GURU AKTIF MURID KREATIF

Oleh : Ir. Jumari Haryadi

Seorang guru merupakan teladan bagi murid-muridnya. Sikap dan tindak tanduk guru tidak terlepas dari perhatian murid-muridnya. Bahkan guru jauh lebih memiliki nilai plus jika dibandingkan dengan orang tua murid dalam mendikte murid untuk belajar. Jika dirumah, orang tua terkadang kesulitan dalam mendidik anak-anak mereka untuk belajar, namun beda halnya dengan guru. Biasanya murid cenderung akan mematuhi perintah gurunya, terlepas alasannya karena takut akan hukumannya atau karena memang menyenangi guru atau materi yang diajarkannya.

Tidak semua guru bisa mengajar dengan baik dan dicintai murid-muridnya. Masih banyak rekan-rekan guru yang mengajar menggunakan pola lama, yang penting tugasnya memberi materi selesai. Ia tidak mau tahu apakah murid-muridnya suka atau tidak, mengerti atau tidak dengan materi yang diberikannya. Baginya, tugasnya ya hanya mengajar saja, titik ! Yang penting, setiap tanggal muda ia harus menerima konpensasi dari tugasnya yaitu berupa salary. Guru semacam ini biasanya adalah guru yang malas dan tidak perduli terhadap kemajuan anak didiknya.

Predikat sebagai seorang guru juga bisa membuat diri seseorang menjadi tinggi hati dan merasa paling pintar sendiri sehingga ia jadi malas belajar. Ia menganggap mengajar adalah pekerjaan rutin sehari-hari, tidak memerlukan pengetahuan tambahan. Ia merasa sudah cukup pintar dengan ilmu yang sudah didapatnya selama ini. Masih banyak dijumpai seorang guru yang malas membaca buku, apalagi mengikuti berbagai seminar atau pelatihan yang berkaitan dengan bidang pekerjaan yang digelutinya.Akibatnya bisa ditebak, guru semacam ini tidak akan berkembang, bahkan bisa merugikan murid-muridnya.

Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi telah membuat banyak hal berubah, termasuk bagaimana cara orang belajar dan mengajar. Hal ini berkaitan dengan penemuan terakhir Howard Gardner, seorang psikolog terkenal dari Universitas Hardvard, yang melakukan riset intensif tentang kecerdasan manusia. Beliau menyimpulkan paling tidak terdapat delapan kecerdasan yang dimiliki seseorang. Kecerdasan ini mencakup kecerdasan verbal, numeris/logis, teknis, sensual kinestetis, kreatif, personal dan sosial. Teori ini oleh Howard disebut sebagai Multiple Inteligense atau “Kecerdasan Majemuk”. Semua kecerdasan itu sangat berpengaruh terhadap kesuksessan seseorang dalam hidupnya. Hasil penelitiannya telah mengubah pandangan orang selama ini tentang kecerdasan tunggal yang selama ini diketahui dan diterapkan.

Setiap siswa pasti memiliki salah satu dari delapan kecerdasan gabungan tersebut, kecuali jika siswa yang bersangkutan memiliki kelainan atau cacat otak secara fisik dan permanen. Setiap kecerdasan dapat dipelajari dengan caranya sendiri. Artinya kecerdasan antara orang yang satu dengan lainnya adalah unik atau berbeda. Oleh sebab itu dalam menangani berbagai macam anak didik, guru harus pandai melihat potensi yang ada pada setiap muridnya. Oleh sebab itu guru dituntut harus kreatif, pandai dan juga inovatif dalam mengajar, tidak bersifat pasif dan mengganggap semua muridnya sama.

Sebagai pendidik, guru hendaknya selalu memandang muridnya dari sudut pandangan positif. Semua murid adalah aset bagi bangsa dan negara ini. Mereka adalah harapan masa depan kita. Jika mengacu penemuan Howard tersebut, sangat jelas bahwa sebenarnya tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak paling tidak memiliki satu kecerdasan yang menonjol. Namun karena selama ini kita hanya melihat kecerdasan hanya dari sisi inteligensi semata, sehingga menutup mata kita melihat kecerdasan lainnya yang dimiliki oleh anak didik kita.

Selama ini umumnya kita bangga kalau anak kita memiliki nilai matematika atau pelajaran eksakta lainnya yang tinggi. Kita akan mengklaimnya sebagai anak yang cerdas, sementara anak lainnya yang hanya memiliki bakat menyanyi, pintar bermain musik atau pandai berolah raga tidak termasuk anak yang cerdas. Kita selama ini terjebak dengan kecerdasan tunggal yang terlalu diagung-agungkan. Padahal sudah banyak terbukti orang yang sukses berasal dari berbagai latar belakang kecerdasan yang berbeda. Namun kita umumnya tidak menyadarinya.

Sementara itu, berdasarkan hasil riset terkini dari sebuah lembaga riset independen dunia, telah menempatkan Finlandia, sebuah negara kecil di Eropa, sebagai sebuah negara yang mempunyai sistem pendidikan dengan peringkat terbaik di dunia. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Bagaimana dengan negara kita yang jumlah penduduknya termasuk lima besar dunia ? Ternyata, salah satu hal yang menjadi penyebab guru-guru di Finlandia sukses sebagai seorang pendidik adalah karena mereka lebih menekankan pembelajaran dengan menciptakan suasana kreatif di kelas. Mereka berpendapat, seorang guru harus diberikan kebebasan untuk mengembangkan silabus dan materi ajar secara mandiri, sehingga bisa berkreasi dan menciptakan silabus dan materi ajar yang sesuai dengan kebutuhan muridnya dan kebutuhan pasar yang kelak akan memanfaatkan lulusannya.

Seorang guru harus mengajarkan pengetahuan kepada muridnya dengan cara semudah dan semenarik mungkin. Kreatifitas seorang guru di uji agar dapat menemukan kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh murid-muridnya dan dapat membantu meningkatkannya secara maksimal. Jadi sudah tidak jamannya lagi murid dijejali dengan hafalan teks yang panjang-panjang, sehingga kelak menjadi seperti burung beo yang pandai berbicara tetapi tidak mengerti makna yang diucapkannya atau seperti robot yang melakukan sesuatu sesuai dengan perintah yang diterimanya tanpa bisa melakukan hal-hal sesuai dengan keinginannya sendiri.

Singapura dan Malaysia, sebagai negara tetangga yang perekonomiannya jauh lebih maju dibandingkan negara kita telah lama meninggalkan belajar dengan model hafalan. Metoda hafalan hanya akan membuat anak didik menjadi robot atau burung beo. Jadi dalam proses belajar sebaiknya anak didik dilibatkan secara langsung dengan memberi contoh dan praktek dilapangan. Pemahaman murid akan lebih baik dan mudah dicerna bila cara belajar dilakukan sambil bermain, sehingga belajar jadi menyenangkan dan tidak membosankan.

Sebagai guru, marilah kita bersama-sama mulai dari sekarang, dari hal yang paling sederhana, dari diri kita sendiri untuk mengubah cara mengajar dengan pola lama yang tradisional dan sudah ditinggalkan oleh negara maju ke cara baru yang lebih baik, kreatif dan inovatif. Kalau guru-guru di luar sana bisa, kenapa kita tidak ? Yang terpenting ada kemauan pada diri kita masing-masing untuk terus berkembang demi masa depan yang lebih baik.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: