TRAUMA DI PINTU WC

Oleh : J. Haryadi

Seorang wanita paruh baya, cantik dan energik, sebut saja namanya Ibu Mila (bukan nama sebenarnya), adalah seorang wanita karir yang sukses. Dia memang tipe wanita yang suka dengan tantangan, pekerja keras dan pantang menyerah. Berbagai jabatan penting diberbagai perusahaan berhasil diraihnya, mulai dari pegawai rendahan, manajer, sampai posisi direktur. Tidak aneh kalau hidupnya bergelimang harta. Apalagi ditopang dengan seorang suami yang pengertian dan juga memegang jabatan penting di salah satu kantor pemerintah. Singkatnya, kehidupan bu Mila terbilang sukses.

Satu hal yang masih kurang dalam perjalanan karirnya adalah status haji. Sebagai seorang muslim, predikat tersebut belum sempat disandangnya. Maklum, saking sibuknya ia belum menjalankan kewajibannya itu, padahal sudah beberapa kali ia berpergian ke luar negeri.

Bu Mila, selama ini bukanlah termasuk orang yang rajin sholat. Namun akhir-akhir ini ia mulai rajin membaca buku agama, dan ikut aktif di sebuah majelis taklim para ibu-ibu kalangan “the have”. Niat menunaikan ibadah haji mulai terlintas dalam pikirannya. Kalaupun setumpuk gelar sudah melekat pada dirinya, mulai dari SE sampai MBA, rasanya belum plong kalau belum berstatus “hajjah”. Paling tidak, status haji akan membuat image dirinya menjadi semakin positif dimata koleganya, begitulah pikirnya.

Akhirnya bu Mila benar-benar melaksanakan niatnya. Sebagai wanita karir yang sukses dan terpandang, bu Mila mendaftar haji bersama suaminya menggunakan ONH Plus pada sebuah KBIH ternama dikotanya. beberapa orang-orang penting, mulai dari para profesional, pengusaha sampai pejabat pemerintah menjadi teman satu kloternya.
Semua persiapan untuk perjalanan ke tanah suci berjalan dengan lancar. Maklum saja, seluruh kebutuhan bu Milla dan suaminya sudah ada yang mengurus. Mereka punya ajudan pribadi dan sederet pembantu yang selalu siap menerima perintah mereka.

Sesampainya di tanah suci, bu Mila dan suaminya ditempatkan di sebuah hotel berbintang lima yang jaraknya tak jauh dari Masjidil Haram. Fasilitas eklusif dengan segala pelayanannya yang istimewa membuat ibadah mereka terasa nyaman. Semua itu mereka nikmati sembari terus belajar menghafal do’a-do’a yang ada dalam buku bimbingan haji.

Memasuki hari kedua, kejadian yang aneh dan takkan terlupakan seumur hidup itu pun terjadi. Ketika bu Mila dan suaminya berniat shalat menuju Masjidil Haram, tiba-tiba di tengah perjalanan perutnya terasa mulas. Ia merasa ingin buang air besar. Cepat-cepat mereka menuju kamar mandi yang letaknya tak jauh dari sana.

Sesampainya di sana, terlihat antrian orang-orang yang sama-sama ingin ke kamar mandi. Antrian tersebut membuat bu Mila harus bersabar. Ia ingin sekali segera masuk kedalam dan mengakhiri penderitaannya.

Kini bu Mila sudah berada di depan pintu, hanya menunggu seseorang yang ada didalam WC keluar. Sudah lima belas menit berlalu, tapi orang yang di dalam belum juga keluar. Bu Milla merasa perutnya semakin melilit. Ia merasa seakan-akan barang yang ada di dalam perutnya sudah tidak bisa di tahan lagi. Ia memaki-maki dalam hatinya terhadap orang yang ada di dalam kamar mandi tersebut, “Sialan, dasar orang dungu, tak tahu diri ! Kampungan ! Brengsek !“ dan berbagai kata-kata kotor serta sumpah serapah lainnya.

Tanpa disadarinya, tiba-tiba pintu kamar mandipun terbuka. Penantian yang panjang itu nampaknya akan segera berakhir. Seorang Wanita arab berkulit hitam, tinggi, besar keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah tidak bersahabat. Wanita itut langsung marah-marah dengan suara tinggi sambil menunjuk-nunjuk wajah bu Mila. Entah apa kata-kata yang dilontarkannya, namun kelihatannya wanita itu benar-benar marah sekali. Bentakan yang bertubi-tubi dari wanita hitam itu membuat bu Mila nyiut nyalinya. Wajahnya mendadak menjadi pucat pasi. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Ia hanya terdiam dengan tubuh menggigil ketakutan. Tiba-tiba dunia terasa berputar, pandangan menjadi gelap dan selanjutnya ia tidak ingat apa-apa lagi.

Kejadian itu membuat bu Mila menjadi paranoid. Setiap kali pergi ke kamar mandi, ia selalu minta ditemani oleh orang lain, tak berani pergi sendiri. Ia benar-benar trauma dengan kejadian tersebut. Ia sering berteriak histeris manakala melihat kamar mandi. Bayang-bayang wanita hitam besar itu selalu bertengger di kepalanya. Ia merasa bingung, mengapa semua itu bisa terjadi ? padahal ia tidak melakukan kesalahan apa-apa kepada wanita hitam tersebut.

Seminggu kemudian pengalaman serupa terjadi lagi. Kali ini ia ingin buang air kecil. Ketika itu bu Mila ditemani seorang temannya satu kloter yang kebetulan adalah seorang dosen Sastra Arab di sebuah perguruan Islam di Indonesia. Ketika ia sedang menunggu seseorang yang di dalam kamar mandi, tiba-tiba pintu terbuka. Seorang wanita arab bertubuh tinggi besar, tanpa sebab yang jelas langsung memaki-maki dirinya menggunakan bahasa Arab, bahkan kali ini sambil mendorongnya, sehingga bu Mila sempat terjatuh dan terduduk.
Bu Milla menggigil ketakutan. Wajahnya pucat, terlihat seperti orang yang habis melihat hantu. Untung saja dia segera ditolong dan diselamatkan oleh temannya, kalau tidak, kejadian yang lebih buruk bisa saja terjadi.

Sejak saat itu bu Mila terlihat seperti orang linglung. Ketika ada orang bertanya tentang kejadian tersebut, ia bingung bagaimana harus menjawabnya. Ia merasa tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa terhadap wanita tersebut. Namun seorang temannya yang menjadi saksi kejadian itu mejelaskan bahwa orang Arab yang memarahinya merasa bu Mila telah menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan keras, sambil mencaci maki dirinya. Padahal ia melihat dengan mata kepala sendiri, bu Mila tidak melakukan hal yang dituduhkan oleh wanita Arab tersebut. Namun begitulah kenyataan yang terjadi.

Teman-teman bu Mila mencoba menasehatinya agar ia istighfar dan diminta mengingat-ingat kesalahan yang pernah dilakukannya selama ini. Sambil menangis, bu Mila menjelaskan bahwa ia sering sekali memaki-maki para pembantu dan sopirnya, terutama jika mereka terlambat melayaninya. Pokoknya tiada hari tanpa cacian dan umpatan. Padahal sopir dan pembantunya itu umumnya sudah berusia lanjut yang sudah seharusnya ia hormati.
Memarahi pembantu dan sopir bagi bu Mila merupakan suatu kebiasaan, seperti minum pil saja, sehari bisa 3 kali dilakukannya. Mungkin karena ia adalah wanita perfeksionis, sehingga semua yang dilakukan oleh pembantunya selalu saja ada yang kurang dimatanya. Justru terasa aneh jika dalam satu hari dia tak membentak atau memaki-maki pembatu atau sopirnya. Bahkan pernah suatu hari pembantunya sampai sakit karena dibentak dan diancam akan dipecat hanya gara-gara terlambat menyediakan sarapan paginya.

Bu Milla disarankan oleh teman-temannya untuk segera bertobat, meminta ampunan dari Allah SWT dan meminta ma’af kepada para pembantu dan sopirnya itu. Dengan berlinang air mata bu Mila memenuhi nasehat teman-temannya. Segera ia menelepon para pembantu dan sopirnya yang ada di Indonesia. Ia pun meminta ma’af pada mereka. Tentu saja para pembantu dan sopirnya merasa heran dan kaget, namun mereka semua dengan ikhlas memaafkannya.

Sejak Kejadian itu bu Mila berubah total 180 derajat. Ia selama ini yang dikenal sebagai seorang wanita pemarah dan menyebalkan, telah berubah menjadi wanita yang sabar dan santun. Ia telah menyadari segala kekeliruannya selama ini. Ia tidak pernah lagi mengganggap rendah kepada orang-orang yang selama ini dianggapnya rendah. Semua orang sama di sisi Allah, kecuali amal dan perbuatannya.

* * *

J.Haryadi

J.Haryadi

Advertisements

2 responses

  1. Nice Article….

    Salam kenal dari saya dan salam sukses…

    1. Terimakasih atas komentarnya kang Ade. Anda hobi menulis ? Punya karya tulis berupa buku ? Mau kerja sama dengan saya ? Mari bergabung dengan
      API (Aliansi Penulis Indonesia). Semoga anda menjadi orang yang berguna bagi banyak orang. Amin. Salam kenal kembali dari saya (J. Haryadi).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: