuk menambah pengetahuan para guru dalam mengikuti perkembangan teknologi pendidikan, model, cara, dan teknik mengajar yang mutahir. Sehingga mampu mengikuti kemajuan bahasa dan sastra Indonesia yang terus berkembang.

Dalam meciptakan suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan guru dapat memanfaatkan berbagai media misalnya Tape Recorder, OHP, LCD, maupun VCD, yang memutar pembacaan puisi, cerpen, pergelaran drama, atau film yang kental unsur sastranya. Sekali-kali guru juga dapat mencoba menghadirkan sastrawan lokal atau nasional di kelas untuk langsung berdiskusi dengan para siswa. Jika ada masalah berkaitan dengan dana (pengadaan media atau mengundang sastrawan) pihak pengelola sekolah harus membantunya.

Kegiatan pembelajaran supaya menarik perhatian siswa dapat juga dilakukan dengan membawa siswa pada suasana belajar di luar kelas atau di alam terbuka dengan mengambil objek alam (laut, pantai, sungai, gunung, perkebunan, pesawahan, dan pedesaan), lingkungan di sekitar sekolah, budaya (peninggalan sejarah, museum, kesenian, kerajinan), industri, teknologi, dan sebagainya.

Pempelajaran di luar kelas sebaiknya difokuskan pada kegiatan ekspresi bahasa misalnya membaca karya, menulis karangan, menulis karya sastra, menulis resensi, menulis hasil wawancara, dan yang lainya.
Pengelolaan kelas dalam proses belajar mengajar harus berorientasi pada keperluan siswa dan sesuai dengan perkembangan kejiwaan siswa. Sehingga siswa dapat menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana berkomunikasi yang akan memperkaya wawasan berpikir dan berekspresi. Seperti yang diungkapkan oleh Dendy Sugono dan Sugiyono dari Pusat Bahasa Depdiknas, bahwa penguasaan dan kemampuan berbahasa secara baik dan benar akan menuntun siswa berfikir teratur dan bertindak tertib. Di dalam kurikulum 2004 guru diberi kebebasan berkreasi mengembangkan bahan ajar yang inovatif, menarik, menyenangkan, mengasikkan, mencerdaskan, dan membangkitkan kreativitas siswa.

Dalam proses belajar mengajar semua guru harus memberikan keteladanan kepada para siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia, baik dalam membimbing siswa belajar di kelas maupun dalam memeriksa hasil belajar para siswanya. Begitupun dalam penggunaan bahasa lisan saat berinteraksi di kelas maupun di luar kelas. Penggunaan bahasa tulis dalam pembuatan tugas-tugas menulis. Para guru selain memeriksa kebenaran substansi, harus mengoreksi juga penggunaan bahasa Indonesia para siswanya. Pemberian penilaian harus mempertimbangkan aspek penggunaan bahasanya. Hal ini berlaku tidak hanya untuk guru bahasa Indonesia saja tetapi guru bidang studi yang lainnya juga sama.

Kepedulian terhadap penggunaan bahasa Indonesia para siswa tersebut akan mendorong siswa lebih berhati-hati dalam penggunaan bahasa Indonesia sehingga memberikan pengalaman kepada para siswa dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan situasi, tujuan, tempat, media, dan sebagainya.

Sasaran peningkatan mutu pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di sekolah meliputi: siswa, guru, petugas tata usaha, dan kepala sekolah. Peningkatan itu dapat berupa pertemuan tatap muka seperti pembelajaran di kelas atau di luar kelas bagi siswa, penyuluhan, pelatihan, dan penataran bagi para guru, pemanfaatan alat-alat teknologi, penyediaan berbagai buku, seperti kamus, tata bahasa, dan panduan atau pedoman penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.

Pendidikan bahasa Indonesia di sekolah ditujukan untuk menumbuhkan kepedulian siswa, guru, tata usaha, dan kepala sekolah terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
Kepedulian itu pada gilirannya diharapkan akan meningkatkan sikap positif mereka terhadap bahasa Indonesia dan sastra Indonesia baik sebagai lambang identitas dan kebanggaan bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa, pembangkit rasa solidaritas kemanusiaan maupun sebagai sarana memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Semoga.

Catatan :

– Penulis adalah Guru Bidang Studi Bahasa dan Sastra Indonesia SMAN 24 Kota Bandung.

– Sumber tulisan asli : Blog Neulis Rashmawati

* * *

Advertisements

3 responses

  1. contoh tentang kemampuan siswa berekspresi dengan bahasa dalam proses pembelajaran tuch kyk gmna yah????mohon pencerahannya…

  2. Terimakasih, sdh dibaca artikelnya. Tolong kirim artikel yang lebih jitu ttg pengajaran BSI, terutama sastranya. tq

  3. sukardi muhammad | Reply

    BAB I
    PENDAHULUAN
    1.1 Latar Belakang
    Bahasa merupakan alat komunikasi sekaligus alat pemersatu bangsa. Melalui bahasa kita dapat mengetahui hakikat hidup manusia, dengan kata lain bahasa adalah cermin pribadi kita. Bahasa adalah salah satu alat untuk mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, keinginan, dan perasaan kita. Hal ini sesuai dengan defenisi yang dikemukakan oleh, Fiocchiaro. (Oka dan Suparno 1994:2). “Bahasa adalah alat yang sistematis untuk menyampaikan gagasan atau perasaan dengan memakai tanda-tanda yang disepakati yang mengandung makna yang dapat dipahami.
    Berbicara tentang bahasa langsung akan menyangkut semua bahasa yang digunakan sehari-hari termasuk bahasa yang tumbuh dan berkembang dinegara kita. Sejak diikrarkan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 bahasa Indonesia dinyatakan sebagai bahasa persatuan. Pada tanggal 18 Agustus 1945 bahasa tersebut diundangkan menjadi bahasa resmi atau bahasa negara. Di samping itu terdapat ribuan bahasa daerah yang dijumpai pemakaiannya pada anggota keluarga, masyarakat daerah. Bahasa daerah merupakan bagian daripada budaya bangsa yang terus dijaga dan dipelihara. Hal ini telah dirumuskan dalam Penjelasan Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV, Pasal 36 yang berbunyi: di daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnya; bahasa Tidore, Jawa, Madura, Sunda, Gorontalo, Batak, Muna, dan sebagainya yang ada di nusantara) bahasa tersebut dihormati dan dipelihara oleh negara. Bahasa-bahasa itupun merupakan bagian kebudayaan Indonesia yang hidup.
    Sesuai dengan rumusan ini maka jelas kepada kita bahwa untuk pengembangan bahasa Indonesia, bahasa daerah turut mengambil andil yang sangat besar dalam hal ini kosa kata. Penelitian, pembinaan, pengembangan bahasa daerah perlu mendapat perhatian serius dari semua unsur. Hal ini perlu dilakukan demi terealisasi Penjelasan Pasal 36 Undang-Undang 1945, yang berbunyi “semua bahasa diakui oleh Negara”. Bahasa daerah perlu dibina dan dilestarikan dalam rangka pengembangan sastra untuk memperkaya khazanah kebudayaan sebagai unsur kepribadian bangsa mengingat bahasa daerah perlu dilestraikan demi pengembangan bahasa. Selain berperan sebagai pengembangan bahasa Indonesia, bahasa daerah juga mempunyai fungsi yang lebih khusus lagi, yakni alat komunikasi antar anggota masyarakat di desa maupun di kota serta sebagai pengantar di sekolah.
    Sesuai dengan itu, kita kembali melihat pertemuan para ahli bahasa tahun 1948 di New York, membahas bahasa yang dimiliki suku bangsa. Sehubungan dengan itu Pateda (1991:74) mengatakan bahwa menurut Lembaga Bahasa Nasional (kini Pusat Bahasa) bahwa di Indonesia terdapat 746 bahasa daerah. Khususnya untuk kelompok etnik Tidore yang merupakan salah satu di Indonesia sejak dulu telah memiliki satu bahasa pengantar dalam masyarakat dan kebudayaan yang disebut bahasa daerah Tidore. Dalam klasifikasi bahasa daerah, bahasa Tidore merupakan bahasa daerah yang perlu dilestarikan, agar bahasa senantiasa terus hidup dan dapat digunakan oleh generasi mendatang.
    Sebagai penutur bahasa Tidore, penulis merasa bertanggungjawab terhadap hidup matinya bahasa ini. Sebagaimana bahasa daerah lainnya di nusantara, bahasa ini memiliki peranan penting berbagai aspek kehidupan suku daerah Tidore, dan Maluku Utara pada umumnya. Sebagai pengantar dalam kebudayaan maupun sebagai alat komunikasi antar masyarakat. Kita dapat meneruskan kebudayaan kepada generasi berikutnya. Suatu bahasa akan mudah hilang bila tidak dilestarikan oleh penuturnya sendiri.
    Mengingat betapa besar peranan bahasa Tidore dalam masyarakatnya dan demi terpeliharanya bahasa ini agar tidak punah dan tetap lestari, maka sedini mungkin diadakan penelusuran dan penelitian yang berkenan dengan penggunaan bahasa Tidore sekarang ini. Penelusuran dan penelitian yang dimaksudkan untuk memperolah gambaran penggunaan bahasa Tidore yang baik dan benar dalam tahapan upacara adat salai Jin. Dewasa ini penulis banyak menemukan kelompok-kelompok pengguna bahasa seperti, peserta didik, generasi muda, masyarakat, bahkan keluarga seakan-akan sudah mengesampingkan bahasa Tidore sebagai bahasa daerahnya sendiri. Di daerah Tidore terdapat berbagai macam suku, agama, golongan. Penggunaan bahasa Tidore sudah mulai mendapat pengaruh bahasa lainnya baik secara lokal mapun nasional, bahkan internasional. Itu sebabnya para penutur, terutama generasi selanjutnya tidak memiliki bahasa Tidore yang asli, bahasa Tidore yang baku sudah mulai hilang. Penggunaan bahasa Tidore yang asli sudah mulai sebatas upacara-upacara adat. Daerah Tidore memiliki banyak adat. Pengembangan adat tersebut selalu menggunakan bahasa Tidore. Bahasa Tidore yang bersifat formal sudah mulai dipusatkan diupacara-upacara adat, salah satunya adalah adat salai Jin. Penulis berusaha meneliti bahasa Tidore dalam upacara adat salai Jin. Masalah seperti di atas perlu mendapat penanganan secara khusus dari pihak yang berhubungan langsung dengan kelestarian. Mengadakan penelitian yang berkenaan dengan penggunaan bahasa Tidore dalam upacara adat ini, sekaligus mencari solusinya.
    Sehubungan dengan kegiatan penelitian dimaksudkan penulis berdasarkan kepada kaidah bahasa Tidore yang baik dan benar sesuai sebagaimana yang diharapkan. Bertitik tolak permasalahan tersebut dan mengingat pentingnya bahasa daerah sebagai pendukung kebudayaan nasional, tidak salahnya peneliti melakukan penelitian bahasa Tidore di upacara adat, yakni upacara adat salai Jin. Upacara ini secara umum bermaksud mengobati orang sakit, mendoakan hasil panen, meramalkan kehidupan masa depan, sesuai dengan permintaan. Dalam upacara ini bahasa yang digunakan yakni bahasa Tidore. Bahasa Tidore yang digunakan pada adat tersebut yakni bahasa yang belum terpengaruh dengan bahasa lain. Sehingga dalam penelitian ini penulis membatasi pada pemakaian bahasa Tidore pada saat berlangsungnya tapan upacara dan lebih mengkhususnya pada peserta upacara.
    Dalam Undang-Undang RI No 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 42 dirumuskan bahwa “ bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal dan sejauh diperlukan dalam menyampaikan pengetahuan dan keterampilan tertentu”.
    Dengan adanya kenyataan di atas dalam rangka peningkatan dalam pengembangan bahasa Tidore serta demi kelestarian bahasa ini agar tidak akan mengalami masalah yang lebih kompleks maka penulis berhasrat meneliti bahasa di maksud yakni bahasa daerahnya sendiri. Bertempat di Desa Kalaodi Kota Tidore Kepulauan Propinsi Maluku Utara.

    1.2 Identifikasi Masalah
    Berdasarkan kenyataan bahwa penggunaan bahasa Tidore sekarang ini telah sering menyalahi aturan bahasa yang sebenarnya. Hal ini dapat kita lihat pada komunikasi sehari-hari antara anggota masyarakat pemakai bahasa. Terutama pada generasi muda. Bila mendengar seorang penutur bahasa Tidore sering mencampuradukan pemakaian bahasa Tidore dengan bahasa lain atau dialeknya, kini pertanda bahwa bahasa Tidore telah memperlihatkan kemerosotan bila dibandingkan dengan masa Kerajaan Sultan Nuku.
    Seperti kita ketahui dalam pengembangan dan pelestarian adat dan budaya daerah, bahasa daerah tidak dapat dipisahkan, bahasa daerah memegang peranan penting dalam upacara adat khususnya daerah Tidore. Menurut Pateda (2003:15) mengatakan “bahwa bahasa daerah adalah bahasa yang lazim digunakan dalam satu daerah sebagai alat komunikasi dalam segala hal”. Penggunaan Bahasa Tidore mempengaruhi pengembangan adat Tidore sebab dalam pengembangan adat harus dibarengi dengan kemampuan penguasaan kita terhadap bahasa daerah itu sendiri. Sering orang menyalahi aturan dalam pengembangan adat dan budaya daerah, salah satunya bahasa daerah, maka yang terjadi bukan berkembang budaya daerah tetapi menunjukan kemerosotan budaya daerah itu sendiri. Melihat betapa pentingnya penggunaan bahasa daerah olah semua kalangan seperti telah dikemukakan terdahulu maka penulis ingin menelusuri bagaimana penggunaan bahasa Tidore khususnya pada tahapan upacara adat salai Jin, dengan berbagai macam permasalahnnya demi kelestarian bahasa yang sama-sama kita cintai.

    1.3 Batasan dan Rumusan Masalah
    Berdasarkan masalah yang diuraikan dan sesuai judul diangkat maka penulis meneliti dan memilih diupacara adat tersebut. Untuk penelitian ini penulis membatasi pada penggunaan bahasa Tidore dalam tahapan upacara adat salai Jin.
    Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas dan sesuai dengan judul yang diangkat, maka penulis mengemukakan permasalahan dalam penelitian ini yakni.
    Bagaimana penggunaan bahasa Tidore dalam tahapan upacara adat salai Jin?

    1.4 Definisi Operasional
    Bahasa Tidore adalah bahasa pengantar yang dimiliki oleh suku Tidore yang berada di propinsi Maluku Utara. Sehubungan dengan itu, Pateda (2003:15) mengemukakan bahwa “bahasa daerah adalah bahasa yang dipakai oleh penutur bahasa daerah yang tinggal di daerah tertentu”. Misalnya bahasa Tidore, Gorontalo, Jawa, Bali, Sunda, Makasar, Bugis, Batak dan lain-lain.
    Seperti telah kita ketahui, bahwa penggunaan bahasa Tidore di kalangan masyarakat sangatlah beragam dan berbeda-beda. Dapat kita lihat dalam komunikasi setiap hari, misalnya dalam penggunaan kata ngare, kata ngare manunjukan saya kemudian berubah menjadi ngori kata ngori akibat pengruh dari bahasa Ternate sebab bahasa Ternate untuk mengatakan saya adalah ngori sehingga kata ngare menjadi ngori menunjukan saya (laki-laki). Untuk mengembalikan bahasa asli memang sangatlah sulit. Oleh karena itu penulis melakukan penelitian bahasa Tidore pada upacara adat salai Jin sebab bahasa dalam adat ini masih memiliki keasliannya. Kemudian secara nasional kita melihat bahwa bahasa Tidore ini mencerminkan suku bangsa, dan untuk etnik Tidore, bahasa Tidore merupakan bahasa pengantar dalam masyarakat dan kebudayaan.

    1.5 Tujuan dan Manfaat Penulisan
    1.5.1 Tujuan
    Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan di atas, maka secara umum penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang aktual tentang penggunaan bahasa Tidore sebagai salah satu bahasa daerah yang harus di pertahankan agar tidak punah. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki atau meluruskan dan mengembalikan bahasa dan adat serta budaya Tidore, sebab bahasa adalah identitas budaya daerah atau identitas budaya bangsa. Bangsa atau daerah yang sudah hilang budayanya maka daerah tersebut hilang kepribadaian daerah atau bangsa itu sendiri.
    Mengembalikan bahasa sesuai dengan kaidah bahasa yang baik dan benar, agar bahasa yang dimiliki tidak terjadi kemerosotan. bila terjadi kemerosotan maka sangatlah sulit untuk mengembalikannya. Oleh karena itu tujuan utama adalah memberikan penjelasan bagaimana penggunaan bahasa Tidore dalam upacara adat salai Jin, seperti apa yang menjadi harapan penulis.

    1.5.2 Manfaat Penelitian
    1.5.2.1 Bagi Penulis
    Hasil kajian masalah dalam penelitian ini lebih membuka wawasan penulis tentang linguistik yang selama ini hanya dalam bentuk teori. Praktek penerapan teori linguistik dalam berbahasa khususnya bahasa Tidore lebih membantu penulis untuk memahami linguistik dengan berbagai persoalannya. Selama ini pengkajian tentang bahasa adat belumlah banyak yang seperti penulis lakukan, semoga lewat penelitian ini dapat membentu, memberikan semangat lebih berkesinambungan untk mengembangkan bahasa Tidore ini, sebab bagi penulis, bila bahasa tidak di pelihara dengan pembukuan-pembukuan maka bahasa lambat laun akan mengalami perubahan terutama pada kaidah penggunaannya.
    Usaha mengadakan penelitian tentang penggunaan bahasa Tidore dalam tahapan upacara adat sali Jin membuka peluang pada penulis untuk memahami teori linguistik, dan aturan penggunaan bahasa Tidore yang akan digunakan dalam masyarakat dan dalam permasalahan dalam penelitian ini. Selain itu dengan melaksanakan penelitian ini telah memberikan gambaran bagi penulis sampai sejauhmana penggunaan bahasa Tidore secara baik dan benar sesuai dengan kaidah bahasa Tidore sebagai bahasa daerah yang perlu mendapat perhatian khusus agar kelestariannya tetap terpelihara dengan baik. Penelitian ini pula penulis dapat menerapkan dalam pengajaran bahasa lainnya selain bahasa Tidore, sebab analisis bahasa itu pada dasarnya adalah sama yakni berdasarkan analisis ada teori linguistik. Tujuannya adalah sama yakni agar tercapai penggunaan bahasa yang baik dan benar sesuai dengan kaidah.

    1.5.2.2 Bagi Guru
    Sesuai dengan tujuan kegiatan mengajar di Sekolah. Guru selain menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar juga dituntut sedikit menguasai bahasa daerah misalnya bahasa Tidore, sebab sekolah yang ada dibagian pedesaan siswa belum menggunakan behasa Indonesia dengan baik dan benar. Dalam pengajaran bahasa Indonesia di pedesaan guru minimal mempunyai keterampilan menggunakan bahasa daerah walaupun hanya sebatas pada komunikasi sehari-hari agar apa yang menjadi tujuan daripada pembelajaran itu sendiri dapat tercapai.
    Guru kemudian memberikan penjelasan dalam pembelajaran harus sedikit menggunakan bahasa Tidore agar pemahaman siswa yang belum menguasai bahasa Indonesia dengan baik dapat memahami apa yang guru sampaikan. Menjdi persolan sekarang bahwa siswa tidak dapat memahami apa menjadi penyampaian guru iu sendiri karena guru adalah sebagai pemberi penjelasaan.
    Penelitian ini dapat diharapkan memberikan manfaat pada guru seperti dipaparkan berikut.
    1. Dapat mengenal bahasa Tidore dengan baik dan benar.
    2. Sebagai bahan acuan dalam pengajaran khususnya mata pelajaran muatan lokal.
    3. Sebagai dasar untuk mengadakan interpretasi terhadap kesalahan berbahasa yang dilakukan oleh pengguna bahasa.

    1.5.5.3 Bagi Masyarakat
    Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, semua unsur kehidupan mengalami perubahan baik, salah satunya adalah budaya terutama budaya daerah dalam perkembangan itu yang salah satu yang vital dapat dipengaruhi adalah bahasa, dan pemakai bahasa ini adalah masyarakat itu sendiri, masyarakat sering tidak lagi menggunakan kata-kata bahasa daerah yang asli karena alasan-alasan harus yang kurang tepat yakni harus sisipkan kata-kata bahasa lain dengan bahasanya sendiri terutama bahasa inggris, apalagi bahasa inggris sebagai bahasa internasional.
    1. Dengan penelitian ini masyarakat dapat memperoleh pengetahuan tentang bahasa Tidore secara baik dan benar sesuai kaidah.
    2. Dapat menjadi bahan perbandingan untuk memahami masalah lain yang berhubungan dengan penggunaan bahasa Tidore.
    3. Dapat memperoleh gambaran tentang bagaimana pemakaian bahasa Tidore dimasa lalu, kini dan masa yang akan datang.

    1.5.5.4 Bagi Pemerintah
    Menjadi masukan buat pemerintah, yakni membina, menjaga dan bertanggungjawab penuh terhadap kebudayaan daerah, khususnya bahasa Tidore ini. Dapat kita lihat kurang percaya diri lagi generasi muda dalam menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar dalam hubungan sosial khususnya di etnis atau suku Tidore itu sendiri, maka dengan demikian kita dapat memprediksi bahasa Indonesia akan mengalami kemerostan yang sangat besar. Kemudian yang berusaha untuk menjaga budaya daerah adalah salah satunya pemerintah. Agar daerah Tidore memeiliki budaya yang tinggi dan membentuk tatanan sosial dengan mempertahankan nilai-nilai budaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: