Saatnya Membumikan Ekonomi Syariah

Oleh : Herlan Firmansyah, S.Pd, M.Pd

Rontoknya ekonomi Amerika Serikat menjadi bukti rapuhnya sistem ekonomi kapitalis yang dielu-elukan oleh para penganutnya, tak terkecuali ekonomi Indonesia. Sistem demokrasi ekonomi yang mulai tergeser oleh desakan kapitalisme menjadikan pondasi ekonomi nasional bak putri malu yang tersentuh tangan langsung mengkerut.
Momentum tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi para pegiat pembangunan ekonomi di negeri ini, untuk sejenak melihat tentang jalan yang ditempuh dalam menjalankan roda perekonomian. Sudah benarkah sistem perekonomian dewasa ini yang cenderung kapitalis? Adakah jalan lain yang lebih benar untuk dijungjung tinggi?
Amanah konstituen yang mengisyaratkan penegakan ekonomi kerakyatan kini bak tulisan di atas koran bekas yang tak bermakna. Fenomena melorotnya kondisi ekonomi sebagai imbas ekonomi global-khususnya amerika- harus menjadi indikator bahwa sistem kapitalisme sangat rapuh dan hanya melahirkan kesenjangan yang semakin jauh serta sangat tidak cocok dengan masyarakat Indonesia yang nota bene mayoritas muslim. Sudah saatnya bagi penggerak ekonomi Indonesia untuk kembali ke khittah-nya, mengembalikan kiblat pembangunan ekonomi kearah sistem ekonomi yang lebih berkeadilan dan berlandaskan kepada suprasistem yang transendental, yakni hukum-hukum Allah, serta sesuai dengan akidah mayoritas masyarakat Indonesia, dialah sistem ekonomi islam.

Kerinduan Ummat Akan Ekonomi Islam

Sejarah pergerakan ekonomi Islam di Indonesia sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 1911, yaitu sejak berdirinya organisasi Syarikat Dagang Islam yang dibidani oleh para entrepreneur dan para tokoh Muslim saat itu. Bahkan jika kita menarik sejarah jauh ke belakang, jauh sebelum tahun 1911, peran dan kiprah para santri (umat Islam) dalam dunia perdagangan cukup besar. Banyak penelitian para ahli sejarah dan antropologi yang membuktilan fakta tersebut.
Dalam buku Pedlers and Princes, (1955), Clifford Geertz, antropolog AS terkemuka, menyatakan bahwa di Jawa, para santri reformis mempunyai profesi sebagai pedagang atau wirausahawan dengan etos entrepreneurship yang tinggi. Sementara dalam buku “The Religion of Java” (1960), Geertz menulis, “Pengusaha santri (muslim) adalah mereka yang dipengaruhi oleh etos kerja Islam yang hidup di lingkungan di mana mereka bekerja. Fakta ini merupakan hasil studi, Clifford Geertz, dalam upaya untuk menyelidiki siapa di kalangan muslim yang memiliki etos entrepreneurship seperti “Etik Protestantisme”, sebagaimana yang dimaksud oleh Max Weber. Dalam penelitian itu, Geertz menemukan, etos itu ada pada kaum santri yang ternyata pada umumnya memiliki etos kerja dan etos kewiraswastaan yang lebih tinggi dari kaum abangan yang dipengaruhi oleh elemen-elemen ajaran Hindu dan Budha.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa perkembangan ekonomi syariah yang marak dewasa ini merupakan cerminan dan kerinduan ummat Islam Indonesia untuk kembali menghidupkan semangat para entrepreneur muslim masa silam dalam dunia bisnis dan perdagangan, sebagaimana juga menjadi ajaran Nabi Muhammad Saw dan sunnah yang diteladankannya kepada umatnya.

Momentum Titik Balik

Perkembangan ekonomi Islam di Indonesia mulai mendapatkan momentumnya untuk tumbuh kembali, sejak didirikannya Bank Muamalat Indonesia pada tahun 1992, setelah mendapat legitimasi legal formal dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Dua tahun setelah BMI berdiri, berdiri pula Asuransi Syariah Takaful di tahun 1994. Berbarengan dengan itu, tumbuh pula 78 BPR Syariah. Pada tahun 1996 berkembang pula lembaga keuangan mikro syariah BMT. Namun Lembaga Perguruan Tinggi yang mengajarkan ekonomi syariah masih sangat langka. Tercatat, IAIN-SU Medan menjadi Perguruan Tinggi pertama di Indonesia yang membuka Program Studi D3 Manajemen Bank Syari’ah sebagai hasil kerja Forum Kajian Ekonomi dan Bank Islam (FKEBI) yang lahir tahun 1990 sebagai realisasi kerjasama dengan IIUM Malaysia. Tazkia, SEBI dan STIE Jogyakarta belum berdiri saat itu. Untuk di Cianjur, Alhamdulillah Fakultas Agama Universitas Suryakancana (UNSUR) mulai tahun 2008 sudah membuka jurusan Ekonomi Islam, suatu perkembangan yang sangat menggembirakan dan patut disambut dengan antusias oleh ummat Islam di Kabupaten Cianjur.

Diperlukan Komitment Ummat
Berkembangnya perbankan syariah dewasa ini menjadi indikator positif dari perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Namun, keberadaanya akan sangat dipengaruhi oleh kepercayaan dan komitmen ummat untuk mendukung keberadaanya, jika komitemn ummat lemah, maka niscaya keberadaan bank syariah tersebut tidak akan berlangsung lama. Beralihnya menabung dan mengajukan pembiayaan dari bank kovensional ke bank syariah menjadi salah satu wujud adanya komitmen ummat. Demikian halnya dengan mulai menjamurnya lembaga pendidikan yang mengembangkan ekonomi syariah, eksistensi dan kontinuitasnya akan sangat dipengaruhi oleh kepercayaan dan komitment ummat. Akhirnya, mari kita wujudkan masyarakat madani dengan memperbaiki tatanan ekonomi kita menuju ekonomi syariah. Kalau bukan dimulai oleh kita sebagai ummat Islam, oleh siapa lagi? Semoga Bermanfaat.(Penulis: Dosen Islamic Banking School (IBS) Bandung, Dosen Jurusan Ekonomi Islam FAI UNSUR Cianjur dan Pengurus API Cianjur)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: