ANTARA KAMPUNG RAMBUTAN DAN MERAK

Oleh : J. Haryadi

Aku setengah terburu-buru berangkat dari tempat tinggalku di daerah Cililitan, tak jauh dari PGC (Pusat Grosir Cililitan). Aku sering memandang arloji ditanganku saat berada dalam mobil angkutan kota jurusan terminal kampung rambutan untuk memastikan bahwa aku akan tepat waktu. Maklum kendaraan umum yang kutumpangi itu melewati pasar induk Kramatjati yang ramai dan sering menyebabkan kemacetan.

Dugaanku ternyata benar, kendaraan yang kutumpangi berjalan lambat, merayap bahkan kadang-kadang berhenti. Ketika tiba di terminal Kampung Rambutan waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB.

Turun dari angkot (angkutan kota), aku segera menuju terminal luar kota Kampung Rambutan. Setelah membayar peron di pintu masuk, aku segera dihadang beberapa orang calo yang menawarkan jasa bis mereka.

“Kemana Pak ? Bandung ? Tasik ? Mobilnya pake AC Pak ! “, bujuk para calo kepadaku.

“Terimakasih, saya mau ke Merak “, jawabku datar tanpa ekspresi.

“Jurusan Merak sebelah sana Pak, bis nya agak di ujung”, jawab salah seorang calo sambil telunjuknya mengarah ke tempat bis yang dimaksud.

Setelah melewati beberapa bis yang berjajar rapi, terlihat informasi terpampang jelas di kaca bis sebelah kanan atas mengenai jurusan dan harga tiketnya. Terdapat 3 kelas bis disana yaitu kelas ekonomi, kelas ekonomi-AC dan patas AC. Aku terdiam memperhatikan bis itu satu persatu, tiba-tiba ada seorang calo yang menghampiriku.

“Mau ke Merak Pak ?”, katanya dengan logat sunda yang kental.

“Ya, Mana bis yang akan berangkat duluan ?”, tanyaku sambil mataku terus menatap bis tersebut satu persatu.

“Bis itu Pak sebentar lagi berangkat. Primajasa AC, tarifnya murah kok, Cuma 16 ribu. Biar saya bantu bawa barangnya Pak !”, kata calo itu sambil tangannya meraih salah satu tas bawaanku dan membawanya ke dalam bis.

Aku hanya terdiam dan mengikuti gerak langkahnya tanda setuju. Aku memilih duduk di bangku sebelah kanan, persis 3 baris dibelakang pak sopir. Pilihanku ini bukan tanpa alasan, tapi salah satu langkah prepentif penyelamatan. Banyak kejadian kecelakaan bis seperti tabrakan yang diakibatkan kelalaian pengendara yang mengakibatkan banyak korban, tetapi sang sopir selamat bahkan bisa lari menyelamatkan diri. Fenomena ini dapat diartikan bahwa pada saat genting akan terjadi tabrakan, sang sopir berusaha menghindarkan tabrakan dengan mengorbankan penumpang yang ada pada sisi kiri bis. Akibatnya bagian terparah pada beberapa kejadian tabrakan bis biasanya sisi kiri terlihat lebih parah. Hal inilah yang menjadi alasanku mengapa selalu mengambil tempat duduk sebelah belakang pak sopir bila menumpang kendaraan umum seperti bis. Tapi ini semua hanyalah ikhtiar semata sebagai manusia. Nasib, jodoh dan maut hanya tuhanlah yang menentukannya.

Semula aku menyangka bis yang kunaiki ini benar-benar bis AC patas yang bangkunya bersusun dua-dua, tapi dugaanku meleset. Bis ini adalah bis ekonomi yang diberi fasilitas AC, bangkunya bersusun dua-tiga dan tidak ada setelan kursinya sehingga tarifnya jauh lebih murah dari bis AC patas. Setahuku bis AC patas bertarif 24 ribu perak untuk jurusan merak, tapi bis ini Cuma 16 ribu, berarti selisih 8 ribu perak.

Lima menit kemudian aku mulai merasakan ketidaknyamanan ketika beberapa pedagang asongan mulai bergerilya memasuki bis untuk menawarkan dagangannya. Mulai dari penjual minuman mineral, buah-buahan, tali penggang, radio mini, permen, majalah bekas, koran, rokok dan kue donat berseliweran silih berganti. Yang paling menjengkelkan adalah ketika mereka meletakkan barang dagangan mereka di bangku tipa-tiap penumpang, kemudian balik kembali untuk kembali menawarkan dagangannya dan mengambil barang mereka kembali jika penumpang tidak membelinya. Hal ini cukup mengganggu konsentrasi kita yang ingin rileks di dalam bis. Bahkan aku sempat menegur seorang pedagang asongan yang menenteng barang dagangan persis diatas kepalaku sehingga mengenai kepalaku. Tentu saja ini tidak sopan dan aku menasehatinya agar tidak mengulangi perbuatan tersebut pada penumpang lainnya.

Dari sekian banyak pedagang asongan, hanya satu saja yang menarik perhatianku untuk membelinya yaitu kue donat. Dengan harga hanya 6 ribu perak, dapat sekotak donat berisi 12 buah dengan aneka rasa. Ini tentu lebih dari cukup untuk mengganjal perutku yang sudah mulai tidak bisa diajak kompromi. Maklum tadi pagi perutku baru diisi dengan mie rebus saja, tentu pertahanan tubuhku tidak kuat. Segera ku santap 2 buah donat untuk menghilangkan rasa laparku.

Ketidaknyamanan bis ekonomi AC ini masih belum berakhir. Setelah semua pedagang asongan turun, kini giliran 3 orang pengamen jalanan masuk kedalam bis. Seorang diantara mereka berbicara sendiri, maksudnya ditujukan kepada kondektur, sopir dan penumpang bis. Seperti biasa, ia minta ijin untuk bernyanyi dan mendoakan semua penumpang agar selamat sampai tujuan. Tampaknya semua kalimat yang disampaikannya adalah seperti bunyi undang-undang pengamen jalanan. Bahasa dan kalimatnya sudah baku dan biasa diucapkan para pengamen jalanan. Tapi ada hal yang tidak kusukai adalah ada kalimat yang menyindir penumpang agar jangan memberi uang recehan pada mereka, malu pada dong pada sopir dan kondektur katanya. Apalagi nada bicaranya seperti kaset yang rusak, menggeol, seperti nada orang yang mabuk. Tentu saja ini membuat aku menjadi sangat tidak respek kepada mereka.

Para mengamen mengambil posisi ditengah-tengah bis, sambil menyender ke salah satu tempat duduk penumpang. Musik mulai dimainkan dengan petikan gitar yang cukup keras dan memekakkan telinga. Lagu iwan fals pun dimainkan seolah ini lagu wajib bagi mereka, lagi lagi dengan suara keras dan lantang, membuat aku benar-benar ingin muntah rasanya. Memasuki lagu ke tiga, salah seorang dari pengamen ini mulai menyodorkan kantong bekas bungkus snack yang telah dibalik ke arah setiap penumpang, dimulai dari bangku yang paling depan. Setiap penumpang yang disodorkannya dilihatnya dengan tatapan mata tajam seakan-akan memaksa, membuat sebagian penumpang menjadi takut sehingga terpaksa memberinya uang. Tapi ketika sampai ke bangkuku dengan tegas kutolak dengan mengangkat dan melebarkan telapak tanganku kearahnya. Dia segera berlalu dan menuju ke penumpang lainnya.

Bis yang kutumpangi mulai bergerak meninggalkan terminal Kampung Rambutan menuju Merak. Perjalanan menembus kota Jakarta ternyata tidak mudah, di sana-sini terjebak kemacetan, bahkan ketika kendaraan kami sudah berada di jalan tol. Kendaraan mulai tersendat ketika bis melewati Pasar Rebo, Cawang sampai Semanggi. Kelancaran tol mulai kami rasakan ketika bis melewati Gedung DPRRI.

Ketika memasuki kota Tanggerang, bis keluar dari jalan tol dan masuk ke terminal untuk mencari penumpang. Untuk kesekian kalinya, beberapa penumpang tak diundang naik ke dalam bis. Mula-mula pedagang asongan masuk satu persatu untuk menawarkan dagangannya. Kemudian masuk seorang Bapak tua berperawakan sedang, berpeci dan bersandal dengan kaos kaki, berkemaja batik lengan panjang dan ditangan kirinya menenteng map berwarna hijau. Lelaki tua itu mulai memperkenalkan diri, sementara aku dan beberapa penumpang hanya diam membisu seakan tak memperhatikan kehadirannya. Dengan tenang, sopan dan suara lembut, ia berbicara layaknya seorang khotib pada acara sholat Jum’at. Ia terus memberi nasehat kepada semua penumpang agar selalu mengingat Allah, beretika yang baik, tidak sombong, intropeksi diri dan ingat akan kematian.

“Hidup ini hanya sementara, dan apa yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah swt. Cepat atau lambat, semua itu akan kita tinggalkan, tidak akan dibawa mati. Kehidupan yang sesungguhnya adalah di akherat kelak. Oleh sebab itu marilah kita berlomba-lomba berbuat kebaikan”, katanya pak tua itu dengan nada bicara yang santun dan lembut. Dan diakhir khotbahnya ia mendo’akan semua penumpang bis agar selamat sampai tujuan dan terkabul semua apa yang menjadi cita-citanya.

Semula saya menganggap Bapak tua itu adalah seorang pencari sumbangan untuk masjid-masjid atau pondok pesantren yang memang sudah terbiasa minta sumbangan di dalam bis. Ternyata dugaan saya sangat meleset jauh. Bapak tua ini bagi saya hanyalah seorang hamba Allah yang sangat peduli dengan sesamanya, karena dia telah mengingatkan kepada semua penumpang tentang makna hidup dan mati. Selama saya naik bis, baru kali ini ada orang semacam itu.

Bapak tua itu lalu mohon diri dan mulai menghampiri penumpang satu persatu dimulai dari kursi yang paling depan. Saya perhatikan banyak penumpang yang secara sukarela merogoh koceknya dan memberi sekedar uang sebagai tanda solidaritas sesama muslim. Saya pun yang tadinya sudah tak ingin mengeluarkan uang, akhirnya merasa berhutang budi dengan pak tua ini. Semua nasehatnya sangat baik dan prilakunya sopan. Mungkin ia membutuhkan sedikit bantuan dari para penumpang bis dan akupun dengan ikhlas mengeluarkan selembar uang 5000 an untuk bersadaqoh padanya. Yang sangat menarik lagi, setiap ada penumpang yang menyumbangnya, ia akan berhenti lalu mendo’akan penumpang tersebut secara kkusus. Dan itu dilakukannya untuk semua penumpang. Suatu pengalaman yang tak akan pernah kulupakan.

Mobil masih mengetem di terminal Tanggerang. Setelah pak tua tadi berlalu, masuk lagi seorang pengemis cacat, buta kedua matanya. Kembali rasa sosial diriku diketuk dan aku tak kuasa untuk tidak mengeluarkan selembar uang kertas lagi untuk sadaqoh. Uang yangb kuberikan memang tidak seberapa, tetapi itu merupakan tanda simpati ku padanya dan yang terpenting aku ikhlas memberinya.
Setelah pengemis tua itu berlalu, pertunjukan berikutnya masih menanti.

Bagi ku, bis yang kutumpangi ini ibarat panggung catwalk, dimana banyak pragawati yang berlenggang lenggok memamerkan beberapa pruduk pakaian. Hanya panggung bis ini pemainnya adalah ya pengemis, pengamen, pencari dana dan sejenisnya. Dan audiennya adalah para penumpang bis itu sendiri.

Kali ini giliran anak kecil, usia sekitar 12 tahun naik ke dalam bis. Seperti biasa, iapun mengucapkan undang-undang para pengamen sebelum mulai memetik gitar bututnya dan menyanyikan sebuah lagu dengan nada sumbang, parau, keras dan jauh dari indah. Mobil bis pun mulai bergerak meninggalkan terminal. Aku memperhatikan pengamen cilik ini, segarusnya dia bersekolah saat ini, pikirku dan tidak sepantasnya dia ada di dalam bis ini untuk mencari uang. Kelelahan tampak diwajah anak itu dengan baju yang kumal dan mungkin sudah lama tidak diganti. Aku bersimpati dengan perjuangannya dan kuberi uang bukan untuk membayar lagunya yang sumbang tapi perjuangannya yang keras itulah yang aku hargai.

Bis terus melaju menuju kota Serang, Banten. Aku hanya berharap bis ini tidak mampir lagi dan terus ke Merak, sehingga perjalananku lancar dan tidak ada gangguan lagi. Lagi-lagi aku kecewa, sebab memasuki kota Serang, bis kembali keluar tol dan masuk ke terminal. Aku hanya bisa mengelus dada dan tidak bisa berbuat apa-apa. Kucoba ntuk berfikir positif saja agar hatiku tidak bertambah kesal, sambil membaca koran yang kubawa dari Jakarta.

Lagi-lagi pedagang asongan menyerbu bis kami secara bergerombol. Mereka semua menawaarkan produknya dengan bersuara keras, saling sahut sahutan seperti suasana di penonton pertandingan tinju. Suara mereka yang keras dan bising telah membuat telingaku terasa panas dibuatnya. Menjelang keberangkatan bis, dua orang pria dewasa, seorang berumur sekitar 25 tahun dengan gitar ditangannya dan seorang lagi berusia sekitar 30 tahunan dengan biola ditangannya. Aku mulai berfikir negatif tentang mereka. Ngamen lagi nih pikirku. Pasti sumbang lagi nadanya, seperti yang sudah-sudah. Pokoknya aku sudah pasang wajah cemberut saja tanda tidak suka dengan kehadiran mereka. Sebab dari tadi hak asasi penumpang bis sudah dilanggar berkali-kali dan sama sekali tidak ada privasi naik bis ini. Aku sudah bosan. Pokoknya selembar uangpun tak akan kuberikan pada mereka pikirku.

Pengamen itu mulai memainkan musiknya. Dawai gitar dimainkan mereka bersahut-sahutan dengan biola. Iramanya terdengar merdu, jauh dari dugaanku semula. Dan “Sobali’ milik Iwan Fals pun dimainkan mereka dengan mulus, persis seperti kita mendengarkan kaset saja. Tampaknya mereka sudah berkali-kali memainkannya dengan apikm sehingga nada musik dan lagu yang dinyanyikan tersa enak di dengar. Wajahku berubah menjadi segar, pandanganku tentang mereka seketika berubah. Ternyata pengamen kali ini benar-benar profesional. Tak terasa kakiku mulai kuhentak-hentakkan di lantai mengikuti irama lagu yang mereka mainkan. Suasanan di bis menjadi asik, harmoni dan menyenangkan. Ketika ada seorang penumpang yang meneripa telepon via hp, mereka dengan sadar mengecilkan suara musiknya seolah-olah tape yang volumenya dikecilkan. Dan ketika orang tersebut selesai menelepon, musikpun nadanya normal kembali. Mereka tampaknya peka dengan kondisi penumpang. Sepenjang perjalanan yang melelahkan tersebut, baru kali ini kami terhibur dengan pengamen jalanan.

Tadinya aku sudah tidak ingin menyumbang mereka, tapi kali ini kembali hatiku terketuk dan harus menghargai apa yang sudah mereka lakukan. Paling tidak aku harus berpartisipasi memberikan mereka apresiasi, tentu dalam bentuk materi dan seuntai kata “bagus….bagus, kalian bermain sangat bagus !”, kataku sembari memberi selembar uang ribuan kedalam kantong ajaibnya. Mudah-mudahan sepatah kata yang pendek tersebut dapat menghibur dan memberi spirit kepada mereka untuk tersu berkarya.

Taka terasa aku sudah sampai di pelabuhan Merak, Cilegon Banten. Semua penumpang bis berlomba-lomba pergi meninggalkan bis untuk selanjutnya naik ke kapal Fery dan melanjutkan perjalanan kami masing-masing ke Sumatera.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: