TEKNIK PRAKTIS MENULIS BUKU ANAK

Oleh : J.Haryadi

Menulis sebetulnya adalah pekerjaan yang sangat mudah, semudah kita ketika berbicara dengan orang lain. Menulis menjadi pekerjaan sulit ketika kita merasa ada aturan-aturan yang membebani pikiran kita. Aturan-aturan menulis yang tadinya bermaksud membuat seseorang menjadi penulis yang baik akhirnya justru membunuh kreativitas penulis itu sendiri, sehingga tanpa disadari telah membelenggu pikiran-pikiran kita. Padahal pada hakekatnya menulis itu seharusnya sangatlah mudah, semudah ketika kita berbicara dengan teman kita atau seindah ketika kita berbicara dengan anak kita sendiri, mengalir apa adanya.

Masih ingatkah ketika kita masih kecil ? Orangtua kita sering mencerikan sebuah dongeng menjelang tidur. Kita mungkin tidak tahu dongeng itu berasal dari mana, tetapi yang jelas kita merasa nyaman dengan kisah yang dicerikan orang tua kita. Saking asiknya mendengarkan cerita tersebut, tak terasa kantukpun datang menjemput, dan kisah dongengpun terbawa dalam buaian mimpi-mimpi indah.

Dongeng sebelum tidur yang diceritakan oleh orangtua kita biasanya didapatkan secara turun temurun. Mungkin saja kisah tersebut sudah tidak otentik seperti kisah aslinya, namun pesan yang disampaikan biasanya sama, yaitu pesan moral tentang kebaikan melawan kejahatan. Menulispun pada prinsipnya hampir sama dengan bercerita, hanya perbedaannya terletak pada media penyampaiannya. Kalau bercerita menggunakan mulut, maka menulis menggunakan tangan. Kalau bercerita menghasilkan suara yang di dengar oleh telinga, sedangkan menulis menghasilkan tulisan untuk dibaca.

Dalam agama Islam, menulis merupakan suatu perintah dari Allah SWT. Perintah yang pertama adalah membaca (Iqro). Melalui membaca kita akan mendapatkan ilmu pengetahuan. Perintah berikutnya adalah mengamalkan dan menyebarkan ilmu yang sudah diperoleh. Penyebaran ilmu bisa menggunakan dua cara, yang pertama secara lisan (disampaikan langsung melalui mulut) dan yang kedua melalui tulisan. Kelemahan menyampaikan pesan melalui lisan adalah karena sering terjadi kesalahan dalam penyampaian informasi akibat faktor kelalaian (lupa). Sedangkan menyampaikan pesan melalui tulisan umumnya mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya adalah informasi bisa terjaga karena dibuat secara hati-hati dan sudah dikoreksi sebelumnya dari berbagai kesalahan. Disamping itu, melalui tulisan akan lebih banyak orang yang dapat mempelajarinya, sehingga tentu saja dapat menambah amalan kita.

Sebagai seorang pendidik atau orangtua seharusnya kita memiliki kemampuan dan keterampilan menulis. Mengapa demikian ? Karena dengan menulis bisa meningkatkan kecerdasan kita. Menulis tentunya memerlukan bahan, diantaranya dengan membiasakan diri membaca berbagai sumber seperti koran, buku atau majalah. Bahan tulisan bisa saja bersumber dari pengalaman sehari-hari, misalnya saja kita punya pengalaman cara mendidik anak yang tadinya nakal sehingga menjadi anak yang baik. Atau kita mendengar cerita dari teman kita bagaimana dia mengatasi anaknya yang hampir terjerumus narkoba. Semua itu bisa kita ceritakan kembali ke dalam buku dengan bahasa kita sendiri, sehingga bisa dibaca banyak orang dan menjadi sarana kita untuk berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan.

Menulis juga bisa menjadi obat stress. Orang yang pendiam, biasanya sering menyimpan dalam hati berbagai hal yang menyangkut perasaannya. Ia tidak terbiasa mengutarakan perasaannya pada orang lain secara lisan. Kalau dibiarkan, hal ini lama-lama bisa menjadi penyakit. Melalui kegiatan menulis kita dapat mengeluarkan uneg-uneg kita yang terpendam dan sulit untuk diucapkan atau dikeluarkan dengan kata-kata. Tulis saja apa yang ada dikepala kita, biarkan dia mengalir apa adanya. Jangan hiraukan susunan kalimat ataupun aturan-aturan penulisan lainnya. Biarkan semuanya tertuang dan tumpah ke atas kertas. Dengan menulis pikiran kita menjadi tenang dan beban yang ada di batin  menjadi berkurang. Jadikanlah pena sebagai sahabat dan kertas sebagai kerabat.

Kesulitan pertama yang dijumpai oleh seorang penulis pemula adalah Ide. Umumnya mereka akan bertanya, “Mau menulis apa ya ? Rasa-rasanya susah cari ide yang menarik !”. Padahal Ide itu merupakan langkah awal untuk menulis. Tanpa ide, tak ada tulisan ! Oleh sebab itu sebaiknya seorang penulis membiasakan membuat buku harian. Jadi kalau lagi bingung, gak ada ide, ya menulislah ! Apa yang harus ditulis ? Apa saja yang sedang menari-nari di kepala anda ! Curahkan saja diatas kertas, apa sih susahnya ! Atau ketika kita sedang kesal karena sesuatu dan lain hal, dari pada kita ngomel sendiri, lebih baik kekesalan kita tersebut dituangkan dalam bentuk tulisan. Tumpahkan saja sumpah serapah kita diatas kertas ! Nanti kalau pikiran kita sudah mulai tenang, coba kita baca tulisan tadi, pasti kita akan kaget dan terkesima. Kita pasti merasa itu bukan diri kita. Betul ! Memang kalau kita sedang marah, ada peran setan juga disana. Nah, ketika pikiran kita sedang normal, pasti kita akan berusaha merevisi tulisan tersebut. Artinya disini kita sudah belajar menjadi seorang editor dari tulisan kita sendiri. Bukan tidak mungkin hasil coretan-coretan di buku harian tersebut membuatkan ide untuk menulis buku, misalnya diberi judul “ SERIBU KATA YANG TERPENDAM : Strategi jitu melawan kekesalan

Bagaimana kalau kita susah mendapatkan ide untuk menulis ? Banyak ! Diantaranya adalah misalnya dengan mencari berbagai aktivitas seperti membaca koran, majalah atau buku, menonton film atau TV, berjalan-jalan atau bisa juga dengan mengajak teman berdiskusi. Ide bagi seorang pengarang berpengalaman mempunya arti yang sangat penting. Ide yang lahir, walaupun hanya sebuah kalimat pendek, bahkan sebuah katapun dapat dijadikan sebuah bahan tulisan yang dibumbui dengan catatan atau pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain.

Kemampuan mengembangkan ide merupakan suatu keahlian atau pengalaman yang terlatih. Penulis yang sudah terlatih, disiplin, dan tekun biasanya tidak pernah kehabisan ide untuk mengembangkan idenya. Bahkan ketika serang penulis sedang menulis sesuatu, terkadang tiba-tiba saja ide-ide nakal hinggap dikepalanya. Jika hal ini terjadi, hentikan dulu meneruskan tulisan tadi, catat dan segera tulis dalam buku kecil kita gagasan yang mampir tersebut, sehingga suatu saat bisa menjadi tulisan kita berikutnya.

Ada juga sebagian orang yang berpendapat bahwa keterampilan menulis merupakan bakat, sehingga ketika ia gagal membuat sebuah tulisan lantas mengatakan kalau dirinya tidak mempunyai bakat menulis. Akhirnya kreativitas pun berhenti dan dia pun tak pernah menulis lagi. Karena pengalaman tersebut, tidak jarang banyak yang mengeluh, “Menulis adalah pekerjaan yang susah dan membosankan !”. Lalu timbul pertanyaan, “Apakah menulis itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang berbakat saja ?”.

Ternyata, menurut pendapat Abdul Hadi WM, dalam kaitannya dengan kemahiran menulis, bakat hanya mempunyai porsi 5%, keberuntungan 5%, sedangkan sisanya yang terbesar yaitu 90% adalah tergantung kepada kesungguhan dan kerja keras. Hal itu sebenarnya cukup masuk akal, karena pada dasarnya setiap orang yang bisa menulis pasti telah memiliki bakat. Masalahnya adalah bagaimana cara mengembangkan kemampuan menulis tersebut sehingga bisa enak dibaca dan mudah dimengerti oleh orang lain.

Untuk menjadi penulis yang baik, kita harus membiasakan diri menulis. Kate Di Camillo, yang memenangkan penghargaan Newberry Book lewat buku anak-anaknya “The Desperaux” (penghargaan ini juga diperoleh Laura Ingalls Wilder lewat karyanya yang terkenal “Little House on the Praire“) mengaku menulis sebanyak dua halaman setiap subuh selama lima hari, mulai dari Senin sampai Jumat, sebelum ia berangkat kerja ke toko buku.

Steinbeck, yang dikagumi oleh Pramoedya karena berhasil mengungkap detil-detil yang hebat dalam tulisannya, menulis apa saja ketika bangun tidur. Dia menulis apa saja yang melintas di kepalanya (mungkin kebanyakan berisi penggalan kisah-kisah yang direkonstruksi untuk novelnya), lalu ia mandi. Setelah mandi dan beristirahat sebentar, ia melanjutkan kembali tulisannya dengan cara menulis ulang ide-idenya tadi dengan pikiran yang lebih jernih dan bahasa yang lebih baik.

Kita perlu konsisten  dalam menetapkan target (deadline) sendiri. Seperti kata Andrias Harefa, ”Kalau seorang penulis tak bisa memenuhi janjinya sendiri untuk menulis, lebih baik jadi politisi saja”. Penentuan jadual dan target yang jelas, bisa membuat tulisan yang sudah dimulai menjadi selesai. Tanpa ada keinginan yang kuat dalam diri kita untuk menyelesaikannya, maka jangan berharap kita bisa menjadi seorang penulis.

Apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan dalam membuat sebuah buku ? Berikut ini ada beberapa langkah umum yang biasa dilakukan dalam membuat sebuah buku yaitu :

1. Menentukan Tema

Tulislah sesuatu hal yang kita kuasai atau paling kita sukai. Misalnya jika sedang menulis fiksi, Kita dapat menulis genre yang Kita sukai, misalnya membuat novel bertema horor, kisah petualangan atau percintaan romantis. Kalau kita ingin menulis buku non fiksi, misalnya buku tentang masakan daerah (karena kita suka jajan dan suka memasak), buku tentang cara mendidik anak (karena kita guru), buku tentang seni bergaul dengan tetangga (karena kita seorang ibu rumah tangga) dan sebagainya. Sebenarnya Kita tidak dilarang untuk menulis di luar bidang yang Kita kuasai, tetapi Kita akan jauh lebih mudah menulis bidang yang Kita kuasai, dan pada akhirnya buku Kita akan jauh lebih cepat terbitnya.

2. Melakukan Riset

Menulis hanya dengan mengandalkan ingatan saja tentu tidak cukup, kita memerlukan berbagai data sebagai referensi tulisan yang akan kita buat. Data tersebut bisa bersumber dari sesuatu yang kita baca dan kita catat, misalnya dari buku, majalah, surat kabar atau surfing di internet. Atau bisa juga hasil dari menonton televisi atau film, mendengarkan radio, mewawancarai seseorang dan lain sebagainya. Kumpulkan semua data dalam satu tempat agar mudah mencarinya. Pastikan bahwa data yang Kita miliki valid dan akurat, sehingga apa yang Kita tulis dapat dipertanggung jawabkan.

3. Membuat kerangka tulisan (outline)

Beberapa penulis kadang-kadang melewatkan tahap ini. Mereka hanya mengandalkan ingatannya saja, dan biasanya langsung menulis apa yang ada di kepalanya. Tetapi kemampuan ini tidak dimiliki oleh semua orang. Sebaiknya Kita tetap membuat kerangka atau outline ini agar tulisan Kita memiliki konsistensi dan alur yang baik. Kita akan dengan mudah melihat alur tulisan dengan hanya membaca kerangkanya saja.

4. Mengatur Waktu

Buatlah jadual atau agenda untuk menyelesaikan tulisan kita. Memang, sebagian besar penulis tidak mau membuat agenda khusus untuk naskah yang akan ditulisnya, akibatnya buku tersebut sering terbengkalai dan tidak pernah selesai. Sebaiknya  kita untuk membuat agenda yang jelas, sehingga punya target untuk menyelesaikannya.

5. Mulai menulis

Carilah waktu untuk menulis. Setiap penulis punya kebiasaan yang berbeda-beda. Ada yang menyediakan waktu khusus, ada pula yang tidak. Bisa juga kita menulis di pagi hari setelah bangun tidur, atau justru malam hari sebelum tidur. Semua tergantung kebiasaan kita. Yang terpenting, mulailah menulis dan jangan cari alasan yang membenarkan kemalasan kita untuk tidak menulis.

6.   Mengevaluasi kembali tulisan.

Setelah naskah kita selesai, sebaiknya dibaca ulang. Kalau perlu minta teman kita untuk membacanya dan mintalah komentar dari mereka. Pasti kita akan menemukan berbagai hal yang mungkin kekurangsempurnaaan dari tulisan kita. Maka, perbnaikilah tulisan tersebut sehingga menjadi lebih baik. Lakuka hal tersebut berulang kali sampai kita merasa nyaman dan merasa puas dengan karya kita sendiri.

7.   Mengirim Naskah ke Penerbit

Jangan biarkan naskah buku yang sudah kita buat dengan susah payah menjadi tidak berguna. Cari penerbit buku yang cocok dengan tulisan kita. Caranya ? Gampang ! Pergi ke toko buku, lalu cari buku-buku yang mirip dengan tulisan kita. Lalu kita beli dan catat nama dan alamat penerbit buku tersebut. Kemudian segera kirimkan buku tersebut melalui paket pos atau via e-mail. Kalau kita kebingungan, hubungi pengurus API Kota Cimahi atau API Jawa Barat, kami siap membantu menyalurkannya ke penerbit.

Advertisements

3 responses

  1. Terima kasih Pak Haryadi.
    Saya punya putri 10 tahun, dia sangat gemar menulis dan membaca. Saya fasilitasi semuanya, file-file tulisannya juga cukup banyak tersimpan di komputernya. Dia suka menulis fiksi cerita anak, walaupun menurut saya bagus tapi kalo dibandingkan dengan tulisan2 di buku di toko (misal Gramedia) sepertinya masih perlu banyak perbaikan. Karena keterbatasan saya sendiri, saya merasa tidak cukup mampu.
    Dimanakah dibandung ini forum atau sanggar tempat berkumpulnya anak untuk belajar menulis mengembangkan bakat menulisnya? tentu saja yg ada pembimbingnya.

    Dmk.tx.bstrgds
    Umar Syahid

    1. Assalamu’alaikum …
      Saya senang sekali Anda mempunyai putri yang berbakat menulis. Kalau boleh, coba bapak kirim tulisan putri Bapak ke email saya untuk dipelajari. Oya…Bapak bisa bikin blog gak ? Kalo bisa, coba bikinkan putri bapak sebuah blog dan tampilkan karyanya disana, seperti salah seorang murid saya yang bernama Fanny, usianya gak jauh dari putri Anda. Bapak bisa kunjungi blognya di http://fanny99.blogspot.com.
      Saya belum tahu Sanggar yang mengadakan kursus menulis buku/cerita yang Bapak maksudkan, tetapi saya akan coba cari informasinya. Saya juga bersedia membina putri bapak, baik secara langsung via internet. Kalau boleh tahu, alamat bapak dimana ? atau Kalo ada waktu kita bisa ktemu di Gramedia merdeka, kebetulan saya mau mengadakan kegiatan bedah buku bulan Februari yang akan datang.
      bapak bisa hubungi saya di 0817 617 058 (J.Haryadi/Pak Arie)

  2. Tulisan yang mencerahkan. Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: