SELAMATKAN KAMPUNG NAGA

Penulis : TOTO SUHARYA

Kasus penutupan Kampung Naga terdengar untuk kesekian kalinya. Kasus ini mencuat setelah pemerintah mencabut subdisi minyak tanah untuk rakyat dan mengkonversikannya ke penggunaan bahan bakar gas. Akibatnya harga minyak tanah eceran melambung hingga 10.000/liter dan sulit didapat. Di sisi lain, ternyata kebijakan ini tidak hanya menyulitkan masyarakat adat Kampung Naga secara ekonomi, tetapi lebih dari itu mengancam kehidupan khas masyarakat adat Kampung Naga.

Penutupan Kampung Naga mestinya tidak perlu terjadi berulang kali, manakala pemerintah menyadari posisi masyarakat adat Kampung Naga dalam kehidupan masyarakat moder saat ini. Artinya pemerintah tidak bisa memaksanakan perubahan-perubahan pada masyarakat adat Kampung Naga, karena mereka adalah masyarakat tradisional warisan budaya jati diri bangsa dan harus dijaga kelestariannya.

Pemerintah harus menyadari, masyarakat Kampung Naga berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Masyarakat Kampung Naga adalah masyarakat adat yang taat memegang tradisi. Dalam kondisi apapun mereka akan tetap memegang teguh tradisi, sebab mereka berkeyakinan dengan berpegang teguh pada tradisi, kesejahteraan, ketentraman dan kelesamatan hidup bisa mereka dapatkan.

Masyarakat adat Kampung Naga adalah aset budaya Sunda yang tidak ternilai harganya. Sekarang, masyarakat adat Kampung Naga bukan lagi milik orang Sunda tetapi sudah menjadi milik bangsa Indonesia bahkan masyarakat Internasional.

Daya tarik masyarakat adat Kampung Naga adalah m mereka masih memiliki pola pikir dan pola hidup yang khas bersumber pada norma adat mereka secara turun temurun. Sebagaimana dikatakan oleh sesepuh Kampung Naga, ada beberapa pikukuh (aturan) yang masih dipegang teguh oleh masyarakat adat Kampung Naga, salah satunya dalam hal penerangan. Masayrakat adat Kampung Naga tidak bisa menggunakan lampu penerangan diluar bahan bakar minyak tanah. (PR/19/06/2009). Kalau kita tanya, mengapa? Ya percuma saja kita tanyakan, karena itulah keyakinan atau tradisi masyarakat Kampung Naga, dan kita tidak bisa membantah atau memaksa mengubahnya.

Permasalahan ini sebenarnya bukan masalah pelik jika pemerintah punya pandangan yang benar dan memahami posisi masyarakat adat Kampung Naga. Ketidakpahaman pemerintah terlihat manakala pemerintah provinsi Jawa Barat menawarkan lampu penerangan hemat energi bertenaga surya kepada masyarakat Kampung Naga. Di pikiran pemerintah, mungkin dengan memberikan bantuan listrik tenaga surya kepada masyarakat adat Kampung Naga bisa lebih menentramkan dan mensejahterakan masyarakat adat Kampung Naga, karena mereka bisa mendapat penerangan secara gratis. Padahal sebaliknya, tawaran pemerintah itu adalah naif dan melecehkan masyarakat adat Kampung Naga itu sendiri.

Kita tahu, masyarakat adat sangat taat pada tradisi, maka dengan cara apapun kita membujuk mereka tidak akan berani melanggar adat. Bagi mereka, meyakini norma-norma adat, seperti masyarakat kita meyakini ajaran-ajaran agama. Jadi pemerintah tidak bisa menganggap enteng masalah ini dengan memaksakan “mengganti penerangan lampu minyak tanah masyarakat Kampung Naga dengan tenaga surya”, sebaliknya pemerintah harus bertanggung jawab untuk menyelamatkan ciri khas masyarakat Kampung Naga, dengan cara menjamin kebutuhan bahan bakar minyak tanah masyarakat adat Kampung Naga.

Jika tidak, pemerintah bisa dinilai diskriminatif dan melanggar HAM. Dalam Undang-Undang HAM No 39 tahun 1999, masyarakat adat memiliki hak untuk mendapat perlindungan dari pemerintah. Dalam pasal 6 ayat 1 dan 2 dijelaskan, “Dalam rangka penegakkan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum, masyarakat, dan pemerintah. Kemudian dijelaskan pasal berikutnya, identitas budaya masyarakat hukum adat, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi, selaras dengan perkembangan zaman.

Sudah jelas berdasarkan undang-undang, masyarakat adat Kampung Naga punya hak dan bisa menuntut kepada pemerintah untuk memperoleh jaminan pengadaan bahan bakar minyak tanah sebagai sumber penerangan di kampung adat mereka. Pemerintah sendiri bisa memenuhinya dengan memberikan subsidi khusus. Namun perlu dipahami, subsidi di sini tidak dipandang sebagai bantuan ekonomi, tetapi jauh lebih penting dari itu, yaitu sebagai upaya menjaga, memelihara, dan melestarikan kekhasan masyarakat adat Kampung Naga yang sudah menjadi warisan budaya nasional bahkan internasional.

Maka dari itu, kebutuhan bahan bakar minyak tanah masyarakat adat Kampung Naga, bukan saja masalah intern masyarakat Kampung Naga, tetapi sudah menjadi masalah masyarakat nasional dan internasional. Buktinya, pada saat masyarakat Kampung Naga menutup diri dari kunjungan wisatawan, bukan hanya pemerintah yang tercoreng mukanya, tetapi kecewa berat dirasakan pula oleh wisatawan manacanegara karena tidak bisa menikmati kekhasan masyarakat adat Kampung Naga.

Sebagai urang Sunda yang lahir tulen di tatar Sunda, penulis masih berkeinginan kuat bahwa masyarakat Kampung Naga harus dijaga kekhasan dan kelestariannya. Masyarakat Kampung Naga tidak bisa kita paksa-paksa untuk hidup modern sebagaimana keinginan kita, karena mereka memiliki hak dan status hukum tersendiri untuk hidup sesuai dengan cara mereka sendiri. Seyogyanyalah, masyarakat adat Kampung Naga harus kita lindungi dan lestarikan keberadaannya. Cik atuh kusaha deui?

Sumber tulisan : http://totomaster.multiply.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: