Dari Lapangan Tenis ke Lapangan Golf

Oleh J. Haryadi

Hasan Ibrahim (bukan nama sebenarnya) adalah seorang Jaksa senior yang berdinas di salah satu kantor Kejaksaaan di Jakarta. Setiap Jum’at sore ia sudah meluncur ke rumahnya di Bandung. Setiap Sabtu dan Minggu pagi biasa ia gunakan berolah raga di sebuah lapangan tenis di Bandung. Ia biasa berkumpul dan bermain dengan teman-temannya yang kebanyakan juga dari kalangan pejabat dan pengusaha.
Suatu hari, ketika sedang asik beristirahat setelah lelah bermain satu set dengan lawan mainnya, ia didatangi seseorang.
“Apa khabar pak ?”, sapa lelaki gendut itu dengan ramah, sambil menyodori tangannya mengajak bersalaman.
“Khabar baik. Kemana aja sudah lama gak main ?”, jawab Hasan sembari balik bertanya.
“Biasa pak, sedang sedikit sibuk, ada urusan yang belum selesai”, jawab pria itu sambil duduk di dekat pak Hasan.
Mereka lalu duduk berdekatan dan terlibat pembicaraan hangat. Kemudian mereka berdua terlibat pembicaraan yang agak serius.
“Begini pak Hasan, saya punya Bos sedang mengalami kesulitan…..biasalah kredit macet. Saat ini Bos sedang stres berat, soalnya harus ke pengadilan segala karena hutang-hutangnya harus segera dikembalikan ke pihak Bank, padahal dalam akd kredit belum jatuh tempo.”, pria itu memulai pembicaraan seriusnya.
“Lho, kok bisa begitu ? Emangnya Bos kamu gak pernah bayar ?”, tanya pak Hasan.
“Justru itu pak, Bos mah gak pernah nunggak. Masalahnya di Bank tersebut terjadi pergantian pimpinan dan perjanjian akad kredit yang sudah berjalan ternyata di evaluasi kembali. Nah itu dia, kepala bank yang baru ingin kredit dibatalkan dan pinjaman segera dikembalikan. Padahal duitnya kan sudah diinvestasikan. Bagaimana mau mengembalikannya. Apalagi kondisi ekonomi sekarng kan sedang sulit.” Kata lelaki gendut itu menjelaskan.
“Kalau bisa, pak Hasan bantuin bos saya dong. Urusan itunya nanti gampanglah, Bos pasti negrti, nanti saya yang ngatur. Yang penting urusan Bos bisa selesai. “ lanjut pria gendut itu diplomatis.
“Pak Diki, saya gak bisa janji ….. kondisi sekarang khan Bapak tahu sendiri, KPK ada dimana-mana. Begini aja, kapan ada waktu kita ketemu aja dulu dengan Bos Pak Diki. Saya mau dengar langsung dari dia kronologis kasusnya seperti ? Terus dia maunya bagaimana ? Saya harus pelajari dulu Pak, kalau memang bisa dibantu, saya akan bantu. Asal jelas urusasnnya ya Pak, jangan proyek thank you !”, kata pak Hasan sambil bercanda.
“Beres Pak, nanti saya atur ! jangan khawatir, pokoknya Cincai-lah !”, kata Pak Diki menimpali.
Beberapa hari kemudian diaturlah sebuah pertemuan di sebuah rumah mewah di tengah kota Jakarta. Saat itu Pak Didi datang dengan Bosnya, seorang pengusaha keturunan China yang bergerak dibidang importir sebuah komoditi. Sementara pak Hasan ditemani dengan seorang rekannya, seorang pejabat hakim di Jakarta yang sedang dipromosikan untuk menjadi seorang Ketua Pengadilan Negeri di sebuah kota di pulau Jawa.
Mereka berempat mengambil lokasi duduk didekat sebuah danau buatan yang sangat besar. Makanan kelas satupun dihidangkan sebagai pelengkap pembicaraan tingkat tinggi.
Sambil menyantap aneka makanan yang dihidangkan, mereka terlibat pembicaraan santai.
“Pak Herman, teman kita ini perlu bantuan. Katanya dia punya sedikit masalah dengan usahanya. Kalau gak salah, kepala pengadilan yang mengurusi masalahnya masih teman dekat Bapak. Siapa tahu Bapak bisa menitipkannya. Bapakkan dekat dengan beliau”, kata pak Hasan membuka percakapan.
“Betul ! beliau kan teman saya waktu SMA dulu. Kuliah juga kami bareng, bahkan karir kami selalu kejar-kejaran dari dulu. Kebetulan saya ada rencana mau main ke Bandung. Biar nanti saya hubungi beliau”, kata pak Herman, teman pak Hasan.
Kemudian, disela-sela kudapan, pak Herman mencoba menghubungi rekannya di Bandung. Tak lama kemudia terlibat pembicaraan hangat dengan menggunakan logat daerah sebuah kota di pulau Sumatera. Mereka memang terdengar akrab. Setelah basa-basi, lalu Pak herman mencoba mengutaran maksudnya. Akhirnya karena alasan pertemanan, ia mau membantu pak Herman. Lalu disepakati untuk mengadakan pertemuan lanjutan dua hari kemudian di sebuah lapangan Golf di kota Bandung.
Sesuai dengan hasil pertemuan di Jakarta, Pak Christian (bukan nama sebenarnya), sang pengusaha yang sedang bermasalah tersebut didampingi pak Didi mengadakan pertemuan di sebuah lapangan golf di pinggiran kota Bandung. Udara angin semirlir yang sejuk, menambah suasana di padang rumput tersebut terkesan damai dan menyenangkan. Seiring dengan pukulan-pukulan stick golf, pembicaraan bisnispun dibicarakan.
Hole demi hole dilalui, pukulan-demi pukulan dilontarkan. Tak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Dengan senyuman rileks mereka menyelesaikan pukulan terakhir dan bersalaman untuk kembali ke habitatnya masing-masing. Deal-deal sudah diputuskan. Masing-masing menjalankan apa yang harus dikerjakan. Seperti kata pepatah mengatakan “Apa sih yang tidak bisa dibeli dengan uang”. Haruskah semuanya bermula dari lapangan tenis dan berakhir di lapangan golf ? Bukanlah pengadilan adanya di meja hijau ? And tentu sudah tahu jawabannya.
* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: