PONARI DAN MENTALITAS BANGSA

Oleh

TOTO SUHARYA

Hebohnya berita dukun cilik bernama Ponari yang didatangi ribuan warga karena dianggap bisa menyembuhkan segala macam penyakit adalah bagian dari gambaran mentalitas budaya bangsa Indonesia. Fenomena dukun cilik Ponari mencerminkan mentalitas budaya mistis yang disebut dengan menntalitas ideasional.

Masyarakat dengan mentalitas budaya ideasional, cenderung kurang berpikir rasional. Masyarakat ideasional, selalu berharap dapat menyelesaikan masalah dengan cara-cara ajaib, dan cepat seperti sulap seperti dalam cerita-cerita film Aladin. Masyarakat ideasional sangat percaya bahwa pada benda-benda keramat, ada keajaiban yang dapat memenuhi segala keinginan. Akibatnya, tindakan-tindakan masyarakat ideasional, kurang dimengerti dan dipahami oleh akal sehat.

Dilihat dari mentalitas budaya rasional, fenomena tindakan-tindakan masyarakat seperti dalam kasus Ponari, bisa dilihat sebagai tindakan-tindakan “bodoh” masyarakat yang kurang memperhitungkan pola-pola pikir rasional. Tetapi itulah realitasnya, bahwa masyarakat ideasional sangat mempercayai keajaiban-keajaiban sampai menghilangkan potensi-potensi pikiran rasionalnya. Untuk itulah, masyarakat ideasional dalam kasus tertentu mudah sekali terkena tipu daya. Seperti kita ketahui, pernah terjadi penipuan dalam kasus-kasus berbau mistik seperti penggandaan uang, hipnotis, dan praktek-praktek dukun cabul.

Secara ekonomis masyarakat ideasional cenderung tertinggal dibanding dengan masyarakat rasional. Ketertinggalan dalam bidang ekonomi berkorelasi positif dengan tindakan-tindakan masyarakat ideasional yang cenderung mistis dan tidak realistis. Oleh karena itu tidak salah jika ada yang mengkaitkan berjubelnya masyarakat berobat kepada dukun cilik Ponari, sebagai tanda tidak terjangkaunya biaya pengobatan medis oleh masyarakat, karena memang kondisi masyarakat ideasional cenderung tertinggal, miskin dan keajaiban batu Ponari sesuai dengan harapan masyarakat ideasional..

Namun demikian, tidak berarti penulis mengagungkan mentalitas budaya rasional (inderawi). Saat ini, masyarakat Barat yang cenderung berpikir rasional, sedang mengalami krisis multidimensional. Krisis itu ditandai dengan kecenderungan masyarakat rasional yang bergerak menjadi manusia-manusia egois. Contoh kasus, dalam perlombaan senjata di perang dingin tempo hari, biaya pengembangan nuklir Amerika Serikat setiap tahunnya meningkat sampai 425 miliar dolar per tahun, lebih dari satu miliar dolar perharinya. Sementara itu lima belas juta orang kelaparan, lima ratus juta kekurangan gizi, 40% penduduk dunia tidak mendapat pelayan kesehatan profesional dan 35 persen penduduk dunia kekurangan air.

Akibatnya, terjadi perbedaan yang mencolok antara kehidupan sejahtera di negara-negara maju dan kemiskinan di negara-negara berkembang. Saat ini, pola-pola pikir yang terlalu mengagung-agungkan rasio dianggap telah gagal membentuk peradaban dunia yang dicita-citakan. Oleh karena itu, para ahli sosiologi memprediksi bahwa budaya rasional sedang menuruni tangga peradaban.

Dari realitas sosial di atas, dapat diambil sebuah pemahaman, jika masyarakat terlalu berpikir mistis (ideasional) dan menafikan rasionalitas, masyarakat akan berhadapan dengan kebodohan, ketinggalan ekonomi dan ilmu pengetahuan. Demikian sebaliknya jika masyarakat cenderung berpikir rasional dan menafikan hal-hal yang bersifat ideasional, masyarakat akan berhadapan dengan sikap-sikap egois, serakah dan anti sosial.

Satu hal yang harus diperbaiki dari mentalitas budaya masyarakat dunia termasuk di Indonesia saat ini adalah menggabungkan mentalitas budaya ideasional dengan mentalitas budaya rasional, menjadi sebuah mentalitas budaya idealistik. Masyarakat Barat yang rasional tidak bisa lagi mengklaim bahwa kebenaran di muka bumi ini hanya milik rasio mereka. Demikian juga, orang-orang Timur (khusunya Indonesia) tidak bisa mengambil kebenaran-kebenaran yang bersumber kepada hal-hal mistis sebagai rujukan mutlak dalam bertindak tanpa memperhatikan kebenaran-kebenaran rasional. Oleh karena itu, pola-pola pikir mistis harus dipadukan secara seimbang dengan pola-pola pikir rasional. Alhasil tindakan-tindakan masyarakat bisa seimbang tidak didominasi oleh tindakan-tindakan yang kurang rasional. Jika batu yang dimiliki oleh Ponari benar-benar bisa menyembuhkan penyakit, maka dengan mentalitas budaya idealistik, kita akan bersikap hati-hati dalam bertindak karena masih memperhitungkan budaya rasionalnya.

Kesimpulan, pola-pola pikir mistis dengan rasional harus digunakan secara seimbang. Kesimbangan adalah hukum yang telah ditetapkan Tuhan, siapa yang mengingkarinya masyarakat akan berhadapan dengan kehancuran. Bukti-bukti kehancuran tatanan masyarakat karena pola pikir yang tidak seimbang dapat kita saksikan. Sebagai contoh, masyarakat Indonesiam karena terlalu berpikir mistis dan menafikan pola pikir rasional, bergerak menjadi masyarakat dengan budaya instan, ingin cepat kaya, tidak sabar dan ujung-ujungnya menjadi negara terkorup di dunia. Demikian juga, masyarakat Barat yang cenderung rasionalistik dan menafikan sumber-sumber pengetahuan intuitif/misits/agamis, bergerak menjadi masyarakat serakah, suka menindas, dan individualistik. Dua masyarakat ini sama-sama telah menjadi masyarakat yang tidak dikehendaki oleh Tuhan, karena hidupnya tidak menggunakan prinsip-prinsip keseimbangan. Kedua masyarakat ini sama-sama telah menjadi penentang ajaran-ajaran Tuhan, dan keduanya akan berakhir dalam kehancuran.

Tuhan tidak menghendaki manusia terjerumus pada satu pola mentalitas budaya yang picik. Tuhan menginginkan manusia sejahtera di dunia dan akhirat. Semoga Tuhan mengampuni saudara-saudara kita yang lalai dan mudah-mudahan kita semua menjadi manusia yang selalu taat kepada hukum-hukum-Nya yang mutlak. Jika masyarakat Indonesia belum bisa mengambil hikmah di balik hebohnya kasus Ponari, sebaiknya masyarakat Indonesia kembali berinstrospeksi diri dan memahami kembali ajaran-ajaran agama yang dianutnya. (Penulis staf pengajar Sosiologi dan Politik Universitas Widyatama Bandung, menulis buku Hidup Sukses Dengan Logika Tuhan)

Advertisements

2 responses

  1. […] Jauhkan diri anda dari pola pikir ingin cepat kaya dengan bisnis online, sebab di dalam bisnis apapun tidak akan pernah ada yang sekali mulai dan […]

  2. Dalam konteks ini, keseimbangan IQ, EQ, dan SQ merupakan salah satu jawaban atas persoalan mentalitas masyarakat yang ideasional. Masalahnya adalah pendidikan IQ, EQ, dan SQ di Indonesia amat mahal. Di sisi lain, sebagian besar rakyat indonesia pendapatannya berada di bawah garis standar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: