Hati-hati Jangan Khawatir Berlebihan

Oleh
TOTO SUHARYA

Keheranan penulis mungkin sama dengan para pembaca, jika mendengar kasus pembunuhan tiga orang anak kecil oleh Ny. AQS (ibu kandungnya sendiri) tempo hari. Kejadian ini sungguh di luar logika kemanusiaan (misterius), karena pembunuhan dilakukan oleh seorang ibu yang memiliki status pendidikan tinggi, pemahaman keagamaan tidak meragukan, termasuk ke dalam golongan ekonomi mampu, dan hidup dalam keluarga harmonis. Sekilas kita bisa memandang bahwa ibu ini telah berhasil membentuk sebuah keluarga sejahtera, seperti yang kita cita-citakan.

Namun tanpa bermaksud menghakimi, mengapa dia melakukan pembunuhan terhadap ketiga anaknya? Ayat-ayat apa yang dia pahami? Apakah dia memiliki kelebihan seperti Nabi Khidr yang membunuh anak kecil karena mengetahui bahwa kelak anak tersebut akan menjadi seorang pendurhaka? Sungguh tidak masuk akal. Menurut pengakuannya, pembunuhan dilakukan karena rasa khawatir terhadap masa depan anak-anaknya, khawatir tidak bisa membahagiakan dan mendidik anak-anaknya menjadi anak yang sholeh. Padahal Tuhan berfirman, “janganlah kamu khawatir, sesungguhnya aku beserta kamu, Aku mendengar dan melihat” (QS. Tha-ha, 46).

Dari kacamata agama, kekhawatiran orang tua terhadap masa depan anak pasti ada, sebagaimana dicontohkan kekhawatiran Nabi Ya’qub terhadap anaknya Yusuf. Berkata Ya’qub “sesungguhnya kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah daripadanya” (QS. Yusuf:13). Jadi, rasa khawatir merupakan ciri dari sifat manusia dan sifat naluriah seorang ibu.

Namun, kekhawatiran tidak harus dilakukan secara berlebihan, karena akan menafikan peran orang lain (masyarakat), dan peran Tuhan di dalamnya. Rasa khawatir berlebihan akan berdampak pada sikap-siakp protektif dalam mendidik anak, sehingga anak mengalami keterlambatan dalam perkembangan otaknya akibat larangan-larangan sebagai wujud dari rasa khawatir. Anak-anak yang cenderung mendapat larangan beraktivitas dari guru atau orang tua, mereka tidak memiliki pengalaman belajar yang baik, pasif, dan kurang memiliki kepercayaan diri.

Manusia harus tetap optimis pada pertolongan Tuhan. Sebagaimana dikabarkan, Tuhan telah menolong ibunya Musa pada saat beliau merasa khawatir atas nasib anaknya, “susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan jangan kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (QS. Al-Qashash:7).

Etikanya, di zaman sekarang pertolongan Tuhan itu pasti dan tetap ada. Syaratnya kita harus berfikir, berbuat/berusaha dan berdo’a, agar kelak anak-anak kita menjadi anak yang sholeh. Setelah itu serahkanlah segala keputusannya kepada Tuhan. Jika kita mampu menerima segala keputusan (takdir) Tuhan, disitulah artinya kita telah mendapatkan pertolongan Tuhan.

Kasus dan kisah para Nabi di atas, dapat menjadi pelajaran bagi kita sebagai pendidik (guru). Sebagai orang tua (guru), kita sering merasa khawatir. Guru merasa khawatir pada anak didiknya saat menjelang ujian, khawatir anak didiknya tidak lulus. Hal tersebut sebenarnya wajar, namun kadang-kadang kekhawatiran menjadi berlebihan sehinggga tidak jarang terjadi tindak-tindak ketidakjujuran seperti meluluskan ujian murid dengan memberi bocoran soal, menyebarkan kunci jawaban, manipulasi nilai dsb. Demikian juga tindak kekerasan seperti pemukulan, jeweran, tempeleng, makian kasar, cap nakal dan bandel sering terjadi dengan dalih pendidikan.

Jika disadari tugas guru (orang tua) hanya menyampaikan kebenaran (ilmu pengetahuan/etika dan nilai-nilai agama) dan memberikan nasihat/larangan agar kelak anak mampu berfikir dan berbuat sesuai dengan tuntutan ajaran kebenaran. Kekhawatiran pada anak adalah hal yang manusiawi tetapi harus dilakukan secara proporsional dan tidak tidak berlebihan. Rasa khawatir orang tua (guru) yang berlebihan justru dapat melahirkan keputusan asaan dan berujung pada keputusan-keputusan patal bagi sang anak. Pembunuhan tiga orang putranya oleh ibu kandung sendiri, adalah dampak dari rasa khawatir yang terlalu berlebihan. Sehingga keputusan-keputusan yang dimabil untuk anaknya cenderung pesimis sampai pada akhirnya berujung pada pembunuhan.

Dalam hal ini, Tuhan memberikan batasan wewenang bagi para orang tua atau guru dalam mendidik, “Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus:99).

Maka, tidak dibenarkan ada kekerasan dan paksaan dalam pendidikan (baik di sekolah maupun keluarga) sebab tugas kita hanya mendidik. Arti mendidik adalah seperti kita menanam padi di sawah. Kita hanya memupuk, membersihkan padi dari hama. Menghindarikan dari gangguan gulma dan tikus. Seperti itu jugalah langkah-langkah kita dalam mendidik anak. Sedangkan hasil baik atau buruknya (beriman atau kafir) upaya pendidikan anak didik kita di masa depan adalah hak mutlak Tuhan. Manusia hanya bisa berencana, berupaya dan Tuhan yang memutuskan.

Jangan terlalu berlebihan bahwa anak-anak kita harus menjadi orang yang baik di tangan kita, karena orang tua atau guru bukan Tuhan. Jika kita memaksa kepada anak-anak harus berbuat baik sesuai dengan apa yang kita inginkan, sesungguhnya kita sudah berbuat berlebihan karena merampas yang seharusnya menjadi hak Tuhan. Untuk itu, marilah kita tingkatkan ilmu, iman dan takwa kita, agar agama kelak dapat menjadi solusi bagi segala masalah kehidupan kita di dunia. wallahu’alam. (penulis Penggiat Rasionalis Beragama, Guru di SMAN I Cibinong Cianjur Selatan dan Pengurus API Kabupaten Cianjur)

* * *
Toto Suharya

Advertisements

2 responses

  1. Walaupun saya belum membacanya,namun dilihat dari judul sudah menarik,mungkin bila ada kesempatan saya akan membacanya.

  2. terimakasih pak ari tulisan saya sudah dimuat, mudah-mudahan bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: