Demo Crazy ala Mahasiswa

Oleh : J. Haryadi

Iklim kebebasan yang melanda Indonesia, terutama sejak kejatuhan rezim Soehato, telah membuat masyarakat tidak takut lagi mengeluarkan pendapat atau uneg-unegnya. Kalau dulu setiap perbedaan pendapat identik dengan subversif, maka kali ini perbeda’an dianggap hal yang biasa. Itulah wajah Indonesia saat ini, yang sedang belajar berdemokrasi.

Mahasiswa sebagai kaum terpelajar banyak berperan dalam lahirnya iklim demokrasi yang sehat. Namun tampaknya kesehatan itu telah dirusak oleh sekelompok elit aktivis mahasiswa yang senang berdemo dengan cara anarkis. Hal ini sudah terbukti dengan banyaknya tayangan televisi yang memperlihatkan tindakan demo para mahasiswa yang berujung dengan bentrokan, baik dengan sesama mahasiswa (antar kampus) maupun antara mahasiswa dengan aparat (polisi).

Kejadian diatas tentu sangat memalukan. Bukankah berdemo itu dilindungi oleh undang-undang ? Bukankah sudah ada aturan yang baku tentang tata cara berdemo yang baik ? Lalu kenapa kalau sudah tahu aturan mainnya, kok mahasiswa sendiri yang justru melanggarnya ? Bukankah dengan berdemo dengan cara anarkis akan melanggar hak asasi orang lain ? Misalnya dengan membakar ban di jalan raya yang bisa menyebabkan kemacetan. Melempar batu ke arah aparat keamanan yang bisa membuat mereka terluka dan memancing emosi mereka ? Bahkan memaksakan kehendak dengan mendesak pihak tertentu untuk memenuhi keinginan mereka dengan cara membawa masa yang banyak adalah salah satu bentuk tekanan untuk memaksakan kehendak ? Kalau sudah begitu, apa bedanya mahasiswa tersebut dengan preman jalanan ? Dimana letak intelektualitas mereka ? Mengapa mereka lebih mengandalkan fisik dari pada otak ?

Saya bukan tidak setuju dengan tindakan adik-adik mahasiswa yang memperjuangkan kepentingan umum dengan cara berdemo. Namun yang saya sesalkan adalah cara melakukan demonya yang harusnya bisa lebih cerdas, kondusif dan tidak anarkis. Apakah mahasiswa sudah kehilangan idenya untuk melakukan demo yang simpatik ?

Saya lebih cenderung sebaiknya mahasiswa membangun opini publik dan siap berdebat dengan pihak-pihak tertentu yang menjadi lawannya. Coba mencari solusi dari masalah yang menjadi target demo itu sendiri. Kalau bisa mengkritik sesuatu hal dengan mengatakan hal tersebut tidak baik, sebaiknya harus bisa juga memberikan masukan bagaimana alternatif pemecahannya. Menyalahkan atau mengkritik itu memang jauh lebih mudah dari pada memberi masukan yang positif dan konstruktif.

Kalau dicermati lebih dalam, sebenarnya demo anarkis yang selama ini terlihat di televisi sepertinya memang sengaja diciptakan untuk memancing perhatian media. Adanya huru-hara sangat menarik pihak media, terutama televisi untuk meliput kegiatan tersebut, sehingga bisa terekspos kemana-mana.

Strategi untuk menarik media masa adalah syah-syah saja sepanjang dilakukan secara cantik dan elegan. Tetapi dengan tindakan anarkis justru membuat citra mahasiswa itu sendiri menjadi jelek. Tindakan segelintir mahasiswa yang tidak terkendali dan menjadi provokator dalam kerusuhan bisa menjadi penyulut keributan yang lebih besar dan meluas. Bahkan sering terjadi yang menjadi biang keroknya adalah mahasiswa yang jarang kuliah dan nilainya jeblok lantaran malas belajar. Mereka adalah mahasiswa abadi atau mahasiswa yang mengikuti kuliah bukan untuk mencari ilmu melainkan mencari status semata agar dibilang intelek. Mereka ini biasanya sulit diatur ketika terjadi unjuk rasa. Kalau bicara biasanya suaranya paling besar sendiri, tetapi kalau terjadi keributan yang menjurus ke tindakan anarkis, maka mereka adalah orang pertama yang lari dan mencoba lepas dari tanggung jawab.

Adik-adik mahasiswa yang berdemo dengan menggunakan hati nurani dan otaknya, tentu tidak ingin ekses perbuatan mereka berdampak negatif. Tapi dalam melakukan demo, sering kali mahasiswa kesulitan dalam mengontrol jalannya demo itu sendiri. Disiplin dan sistem komando yang sudah disepakati ketika masih dalam rapat persiapan terkadang tercerai berai ketika diaplikasikan dilapangan. Hal ini bisa dimaklmi karena mahasiswa masih memiliki emosi yang labil. Apalagi ketika demo berlangsung terkadang konsumsi tidak berjalan dengan lancar bahkan seadanya saja. Demo dengan perut yang lapar, apalagi jika cuasa panas tentu akan membuat emosi menjkadi cepat naik dan meluap-luap. Jika terjadi gesekan dengan petugas, mereka akan cepat naik pitam. Akibatnya yang terjadi bukalah demo yang damai melainkan demo yang anarkis alias demo crazy.
* * *
Arie

Advertisements

One response

  1. keren tulisannya. . .
    memang penulis yang berbakat. .
    tak bisa berkata banyak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: