RAMALAN SANG KUNCEN BATU TULIS

Oleh : J. Haryadi

Rekan saya, Drs. Supandi Halim, adalah seorang PNS Gol 3D yang saat ini tengah menempuh program S-2 Manajemen di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Sehari-harinya rekan saya ini menjabat sebagai ketua Primkop (Primer Koperasi) Pusat Koperasi Mabes TNI yang bermarkas di jalan raya Bogor, Cililitan, Jakarta Timur. Disamping kegiatan dinasnya, ia juga merangkap sebagai dosen tidak tetap di beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Sekitar 20 tahun yang lalu, ketika masih duduk di bangku SMA, “Pendi” remaja, demikian ia biasa disebut, termasuk pemuda yang suka berpetualang. Ia rajin berguru ke beberapa orang kiyai untuk menambah ilmu keagamaan. Kebetulan ada darah Arab dan Banten mengalir ditubuhnya, sehingga tidak heran kalau didikan agama yang kuat dari kedua orang tuanya telah membuat hatinya tergerak untuk mendalami ilmu agama.

Suatu hari salah seorang kiyai yang menjadi guru spiritualnya menugaskannya untuk napak tilas ke makam raja-raja Jawa Barat. Salah satunya adalah berziarah ke makam raja-raja Sunda di Batu Tulis, Bogor. Saat itu ia berangkat berdua dengan seorang rekannya bernama Ansori yang bertubuh tinggi besar. Mereka diterima sang kuncen makam, lalu dianjurkan untuk mencoba meletakkan kaki mereka pada sebuah prasasti berbentuk telapak kaki. Konon bekas telapak kaki yang sudah membatu tersebut katanya bekas telapak kaki seorang raja Sunda. Bagi siapa saja yang besar telapak kakinya sama dengan telapak kaki sang raja, maka kelak orang tersebut akan berjumpa dengan pemimpin negeri ini.

Mula-mula sang kuncen menyuruh Ansori yang bertubuh tinggi besar untuk mencobanya. Ketika kakinya diletakkan dibekas telapak kaki sang raja tersebut, ternyata tidak pas. Tampak kaki Ansori lebih kecil dibandingkan dengan telapak kaki sang raja. Kini giliran Pendi yang tubuhnya jauh lebih kecil dari Ansori disuruh mencoba keberuntungannya.

“Silahkan dicoba nak,” kata sang kuncen kepada Pendi.

“Mana mungkin pas pak, telapak kaki Ansori saja yang lebih besar dari telapak kaki saya masih kurang besar, apalagi telapak kaki saya , “ jawab Pendi dengan ekspresi meyakinkan.

“Belum tentu nak, coba saja, siapa tahu pas, “ kata sang kuncen lagi.

Kali ini Pendi jadi penasaran juga. Iseng-iseng dituruti saja kata-kata sang kuncen, kakinya pun segera diletakkan di prasasti kaki sang raja tersebut. Tapi dalam hati ia tetap saja tidak yakin kalau kakinya bakalan cocok dengan kaki sang raja.

Betapa terkejutnya Pendi ketika kakinya benar-benar pas dengan telapak kaki batu sang raja. Ia masih tak percaya, dipelototinya batu dan kakinya berulang kali, namun tetap saja tidak ada perubahan. Ya, telapak kakinya memang persis sama besar dengan telapak kaki sang raja.

“Biasanya ini bertanda baik. Suatu hari nanti, nak Pendi akan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negeri ini,” kata sang kuncen singkat.

Kejadian tersebut belum sepenuhnya diyakini oleh Pendi. Mana mungkin orang biasa-biasa seperti dirinya bisa bertemu dengan orang penting, apalagi pemimpin negeri ini. Mimpi kali ye ? Ah …bodo amat, emang gue pikiran ! begitulah pikiran yang ada di kepala Pendi saat itu. Napak tilaspun dilanjutkan ke makam raja-raja yang ada di Sumedang dan daerah-daerah lainnya.

Kehidupan terus berputar. Lulus SMA Pendi berhasil masuk ke salah satu perguruan tinggi negeri dan menamatkannya sampai memperoleh gelar sarjana. Setelah itu ia masuk pegawai negeri dan diterima sebagai PNS di lingkungan militer, tepatnya di Mabes TNI. Tugasnya pun berpindah-pindah dari satu satker (Satuan Kerja) ke satker lainnya sampai ia terdampar di Puskop Mabes TNI.

Suatu hari ada undangan dari istana negara, dalam rangka hari ulang tahun koperasi. Saat itu presiden kita masih di pimpin pak Harto. Karena acaranya hari Sabtu, pimpinan menugaskan Pendi untuk mewakilinya menghadiri kegiatan tersebut di istana. Nah, pada acara tersebut untuk pertama kalinya Supandi Halim bisa bertatap muka langsung dengan pak harto, bahkan bisa bersalaman dengan beliau.

Di jaman reformasi, Presiden pun berganti dari Soeharto ke Habiebie. Kali ini ada undangan lagi untuk menghadiri acara ulang tahun koperasi di istana negara, sama dengan kejadian yang pertama, kebetulan acaranya berlangsung hari Sabtu dan pimpinan lagi-lagi menugaskan Pendi untuk menghadirinya.

Ada kejadian cukup menarik waktu Pendi berada di istana. Saat itu ia sedang berbincang-bincang dengan Direktur Merpati Air lines yang kebetulan sudah dikenalnya. Tiba-tiba pak Habiebie datang dan langsung memeluknya. Beberapa kamera langsung mengabadikan kejadian tersebut. Pendi pun terkejut bukan kepalang, dia tidak menyangka dapat perlakuan istimewa dari RI-1. Belakangan diketahui ternyata pak Habiebie salah peluk, dikiranya Pendi adalah sang Direktur Merpati. Ini benar-benar kejadian konyol yang tidak pernah dilupakan seanjang hidupnya.

Dari era Habiebie geser lagi ke era Gusdur. Sebelum menjadi presiden pun sebenarnya Pendi sudah sering bertemu dengannya, sebab ia sering mengikuti acara pengajian yang diadakan dikediaman Gusdur di Ciganjur. Pertemuan berikutnya di istana sama dengan kejadian pertama dan kedua.

Era mega wati Pendi pun sempat bertemu dan bersalaman dengan beliau di istana, juga dalam rangka mewakili pimpinan Koperasi Puskop Mabes TNI.

Lengsernya Megawati lalu diganti dengan Presiden pertama pilihan rakyat yaitu SBY (Susilo Bambang Yudoyono). Pertemuan dengan SBY terjadi ketika ia menghadiri acara di Mabes TNI, Pendi pun sempat bertemu dan bersalaman dengan beliau.
Tak terasa sudah 5 orang Presiden RI yang ditemuinya, semua berlangsung apa adanya, tanpa direncanakan. Ia kembali teringat kejadian di Batu Tulis beberapa puluh tahun silam, ramalan sang kuncen ternyata telah menjadi kenyataan. Wallahu Alam bin syawab.

Advertisements

11 responses

  1. Ehmm…………………….
    Kayaknya agak sulit dipercaya sih tapi menarik juga. secara, orang biasa bisa jadi orang kayak geto. ato mungkin its just lucky. ^_^

  2. ceritanya lucu,tapi saya merasa penasaran apakah cerita tersebut nyata?
    selain itu saya juga kagum pada bapak yang pandai merangkai kata menjadi cerita yang mengesankan seperti itu.

  3. artikel nya ckup bgus pak,,beruntung bgt y si pendi itu , ,, bapak punya pengalaman yang agak ke-horor”an gtu ga Pak ?/
    klw ada , ceritain c pa ?

  4. pada cerita ramalan sang kuncen batu tulis,menceritakan telapak kaki seorang raja sunda yang membawa keberuntungan,dimana mimpi yang menjadi kenyataan benar,dan sayapun percaya akan mimpi suatu saat akan menjadi kenyataan…

  5. Indah……….

    Maniz……..

    bahagia dirasa………

    Seraya angan terealisasikan, namun makin membuat hilangnya harapan pada sebuah kenyataan. tak tau akan berapa lama keberuntungan akan selalu datang, tapi yang terpenting bukan keberuntungan pada sebuah harapan yang terlaksana, tapi pada kenyataanya……..

  6. crita “kuncen”nya ckup menarik. .
    tp sya pengen tanya, truz pendinya skarang jadi sperti apa yang diramalkan g’??
    kalo iya, skarang jadi apa???

  7. saya suka dengan cerita RAMALAN SANG KUNCEN BATU TULIS saya kepengin lebih banyak membaca karangan bapak, saya suka membaca, saya minta novel atau buku apa saja yang sudah di terbitkan oleh bapak,
    saya dapat referensi Bapak dari teman saya yang sekolah disitu yaitu Nur Eka,
    sebelumnya terima kasih.
    tolong judul buku juga penerbitnya kirim ke saya, jadi saya bisa memiliki buku dari Bapak

  8. saya suka dengan cerita RAMALAN SANG KUNCEN BATU TULIS saya kepengin lebih banyak membaca karangan bapak, saya suka membaca, saya minta novel atau buku apa saja yang sudah di terbitkan oleh bapak,
    saya dapat referensi Bapak dari teman saya yang sekolah disitu yaitu Nur Eka,
    sebelumnya terima kasih.
    2

    tolong judul buku juga penerbitnya kirim ke saya, jadi saya bisa memiliki buku dari Bapak

  9. Djenambang Bin Tandjak | Reply

    Alhamdulillah..
    Semoga amanah yang ada pada Sdr. Pendi akan menjadikan Anda lebih tekun dalam menjalankan “syariat”, karena akan mendatangkan “hakekat”..!?. Selanjutnya manusia akan mencari ikhtiar yang sesungguhnya, seperti yang dianjurkan dalam agama.

  10. Ada ralat pak….. Pak Pendi orangnya rajin dan taat beragama. Ia kuliah setelah bekerja PNS Mabes TNI. Kala itu saya katakan “Pen kalau hidup mau maju belajarlah” dijawab ” Pak kuliah itu butuh uang darimana uangnya” Saya katakan “Yang pertama niat dulu nanti uangnya ada nyusul” Dan dia kuliah hingga S2 Alahamdullilah semoga terus sukses Pendi’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: