Marah Sang Jenderal

Oleh : J. Haryadi

Hari itu sang Jenderal letih sekali. Tugas di kantor seharian berkutat dengan seabrek surat-surat penting yang musti dibaca dan ditandatanganinya, ditambah sederetan tamu-tamu yang silih berganti membuat energi sang jenderal terkuras habis. Yang ada di pikirannya adalah ingin segera pulang cepat dan istirahat di pembaringan.

Menjelang pukul 11 malam sang jenderal tiba di rumah dinasnya yang megah, di iringi dengan seorang ajudan berpangkat bintara tinggi. Sang ajudan buru-buru mengambil semua perlengkapan standar sang majikan, seperti tas, laptop, pakaian dan lainnya ke dalam rumah, sementara sang Jenderal langsung masuk ke kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian.

Besok ada acara penting yang harus dihadiri sang jenderal. Undangan pertemuan untuk kalangan pejabat tinggi di Indonesia itu wajib dihadiri beliau mengingat banyak orang dari berbagai kalangan seperti para pejabat tinggi kepolisian, militer, politisi, kejaksaan, anggota dewan maupun selebriti hadir disana. Ada juga acara main golf bersama pejabat level VIP sambil membicarakan masalah politik dan bisnis. Tentu saja sang ajudan harus mengingatkan bosnya itu karena kalau sampai telat sungguh memalukan. Sambil menyimpan perlengkapan sang jenderal di kamarnya, sang ajudan bertanya sekaligus mengingatkan sang jenderal mengenai acara besok pagi di daerah pusat pemukiman elit Cikarang, Bekasi.

“Mohon ijin mengingatkan Jenderal, besok acaranya dimulai jam 7 pagi, sebaiknya kita berangkat jam 6 saja. Apakah besok pagi Jenderal berkenan saya bangunkan ? ,” kata sang ajudan dengan penuh hormat.

“Tidak usah ! Saya sudah biasa bangun pagi. Kamu nggak perlu membangunkan saya ! ,” jawab sang Jenderal.

“Kalau begitu saya mohon ijin Jenderal. Selamat malam !,” kata sang ajudan lagi sambil memberi hormat dan pergi meninggalkan sang Jenderal.

Seperti biasanya, ajudan perwira berbintang tiga tersebut tidur di salah satu kamar yang memang sudah dipersiapkan untuk para ajudan. Setelah mandi dan makan malam, sang ajudan pun segera tidur dengan lelapnya.

Sekitar pukul 04.30 dini hari sang ajudan sudah bangun. Ia segera mandi dan melakukan shalat subuh dikamarnya. Setelah berpakaian polisi militer, lengkap dengan baret dan pistol dipinggang, sang ajudan pergi ke ruang tengah untuk melihat apakah bosnya sudah bangun. Jam sudah menunjukkan pukul 5 lewat 30 menit, tapi sang Jenderal belum juga keluar dari kamarnya. Ia gelisah, sementara menurut perhitungannya, mereka harus berangkat dari rumah paling tidak jam 6 tepat, agar terhindar dari macet dan bisa tepat waktu.

Dilihatnya lagi arloji ditangannya, waktu telah menunjukkan pukul 5 lewat 45 menit. Sang ajudan memberanikan diri menuju pintu kamar sang Jenderal. Pintu kamar itu akan diketuk saja pikirnya, tapi niat itu diurungkannya mengingat pesan sang Jenderal tadi malam. Dia tahu betul, dalam dunia militer, perintah harus dijalankan dan perintah tadi malam adalah jangan membangun-kan sang Jenderal. Tentu saja hatinya bergejolak, kalau dia membangunkan sang Jenderal berarti melanggar perintah, tapi kalau nanti sang Jenderal telat, dia juga pasti akan kena marah. Benar-benar pilihan yang sulit.

Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Istri sang Jenderal keluar dari kamar masih dengan piyama dan kaget melihat sang ajudan mondar-mandir didepan kamarnya.

“Ada apa dik, kok kelihatannya gelisah ? Emangnya ada apa ?,” kata Ibu Jenderal kepada sang ajudan setengah keheranan.

“Maaf Bu, pagi ini bapak ada acara penting di Lippo Karawaci. Saya takut bapak terlambat,” kata sang ajudan dengan sopannya.

“Kenapa tidak Bapak tidak kamu bangunkan dari tadi !,” kata Bu Jenderal.

“Habis, Bapak bilang tadi malam jangan dibangunkan, jadi saya takut membangunkan beliau. Tapi karena dari tadi belum bangun juga, maka tadi saya bermaksud mengetuk pintu, tapi Ibu keburu keluar, “ jawab sang ajudan lagi.

“Ya sudaaah …….! Nanti Saya akan bangunkan Bapak. Kamu siapkan saja perlengkapan Bapak sekarang !,” kata Bu Jenderal sedikit kesal.

Ajudan Jenderal berbintang tiga itupun akhirnya masuk bersama istri sang Jenderal ke dalam kamar mereka untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Cepat-cepat ia mengambil tas kerja, laptop dan hand phone dari kamar majikannya sementara itu sang majikan dibangunkan oleh Bu Jenderal. Sang Jenderal terkejut melihat waktu sudah pukul 6 pagi dan melihat ajudan sedang mempersiapkan perlengkapannya. Iapun segera bangundan menghampiri sang ajudan.

“Sekarang jam berapa ?, “ tanya sang Jenderal sambil menguap karena masih mengantuk.

“Siaap ! jam enam Jenderal !,” jawab sang ajudan bersemangat.

“Acara nanti dimulai jam berapa ?,” tanya sang Jenderal lagi.

“Siaap ! jam tujuh Jenderal !,” jawab sang ajudan.

“Goblok ! Kenapa kamu tidak membangunkan saya ! Kamu bikin malu saya aja ! Harusnya kamu bangunkan saya dari tadi. Dasar goblok !,” kata sang Jenderal naik pitam.

“Siap salah Jenderal ! Siap salah Jenderal !,“ hanya itu kata-kata yang bisa keluar dari mulut sang ajudan. Memang, itu jawaban bagus untuk menghadapi pimpinan yang sedang kalap. Kalau saja ia sempat membela diri, mungkin kemarahan sang Jenderal akan semakin menjadi-jadi.

Kali ini mantan PANGDAM (Panglima Komando Daerah Militer) di Sumatera itu marah besar. Tanpa diduga oleh sang ajudan, tiba-tiba tas, laptop dan handphone yang sedang dipegang oleh ajudan langsung direbut dan dilemparkan oleh sang Jenderal. Situasi menjadi tegang. Tas terbang kedekat jendela kamar, sementara handphone hancur berantakan di lantai dan nasib laptop pun tak kalah jeleknya, layarnya retak akibat bantingan sang Jenderal. Kontan saja sang ajudan pucat pasi dibuatnya. Mungkin kalau saat itu nadinya dipotong, darahnya takkan ada yang keluar karena sudah keburu beku ketakutan.

Sang ajudan diam seribu bahasa. Dia ingat betul kata-kata sang Jenderal tadi malam, “Tidak usah ! Saya sudah biasa bangun pagi. Kamu nggak perlu membangunkan saya !”. Kata-kata itu masih terngiang-ngiang jelas ditelinganya. Ia benar-benar bingung. Mau membantah apalah artinya. Ia hanya pasrah pada nasibnya. Dengan lunglai ia segera memunguti barang-barang yang berantakan dilantai tersebut, sementara sang Jenderal bergegas ke kamar mandi.

Hari itu perjalanan ke Karawaci terasa jauh dan lama sekali. Maklum kondisi pimpinan tiak kondusif alisa siaga satu. Mereka akhirnya tiba dilokasi dan seperti perkiraan semula mereka telat, tetapi untung saja acara belum dimulai.

Begitulah kalau amarah sudah di ubun-ubun, membuat orang menjadi lupa dengan apa yang telah diperbuatnya. Kebanyakan pemimpin merasa pendapatnya yang paling benar dan mengabaikan pendapat anak buahnya. Kesalahan yang dilakukannya dengan memarahi sang ajudan tentu saja sah-sah saja jika dilihat dari sudut sang Jenderal. Tapi kalau dilihat dari sisi keadilan, maka sang Jenderal telah berlaku zolim dan bertindak berlebihan (over confidens). Sang ajudan telah menerima dampak dari kesalahan yang telah dibuat atasannya.

Kelemahan banyak manusia memang terletak pada ketidakmampuannya menahan amarah. Dalam kasus diatas, sang Jenderal ternyata tidak cerdas emosinya. Sebagai seorang pemimpin, tentu saja dia memiliki kecerdasan yang tinggi. Kalau bodoh tentu saja ia tak mungkin bisa menjadi Jenderal. Paling tidak ia sudah membuktikannya dengan tiga bintang dipundaknya. Namun sangat disayangkan, orang yang sudah mempunyai pangkat dan kedudukan yang tinggi tidak menjamin cerdas emosinya. Rasanya kurang pantas seorang perwira berbitang tiga melakukan hal demikian. Namun itulah kenyataannya.

* * *

Advertisements

6 responses

  1. baguzzz pak,,,
    hikmah dari cerpen di ats bisa jadi referensi buat kita2para pembacanya….. heeeee

  2. baguzzz pak,,,
    hikmah dari cerpen di ats bisa jadi referensi buat kita2para pembacanya….. heeeee

  3. no comenttttttt……
    good jobbbbbbb….
    hikmah yang da bisa buat kita belajar dari semua,,,,

  4. Bagus Pak ceritanya…Emg benar,ecerdasan otak para pemimpin dapat terbukti. Tapi menganalisa kecerdasan hatinya tetap sulit untuk dianalisa..

  5. rytulisan ini memang sesuai dengan realita kehidupan para petinggi negara, penulis memang tepat dalam hal penyajian realita…..

  6. ceritanya bagus,pak.menggambarkan kebanyakan pemimpin pada jaman ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: