Good Police Versus Bad Police

Oleh : J. Haryadi

Sudah dua jam tahanan itu berdiri menghadap tembok dengan mengangkat sebelah kaki yang ditekuk ke belakang, kedua tangan di silangkan di kepala dan hanya mengenakan CD alias celana dalam. Orang yang sedang tidak beruntung tersebut adalah seorang tahanan yang terkena kasus narkoba di salah satu kantor Polsek (Polisi Sektor) di Jakarta.

Malam yang dingin, kebetulan habis hujan desar membuat tubuh kecil kurus tersebut terlihat menggigil. Lelaki berusia 40 tahunan itu merupakan titipan Kejaksaan yang terkena kasus jual beli narkoba di daerah Menteng. Dia rupanya sedang mendapat hukuman fisik dari seorang Kapolsek yang berpangkat AKP (Ajun Komisaris Polisi), sedangkan yang ditugaskan menjaga tahan tersebut adalah anak buahnya yang berpangkap Briptu (Brigadir Satu).

Pukul 09.00 WIB sang Kapolsek yang asalnya dari Sumatera tersebut pulang tanpa menghentikan hukuman yang diberikan kepada tahanan apes tersebut. Sang polisi berpangkat Briptu yang ditugaskan oleh komandannya untuk piket hanya menjawab ”Siap Dan !” ketika ia ditugaskan untuk menjaga kantor sekaligus mengawasi tahanan.

Sepeninggal Kapolsek, petugas piket tersebut bergegas masuk ke dalam sel tahanan sambil membawa selimut dan pakainan tahanan tadi dan menyuruhnya mengenakan pakaian dan beristirahat. Tahanan itu hampir saja terjatuh kalau saja tidak sempat ditopang oleh badan anggota polsek tersebut. Dengan ramah petugas piket itu mempersilahkan tahanan berbaring. Segelas air putih disuguhkannya sebelum sel tahanan itu ditutup kembali.

30 menit kemudian, terdengar bunyi mobil diluar. Ternyata Kapolsek tadi kembali ke kantor karena ada barang yang tertinggal. Betapa kagetnya Kapolsek itu ketika mendapati tahanannya sedang tertidur pulas berselimut.

“Panji !……coba lihat apa yang sudah kamu kerjakan. Kenapa bangsat ini kamu kasih baju. Orang itu sampah masyarakat, tidak perlu dikasihani,” hardik Kapolsek yang baru menjabat 3 bulan itu dengan kerasnya.

Polisi berpangkat Briptu itu hanya berdiri tegap dan kepala tertunduk ke bawah. Mulutnya diam terkunci. Dia terima segala caci maki atasannya. Hanya selang 10 menit, ocehan kapolsek itu segera berakhir setelah sebelumnya sempat menghukum sang Briptu dengan hukuman 20 kali pus up.

Dua hari kemudian terlihat tahanan itu sedang berada di ruang sang komandan. Sang Briptu berada di pingggir pintu sambil menjaga-jaga. Sayup-sayup terdengar suara sang kapolsek sedang adu tawar dengan tahanan itu. Tampaknya sang komandan tengah memeras tahanan narkoba itu dengan meminta sejumlah uang dengan jaminan dirinya tidak akan disiksa lagi di selnya. Sang Briptu tersenyum getir melihat ulah pimpinannya itu.

Dua tahun kemudian, di sebuah restoran Padang di daerah Sunter, Jakarta Utara, tampak sang Briptu sedang asik makan siang, ketika tiba-tiba seorang lelaki pendek agak gemuk berwajah oriental menghampirinya.

”Pak Arie kan ? Masih ingat dengan saya ?,” sapa lelaki misterius tersebut.
“Ma’af……Bapak siapa ya ? Apa kita saling mengenal ?,” jawab sang Briptu balik bertanya.

“Bapak lupa ya ? saya kan mantan tahanan bapak dulu. Ingat nggak gara-gara bapak membebaskan saya dari hukuman komandan tapi akhirnya bapak di suruh pus up,” kata lelaki setengah baya itu.

”Oooo ……..saya ingat sekarang. Engko Johannes kan ? Apa kabar ko ?,” jawab sang Briptu sambil menyodorkan tangannya untuk salaman.

Sejak kejadian beberapa tahun yang lalu itu memang mereka tidak pernah bertemu lagi. Saat ini lelaki yang pernah jadi pengedar narkoba tersebut telah insyaf dan sedang menjalankan bisnisnya dibidang tambak ikan dan membuka rumah makan sunda. Ia merasa terkesan dengan budi baik sang Briptu dan mengajaknya membantu usaha yang dikelolanya sebagai tenaga konsultan security di perusahaannya.Sejak saat itu ekonomi keluarga sang Briptu menjadi bertambah baik seiring dengan kemajuan usaha Engko johannes.

Kisah diatas menggambarkan betapa keuntungan sesaat yang diperoleh dari perbuatan baik jauh lebih menguntungkan dari perbuatan yang jahat. Ketika sang Briptu masih kecil sampai menjelang remaja, polisi muda itu lahir dan dibesarkan dilingkungan yang agamis. Kedua orang tuanya adalah muslim yang taat menjalankan ajaran agamanya. Ia ingat pesan kedua orangtuanya dan pepatah Kiyai di pesantrennya agar selalu mau menolong orang yang susah dan pema’af, walau pada orang jahat sekalipun.

Sifat-sifat yang ada pada dirinya ternyata terbawa sampai ia menjadi pengayom dan abdi masyarakat. Dilingkungan teman-temannya sesama polisi ia mendapat julukan ”Ustad Polis”. Diam-diam ia bangga dengan julukannya. Baginya hidup ini perlu keseimbangan antara dunia dan akherat. Ia ingin memperoleh keselamatan di dunia dan di akherat.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: