Tukang Becak Naik Haji

Oleh : J. Haryadi

Kisah ini terjadi di kota gudeg, Jogjakarta beberapa tahun yang lalu. Seorang tukang becak, sebut saja namanya Naji (bukan nama sebenarnya) tinggal di sebuah rumah sederhana, dipinggiran kota. Hidupnya yang sederhana tidak melupakan kewajibannya menunaikan ibadah shalat lima waktu. Setiap pagi, selesai shalat subuh, dikayuhnya becak menuju kota dengan senyuman optimis. Ia merasa bahagia dengan hidupnya, walau dimata kebanyakan orang ia bukanlah orang yang kaya raya.

Suatu ketika, ia mendapatkan seorang pelanggan dari luar kota. Lelaki perlente itu kelihatannya bukanlah orang biasa-biasa. Pak Naji diminta mengantarkan pelanggan baru tersebut ke sebuah hotel yang letaknya tak jauh dari tempatnya mangkal. Sembari mengayuh becak, tak lupa ia bernyanyi-nyanyi kecil. Kadang-kadang ia bersenandung dengan siulannya. Lagu-lagu yang dibawakannya adalah tembang-tembang jawa yang lembut.

Keceriaan tukang becak ini membuat penumpangnya tertarik dan terkesima. Ia tidak melihat penderitaan pada diri tukang becak tersebut, yang dirasakannya seolah-olah ia berhadapan dengan orang yang paling bahagia dalam hidupnya. Terjadilah dialog diantara mereka.

“ Mas … mas, kelihatannya sampean kok senang-senang saja. Apa gak merasa capek “, tanya penumpangnya.

“ Kenapa musti capek pak, saya selalu menikmati apa yang saya pekerjaan. Kalau saya tidak nikmati, pasti saya akan merasa capek”, jawab tukang becak itu dengan ramah, sembari terus menguyuh becaknya.

“ Sudah berapa lama Mas melakukan pekerjaan ini ?”, tanya penumpang becak itu.

“Baru lima belas tahun pak !”, jawab tukang becak.

Tak terasa mereka sudah sampai di sebuah hotel berbintang tiga dan pembicaraanpun segera berhenti. “Sudah sampai pak !”, kata si tukang becak.

“Berapa Mas ongkosnya ?”

“Tiga ribu pak”

Pria perlente itupun segera mengeluarkan uang dari saku celananya. Selembar uang 20 ribuan ia serahkan kepada tukang becak tersebut. Tukang becak segera menyambutnya dan bermaksud memberikan uang kembaliannya, tetapi pria itu menolaknya. Ia memberikan uang kembalian kepada tukang becak itu sebagai tanda simpati atas ketulusan hati sang tukang becak yang sabar dan tabah dalam mengarungi kehidupan ini.

Tukang becak itupun segera berlalu dan bermaksud mencari penumpang lainnya. Namun ketika ia baru mengayuh becak sekitar seratus meter dari hotel tersebut, tiba-tiba tergelincir ke sebuah lubang yang menganga cukup dalam, sehingga membuat becaknya terbalik. Ketika ia mencoba bangun, disisi roda becak yang masih berputar, ia melihat sebuah dompet tergeletak. Diraihnya dompet tersebut dan mencoba melihat isinya. Alangkah terkejutnya ketika ia melihat dompet tersebut berisi uang satu juta rupiah dan berbagai macam kartu dari berbagai bank. Ketika ia melihat data pemilik dompet tersebut, ternyata lelaki perlente yang tadi turun dari becaknya.

Terjadilah perang batin dalam diri sang tukang becak, antara mengambil isi dompet tersebut atau mengembalikannya kepada pemiliknya. Namun keteguhan iman tukang becak tidak membuat jiwanya menjadi miskin. Ia tak mau mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Ia merasa puas dengan rejeki yang sudah diterimanya. Dengan jiwa besar ia kembali memutar becaknya, kembali ke hotel dimana penumpangnya tersebut menginap.
Benar saja, lelaki perlente itu terlihat bagai orang kebingungan di loby hotel. Alangkah terkejutnya ia ketika sang tukang becak datang menghampirinya dan mengembalikan dompetnya yang hilang. Kembali ia mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan sebagai tanda terima kasih, namun kali ini tukang becak tersebut dengan halus menolaknya. Ia merasa tidak pantas menerima uang tersebut, karena uang itu memang bukan haknya. Karena terus menolaknya, lelaki perlente itu lalu memberikan sebuah kartu nama padanya sembari berkata, “Ini kartu nama saya Mas. Jika suatu saat kamu perlu bantuan, hubungi saya di nomor ini.”

Tukang becak itu segera berlalu sambil membaca kartu nama yang diberikan penumpangnya itu. Ternyata ia adalah seorang kepala sebuah bank swasta di kota Palembang yang sedang bertugas di Jogjakarta. Kartu nama itu lalu disimpannya dalam dompetnya. Ia tidak tahu untuk apa kartu nama itu digunakan, toh selama ini ia tidak pernah menabung uang di bank.
Dua bulan setelah kejadian diatas, tukang becak itu mendapat seorang penumpang perlente lagi. Kebetulan, penumpang yang satu ini juga ingin diantar ke hotel yang sama. Kembali sang tukang becak melakukan kebiasaannya, mengayuh becak sambul bersenandung kecil.

Penumpang becak tersebut ternyata seorang pengusaha yang sedang mengikuti sebuah pertemuan bisnis di Jogjakarta. Kembali terjadi dialog diantara mereka.

“ Mas, kamu kok kelihatannya happy-happy aja ? Emangnya senang jadi tukang becak ?”, tanya pengusaha asal kota Palembang itu.

“ Ya jelas donk pak ! Saya kan dapat penumpang, tentu saja saya senang. Pekerjaan apapun bagi saya akan menyenangkan, yang penting halal pak !. Oh…ya, maaf, kalau Bapak sendiri sedang ngapain pak di Jogja ini ?”, jawab tukang becak sembari balik bertanya.

“Saya sedang ada pertemuan bisnis. Kebetulan saya sedang membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha saya di bidang perkebunan. Tapi sayang, saya kekurangan modal sehingga usaha saya jadi macet. Kalau saja kredit saya kemarin di Acc bank, tentu usaha saya tidak sesulit ini”, jawab sang pengusaha.

“Maksud bapak perusahaan bapak sedang bangkrut ?’, tanya tukang becak.
“Begitulah Mas, padahal ribuan orang nasibnya tergantung dari usaha yang sedang saya jalankan tersebut. Saya bingung bagaimana caranya agar usaha saya tidak bangkrut sehingga bisa menyelamatkan ribuan orang dari pengangguran”, kata sang pengusaha.

“jadi usaha bapak bisa jalan lagi kalau dapat bantuan dari bank ?”, tanya tukang becak sok tahu.

“Benar mas !”, jawab sang pengusaha lesu.

Obrolan mereka pun berhenti karena mereka sudah sampai di hotel yang dituju. Pengusaha itu segera mengeluarkan uang sepuluh ribuan kepada tukang becak. Ketika akan memberikan uang kembalia, tukang becak itu teringat akan kartu nama yang pernah diberikan oleh pelanggannya dulu. Iseng-iseng ia ambil kartu nama itu dari dompetnya sembari memberi uang kembaliannya.

“Ma’af pak, apa boleh saya membantu Bapak ?”, tanya tukang becak itu.
“Maksud Mas ?”, jawab pengusaha itu setengah tak percaya.

“Saya dulu pernah punya penumpang seorang direktur bank swasta di kota Palembang. Ini kartu namanya Pak ! Coba bapak hubungi beliau, mudah-mudahan bisa membantu. Bilang saja kalau Bapak tahu nomor telepon beliau dari saya, Naji”, kata tukang becak itu.
Antara yakin dan tak yakin, pengusaha itu lalu mengambil kartu nama yang disodorkan si tukang becak. Setelah mengucapkan terima kasih, pengusaha itupun berlalu dari hadapannya menuju ke ruang hotel. Tukang becak kembali mengayuh becaknya dan melupakan peristiwa tersebut.

Enam bulan berlalu. Ketika sang tukang becak sedang menikmati istirahat di dalam becak ditempatnya biasa mangkal, ia dikejutkan dengan kedatangan seorang pria perlente. Rasanya ia pernah mengenal pria itu, tapi dimana ya ? Ia sama sekali tidak ingat dengan pelanggannya itu.
“Mau diantar kemana pak ?”, tanya tukang becak itu dengan ramah.

“Antar saya kerumahmu !”, kata pria itu.

“Ach, Bapak kok senang bercanda ! bapak mau saya antar ke hotel kan ?”, tanya tukang ecak, berusaha menebak tujuan pelanggannya.

“Benar Mas, saya serius ! Masak sampean lupa dengan saya ? “

“Benar pak, ma’af saya benar-benar tidak ingat”

“Saya penumpang bapak yang pernah dibantu sama Bapak “

“Dibantu ? maksud bapak ?”
“Bapak kan yang pernah kasih saya kartu nama seorang direktur bank di Palembang ?”

“ Ya betul…..saya ingat sekarang ! Apa khabar pak ? Bagaimana dengan usaha bapak ?” tanya tukang becak itu.

“Alhamdulillah Mas, berkat kartu nama itu saya mendapat bantuan dari bank. Pengajuan kredit saya sebesar 5 milyar mendapat persetujuan dari bank. Sekarang usaha saya sudah normal kembali dan tak ada satu orangpun yang di PHK”, kata sang pengusaha.

“Syukurlah pak kalo begitu, saya ikut senang mendengarnya”, jawab tukang becak.

“Begini Mas….ketika saya mendapat kartu dari mas tempo hari, saya berjanji akan memberikan uang sebesar 2,5% dari dana yang saya terima untuk Bapak. Alhamdulillah ternyata pengajuan kredit saya di ACC pihak bank. Oleh sebab itu saya akan memenuhi janjia saya untuk memberi bapak uang sebesar 125 juta rupiah”, kata pengusaha itu.

“125 juta ? Bapak jangan mempermainkan saya. Saya ini orang kecil pak, mana mungkin Bapak mau ngasih uang sebanyak itu. Tidak mungkin pak, tidak mungkin ! Bapak bercanda ya ?”, tanya tukang becak itu tak percaya.

“Benar Pak, saya tidak bercanda. Uang yang ada dalam koper ini memang sudah saya siapkan untuk mas Naji. Mari saya antar Mas ke rumah. Bersyukurlah pada Tuhan Mas dan jangan sampai uang ini Mas salah gunakan untuk hal-hal yang tidak perlu.”

“ Terimakasih Pak, terima kasih. Insya Allah saya akan gunakan untuk membeli beberapa becak sebagai modal usaha dan sebagian lagi saya akan gunakan untuk naik haji.”

Akhirnya si tukang becak memperoleh apa yang diidam-idamkannya selama ini, yaitu naik haji dari hasil keringatnya sendiri.

* * *

Advertisements

4 responses

  1. subhanallah…..
    kisah yang menggetarkan…..
    semoga dapat menjadi renungan bagi kita semua…

    kunjungi blog ana : http://muslimstory.wordpress.com

  2. waahh….. mw nyoba jadi tukang becak?

  3. Subhanalloh, jalan untuk meraih kebaikan memang bermacam-macam dan hanya terjadi atas ijin Alloh semata, semoga cerita diatas dapat menjadi ibrah untuk selalu berbuat buat dengan mengharap ridho Alloh.

  4. SubhanaAlloh….dengan ikhlas kita dpt meraih kemuliaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: