Sopir Elit Tidak Bersyukur

By. J. Haryadi

Sudah 15 tahun pemuda itu bekerja di sebuah perusahaan besar, tetapi ia merasa kesejahteraannya tidak diperhatikan oleh perusahaan tempat ia bekerja. Ia merasa gajinya relatif lebih kecil dibandingkan dengan gaji sopir lain di perusahaan tersebut, padahal jabatannya adalah sopir pribadi Bos dan biasa membawa mobil mewah yang mempunyai resiko cukup tinggi. Ia merasa sudah sepantasnya mempunyai gaji lebih tinggi dibandingkan gaji sopir lainnya diperusahaan tempat ia bekerja. Sudah lama ia memiliki uneg-uneg yang ingin disampaikannya ke bagian personalia, namun baru kali ini kesempatan itu didapatnya. Ketika itu kebetulan Bosnya sedang berpergian keluar negeri, iapun menghadap direktur personalia ingin menyampaikan keluhannya.

“Selamat pagi pak …”, sapa sopir pribadi tersebut ketika mulai memasuki ruangan direktur personalia.

“Selamat pagi…..silahkan duduk  Mang Dudung”, jawab sang direktur dengan ramah.

“Maaf pak mengganggu….saya ada sedikit uneg-uneg pak, muda-mudahan Bapak mau mendengarkan keluhan saya ini “, kata Mang Dudung mengawali pembicaraannya.

“Silahkan….saya akan mendengarkan. Apa yang menjadi keluhan dan protes mang Dudung ? Mudah-mudahan saya bisa membantu mencari solusinya….”, jawab direktur personalia tersebut.

“Begini pak….sudah 15 tahun saya bekerja disini, saya merasa kesejahteran saya tidak diperhatikan. Coba bapak lihat, gaji saya sama dengan gaji pak Roni, sopir truk perusahaan yang baru bekerja 7 tahun, padahal saya lebih lama bekerja dibandingkan dia. Lagian, saya kan bawa mobil bos yang mahal-mahal, seharusnya gajinyanya juga mahal. Masak sopir Mercy gajinya gajinya sama dengan gaji sopir mobil truk yang usia kerjanya dibawah saya ? ini tidak adil pak ! Mohon dipertimbangkan agar gaji saya disesuaikan, kalo bisa lebih tinggi dari gaji sopir lainnya …..begitu pak !”, kata Mang Dudung dengan nada pilu.

“Ooooo….begitu ! jadi selama ini mang Dudung merasa tidak bahagia dan merasa tidak diperhatikan kesejahteranya oleh perusahaan ?”

“Betul pak…..kira-kira begitulah !”

Direktur personalia itu hanya tersenyum kecil. Matanya menerawang keatas. Sekilas ia teringat kejadian lima belas tahun yang silam. Waktu itu ia masih jadi pegawai biasa dan belum memiliki jabatan seperti sekarang. Ia ingat ketika itu dikantornya membutuhkan seorang tukang kebun untuk membersihkan taman dikantornya. Saat itu kebetulan ia mengenal mang Dudung muda yang lulusan SD, pengangguran namun baik dan suka menegurnya ketiga hendak berangkat ke kantor. Atas kebaikannya ia membawa Mang Dudung untuk bekerja di kantornya sebagai tukang kebun dengan status pegawai honorer.

Mang Dudung muda memang tipikal pekerja yang ulet, jujur dan taat ibadah. Pribadinya yang rendah hati, lugu dan taat ibadah sangat disukai banyak orang, sehingga lambat laun nasibnya pun ikut berubah. Diwaktu senggang ia manfaatkan belajar menyetir mobil. Ketika ada posisi sopir pribadi yang kosong ia ditawari untuk mengisi posisi tersebut. Nasibnya memang lagi mujur,  ia ditawari menjadi sopir pribadi direktur utama perusahaan tempat ia bekerja.

Tentu saja nasib baik terus mengikutinya. Tak lama kemudian ia sudah diangkat sebagai pegawai tetap. Karena Bosnya merasa cocok, sampai sekarang jabatannya tidak pernah bergeser, padahal sudah lama ia bekerja disana, sementara teman-teman lainnya sudah berpindah posisi dan jabatan.

“Mang Dudung ..…”, kata Sang direktur personalia, setelah buyar dari lamunannya.

“Saya sebetulnya iri dengan Mang Dudung”, tambahnya.

“Maksud bapak …?”

“Begini mang Dudung….dari dulu saya selalu bermimpi ingin bisa memiliki dan menikmati mobil mewah, tapi gak kesampaian. Tetapi mang dudung, hampir setiap hari mengunakan mobil mewah, bahkan lebih sering dibandingkan pemilik mobil tersebut. Bahkan mand Dudung justru lebih beruntung. Mang Dudung bisa mengendarai mobil mewah tetapi tidak pernah mengeluarkan biaya sepeserpun, bahkan mendapat uang. Coba mang Dudung bayangkan, pak Direktur pasti akan mengeluarkan biaya yang besar untuk mobil tersebut, biaya pajaknya, perawatannya, bensinnya, biaya tol, biaya parkir, tips dan lain-lain, sedangkan mang dudung tidak perlu mengeluarkan itu semua. Sudah seharusnya mang dudung bersyukur, walau tidak memiliki mobil mewah, namun bisa menikmati mobil tersebut bahkan jauh lebih sering dibandingkan pemiliknya sendiri. Benar gak mang dudung ……?”, kata sang direktur menyindir sopir tak tahu diri tersebut.

“benar sih….tapi, gaji saya kok tidak lebih besar dibandingkan gaji sopir lainnya, padahal saya kan sopir Bos ? ini gak adil pak ! Sudah seharusnya gaji saya yang paling tinggi, bukankah mobil yang saya kendarai juga adalah mobil yang paling mahal ?”, balas sopir kurus itu gak mau kalah.

“Betul mang dudung…..tetapi mang Dudung tahu gak kalo pendidikan mereka jauh lebih tinggi dari mang Dudung. Ambil contoh pak Abdul, sopir truk perusahaan kita. Walau baru bekerja 5 tahun, tetapi latar belakang pendidikannya adalah D3, sedangkan mang Dudung SD. Sebelum bekerja di perusahaan kita, pak Abdul juga sudah pernah bekerja di perusahaan lain selama 5 tahun. Belum lagi beban kerjanya jauh lebih berat dibandingkan dengan mang dudung. Lagian mang dudung latar belakangnya dulu pengangguran dan tukang kebun dengan latar belakang pendidikan SD. Kalo mang dudung lebih banyak santainya dibandingkan kerjanya, sedangkan pak Abdul harus pergi keluar kota mengantar barang perusahaan selama berjam-jam, bahkan kadang-kadang sampai 2-3 hari diluar kota. Belum lagi kalo ada masalah dijalan harus dia atasi sendiri. Sementara Mang dudung gak perlu repot-repot kalo jalan dengan Bos, semua resiko sudah ditanggung bos. Mang Dudung cukup duduk manis saja, setiap bulan dapat gaji. Hampir dipastikan gaji mang dudung tak terganggu karena dekat dengan bos pasti mendapat makan gratis juga. Jadi apanya yang jadi masalah mang Dudung…harusnya mang Dudung banyak bersyukur. “, kata direktur personalia itu menjelaskan.

“Maafkan saya Pak….”, kata mang Dudung tertunduk lesu.

“Tetapi kalo mang Dudung gak puas dengan penjelasan saya gak apa-apa. Keluhan ini akan saya sampaikan kepada beliau. Tetapi ada resikonya lho. Kalo Pak direktur tidak berkenan, Bapak mungkin bisa dipindahkan ke bagian lain yang membutuhkan keahlian dan beban pekerjaan yang lebih berat dengan fasilitas jauh lebih sedikit dibandngkan engan apa yang sudah mang Dudung peroleh selama ini. Atau mang Dudung boleh mengundurkan diri dari perusahaan ini dan mencari prusahaan lain yang sanggung membayar mang Dudung dengan gaji yang lebih besar. Tetapi saya yakin kalo perusahaan lain tidak akan mau menerima mang Dudung mengingat latar belakng pendiikan mang Dudung sangat terbatas. Jadi semuanya saya kembalkan ke mang Dudung, mau bersyukur dan berusaha menikmati apa yang sudah diperoleh selama ini atau …..”

Belum selesai Pak direktur personalia itu menyelesaikan kalimatnya, mang Dudung sadar akan kekeliruannya. Iapun mohon agar pembicaraan itu diangaap tidak ada dan segera berlalu dengan perasaaan menyesal.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: