3 Jam 9 Menit

Oleh : J. Haryadi

Suatu hari saya mempunyai suatu keperluan untuk bertemu dengan seorang pejabat yang mengepalai sebuah kantor pemerintah di Jakarta. Tentu saja sebelumnya saya sudah membuat janji dan konfirmasi dengan ajudannya. Rencana pertemuan sudah diagendakan pukul 10.00 Wib tepat, sehingga wajar apabila saya sudah hadir setengah jam sebelumnya.

Di ruang tunggu tamu yang letaknya bersebelahan dengan ruang kepala kantor itu saya tidak sendiri. Ada beberapa orang yang juga sama-sama berkepentingan dengan pejabat yang bersangkutan.

”Apa masih ada tamu di dalam ?,” sapa saya kepada ajudan membuka percakapan.

”Benar pak, sudah sekitar satu jam di dalam, ” jawab ajudan.

“Apakah tadi sudah dilaporkan ke Beliau kalau saya akan menghadap ?,” tanya saya lagi.

“Belum Pak. Sebentar lagi, sekalian saya mengantar surat-surat ini ke dalam,” jawab ajudan sambil memperlihatkan setumpuk surat-surat penting yang harus ditandatangani atasannya itu.

Tak lama kemudian ajudan masuk ke dalam ruangan bosnya. Saya dengan sabar tetap menunggu sambil membaca koran terbitan hari itu. Beberapa orang tamu masih terus berdatangan, sehingga ruang tunggu itu kesannya seperti ada orang yang akan demo.

“Sudah saya sampaikan Pak. Pesan beliau, Bapak tunggu saja, sebentar lagi juga selesai, “ kata ajudan ketika keluar dari ruang bosnya.

Sambil setengah mengantuk, saya terus menunggu. Hampir semua bahan bacaan yang ada sudah habis saya baca, bahkan halaman iklan pun tak luput dari tatapan mata saya demi menghilangkan kejenuhan. Tak dirasa ternyata sudah satu jam saya menunggu tapi tamu yang ada di dalam tak keluar juga. Ketika waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB, artinya sudah dua jam saya menunggu, saya bertanya lagi pada ajudan.

“ Kok lama sekali ya Mas ? Belum selesai juga ya ? ,” kata saya seolah bertanya sendiri. Saya tahu, pertanyaan itu tidak perlu di jawab, toh kenyataannya memang urusannya mungkin belum selsai.

”Ya….pak, mungkin selesai zuhur. Biasanya beliau jam segini persiapan makan siang dan sholat Zuhur. Mudah-mudahan tamunya mengerti. Sabar ya Pak,” jawab ajudan sedikit kikuk.

Lagi-lagi kesabaran saya harus diuji. Saya hanya bisa menggerutu, sama seperti yang dilakukan calon tamu lainnya. Gara-gara tamu tadi, semua orang yang akan bertamu jadi tersiksa. Kalau nanti saya masuk, saya tidak akan berlama-lama seperti tamu yang didalam. Pokoknya maksimal 15 menit harus tuntas, kata saya dalam hati.

Setengah jam berlalu, tamu di dalam masih belum juga keluar. Saya lalu berinisiatif minta ijin ke ajudan untuk sholat Zuhur dan makan siang. Kebetulan lokasi mushola dan kanti tak jauh dari kantor tersebut.

Selesai sholat dan makan siang yang menghabiskan waktu sekitar setengah jam, saya kembali menunggu. Kali ini pintu terbuka, tamu keluar.

”Pak Jei silahkan masuk !,” pinta ajudan kepada saya dengan sopan.

Panggilan ajudan mengejutkan saya yang sedang melamun. Dalam lamunan tersebut saya sempat berfikir, seandainya antara ruang tunggu tamu dan ruang pejabat tersebut diganti dengan kaca ”one way”, pasti kejadian menunggu yang terlalu lama tidak akan terjadi. Sebab dengan kaca yang tembus pandang tersebut, pejabat dan tamunya dapat memandang keluar ke arah calon tamu lainnya. Mereka akan melihat betapa banyak orang yang mengantri dengan gelisah. Dengan demikian mudah-mudahan hati nurani pejabat dan tamunya sama-sama terketuk hatinya untuk memberikan kesempatan kepada orang lain yang mungkin urusannya lebih penting. Kecuali kalau hati nurani mereka sudah beku seperti es batu.

Saya segera bergegas masuk dan mengutarakan maksud kedatangan saya. Dengan pembicaraan basa-basi sebagai pembuka selama 3 menit, pembicaraan inti 2,5 menit, jawaban 2,5 menit dan ucapan terimakasih 1 menit, maka total waktu yang saya butuhkan cuma 9 menit.

Seandainya kita bisa mengatur waktu, tentu banyak hal yang bisa kita lakukan dan waktu tidak terbuang dengan percuma. Tampaknya hati dan jiwa perlu diasah agar peka terhadap kepentingan orang lain. Terutama buat pejabat publik atau orang yang merasa jadi pemimpin dan sangat dibutuhkan publik.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: