MENGAPA AKU MENULIS

Kegiatan saya menulis sebenarnya sudah dimulai ketika masih duduk di bangku SMP. Karya saya yang pertama saat itu adalah sebuah puisi yang diterbitkan majalah dinding di sekolah. Menginjak SMA, saya juga pernah membuat cerita pendek yang berkisah tentang petualangan cinta seorang gadis. Kisah di cerpen tersebut terinspirasi oleh seorang gadis yang kebetulan saya sukai. Namun semua kegiatan menulis tersebut masih sekedar hobi dan bersifat insidentil, tidak saya teruskan secara serius. Maklum saja, cita-cita ingin menjadi tentara dengan masuk AKABRI jauh lebih menjanjikan dibandingkan menjadi seorang penulis. Demikian pandangan saya waktu itu yang menganggap rendah profesi menulis yang saya anggap tidak bergengsi dan tidak bisa menghasilkan uang, apalagi dijadikan sandaran untuk mencari nafkah.
Saya mencoba menerawang kehidupan saya beberapa puluh tahun yang lalu, tepatnya ketika masih usia sekolah dasar. Saat itu pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pelajaran yang cukup menakutkan bagi saya, setelah pelajaran kesenian. Saya kurang suka pelajaran kesenian karena ada pelajaran menyanyi di depan kelas, yang selalu membuat bulu kuduk saya berdiri. Pada pelajaran Bahasa Indonesia, latihan mengaranglah yang membuat saya stress. Mengapa ? karena bagi saya waktu itu, mencari gagasan dan menuangkannya ke atas kertas adalah pekerjaan yang sangat sulit dan menjengkelkan. Namun demikian, saya tetap mencoba menyelesaikannya dengan membuat cerita perjalanan saat liburan ke rumah nenek. Setiap kali mengarang, cerita itu lagi yang saya buat, dengan sedikit modifikasi disana sini.
Ketika memasuki SMP, saya mulai senang membaca. Kegiatan disekolah yang paling saya suka waktu itu adalah mengisi majalah dinding dengan berbagai lukisan dan puisi, disamping itu saya juga aktif menjadi anggota perpustakaan. Saya paling suka meminjam buku-buku cerita, terutama kisah-kisah sukses orang terkenal seperti Thomas Alfa Edison, Benyamin Franklin, Willian Shakespere kisah pertempurannya Jenderal Mc Arthur, Napoleon Bonapaerte, Yulius Caesar Kisah king Artur dari Inggris atau si jenius Albert Enstein. Sesekali saya juga membaca novel seperti kisah petuangannya si Agen 007, James Bond dan sang detektif cerdik, Sherlock Holmes yang menjadi bacaan favorit saya atau novel karya dari negeri sendiri seperti Kho Ping Ho.
Bagi saya, membaca buku membuat pengalaman jadi bertambah. Saat saya sedang membaca kisah tertentu, saya merasa hanyut ke dalam suasana saat kisah itu terjadi. Pikiran saya menerawang kemana-mana, seolah-olah saya mengalami kejadian yang terdapat dalam cerita itu. Bagi saya, hal tersebut merupakan pengalaman batin yang sangat mengasikkan. Banyak hal dapat di pelajari dari kegiatan membaca buku. Yang pasti, pengetahuan dan wawasan saya menjadi bertambah.
Pengalaman membaca buku yang sangat berkesan dan terus terang telah banyak membuat diri saya berubah total adalah ketika saya membaca sebuah buku yang dipinjamkan dari seorang sahabat karib saya yang bernama Murni Rizal. Saat itu saya baru saja menyelesaikan SMP saya di kota kelahiran saya di Kotabumi, Lampung Utara. Buku yang saya baca tersebut berjudul “Positive Thinking”, kalau tidak salah karya Dr.Swart.
Rasanya buku itu adalah buku yang cukup serius yang baru pertama kali saya baca. Mula-mula saya bingung membaca buku semacam itu. Betapa tidak, saya sebelumnya hanya terbiasa membaca buku fiksi atau buku pelajaran di sekolah dan belum pernah membaca buku psikologi semacam itu. Akhirnya buku tersebut saya baca berulang-ulang sambil mencoba menerapkan saran yang ada dalam buku tersebut.
Bagi saya, buku Positive Thingking karya Dr. Swart tersebut sangat menarik dan telah berhasil mengajak diri saya berubah. Banyak hal yang sangat berbeda dengan pengetahuan yang selama ini diberikan oleh orang tua saya mengenai bagaimana bergaul dengan orang lain, tetapi apa yang terdapat dalam buku itu memberikan nuansa baru yang sangat segar dan menggairahkan. Sejak saat itu, saya mulai berubah. Pribadi saya yang sangat pendiam, pemalu dan tertutup secara perlahan berubah menjadi pribadi energik, ceria dan terbuka. Semula saya adalah termasuk orang yang kuper (kurang pergaulan) berubah menjadi orang yang memiliki banyak teman dan sangat suka bicara. Memang perubahan itu sendiri mulanya terasa aneh, terutama pada orang-orang yang ada disekitar saya. Namun saya ingat sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang artinya “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak berusaha untuk mengubahnya”. Atas dasar ayat itulah membuat saya semakin yakin dan memegang prinsip bahwa mulai saat itu saya harus berubah menjadi pribadi yang dinamis dan disukai banyak orang orang.
Dalam berfikir, Saya selalu berusaha mencari sisi positif dalam memandang berbagai persoalan. Bagi saya, tidak masalah yang tidak bisa terpecahkan asal kita mau berusaha untuk mencari solusinya. Seperti kata pepatah, “Banyak jalan menuju Roma”. Ya, sejak saat itu saya selalu berfikiran positif sampai sekarang.
Saya mulai merasakan artinya kegagalan ketika saya beberapa kali tidak berhasil meraih cita-cita saya. Kegagalan pertama ketikja saya mengikuti seleksi calon taruna AKABRI (sekarang AKMIL). Kegagalan berikutnya ketika saya juga tidak diterima di fakultas teknik Sipil ITB dalam Sipenmaru’85 (sekarang UMPTN). Saya hanya bisa diterima di sebuah Universitas swasta di kota Bandung. Kegagalan ini menjadi semacam cambuk bagi saya. Perasaan kecewa, kesal, marah bercampur menjadi satu saya kumpulkan menjadi dendam yang membara. Tetapi api dendam yang membara tersebut saya arahkan ke arah yang positif. Saya jadi benci dengan apa saja yang berbau ITB dan berjanji untuk tidak kalah dengan anak-anak ITB.
Saya menyadari tentunya bahwa saya bukan siapa-siapa. IQ saya juga biasa-biasa saja, tidak istimewa. Tetapi saya selalu berfikiran positif tentang diri saya bahwa dalam diri saya pasti ada kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Saya harus berusaha mencari kelebihan apa yang ada dalam diri saya dan menutupi kekurangan yang saya miliki. Oleh sebab itu saya harus banyak belajar. Untuk belajar tentu harus banyak membaca buku. Oleh sebab itu, saya sering membeli berbagai buku untuk manambah wawasan. Buku-buku pengetahuan umum, psikologi populer, agama, filsafat, hukum, politik, manajemen, motivasi dan buku-buku yang saya pandang perlu pasti saya baca. Bahkan kalau ada buku baru yang bagus di Gramedia, tetapi saya tidak mampu membelinya, maka yang saya lakukan adalah dengan cara rajin berkunjung ke Gramedia dan membacanya sambil berdiri. Hal itu saya lakukan sampai buku tersebut tamat saya baca, demi kehausan saya akan ilmu pengetahuan.
Pengalaman lain yang ada urusan dengan buku adalah ketika menjadi kandidat Ketua Senat (sekarang BEM) di fakultas saya. Saat itu saya harus berkampanye dengan cara berpidato di depan masa. Walaupun berbicara di depan umum bukanlah hal baru bagi saya, namun bicara di ruang terbuka dengan jumlah penonton yang cukup banyak telah membuat saya sedikit nerveus. Untuk mengurangi rasa percaya diri itu saya lakukan dengan membeli buku “Teknik-teknik Berpidato”. Dalam buku itu saya mendapat manfaat, mungkin bisa disebut “Mengikat makna” seperti yang dikatakan Pak Hernowo, salah seorang penulis kreatif yang menjadi favorit saya.
Untuk menjadi berhasil dalam berpidato, saya harus melakukan hal-hal berikut :
Menentukan thema yang akan dibicarakan.
Mempelajari audience yang menjadi objek pembicaraan.
Membuat pointer materi yang akan dibicarakan.
Menguasai materi yang akan dibicarakan.
Bersikap tenang saat akan berpidato. Jika merasa gugup, tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan secara perlahan.
Berdo’a dalam hati sebelum memulai perkataan.
Saat bicara, atur nada suara secara teratur dan berirama. Kontrol setiap kali berbicara, kapan harus keras, lembut atau mengajak audiensi untuk terlibat pembicaraan.
Dan yang sangat penting, jangan sampai menatap mata audience secara personal, tapi pandang mereka secara global dengan cara menatap sudut kiri, tengah dan sudut kanan. Jika terjebak menatap mata audience, bisa terjadi blank yang mengakibatkan gugup dan kehilangan kendali.
Pengalaman menarik lainnya dengan buku adalah ketika saya menjadi pengajar komputer di sebuah tempat kursus. Saat itu Saya masih kuliah memasuki tahun keempat. Ini pengalaman pertama kali saya mengajar dan kebetulan tempat kursus tersebut masih baru, sehingga tentu saja belum memiliki buku panduan untuk mengajar.
Untuk mencari bahan mengajar, saya membeli beberapa buah buku. Dari buku tersebut saya membuat rangkuman bahan mengajar. Jadi setiap kali mau negajar, saya selalu membaca buku dulu, lalu membuat catatan untuk materi yang akan saya ajarkan. Tentu saja semakin lama catatan bahan mengajar saya semakin banyak. Kumpulan catatan itu saya satukan menjadi sebuah diktat. Selanjutnya saya tawarkan kepada pimpinan tempat saya mengajar untuk dijadikan bahan mengajar bagi instruktur lainnya. Ternyata usulan saya diterima. Sejak saat itu buku saya dijadikan buku panduan mengajar di tempat kursus tersebut selama bertahun-tahun.
Bagi saya, nilai materi bukan tujuan utama saya membuat buku saat itu melainkan kepuasan batin. Saya senang karya saya dipakai orang dan bermanfaat bagi orang lain. Dalam membuat buku, Saya selalu berusaha membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah. Dengan demikian orang jadi mudah mempelajarinya.
Pengalaman yang terakhir yang memutuskan saya ingin menjadi seorang penulis adalah ketika saya masih berkerja di Jakarta. Saat itu saya sedang mengelola sebuah usaha pendidikan komputer. Seorang pria muda berumur sekitar 35 tahun datang menghadap saya dengan seberkas lamaran kerja. Saya buka isinya, lalu saya ambil satu persatu berkas yang dibawanya untuk diperiksa. Kebetulan memang saya sedang membutuhkan tenaga pengajar saat itu. Ketika saya membaca biodata yang bersangkutan, ternyata pelamar tersebut mempunyai pengalaman menulis di media masa. Saya jadi tertarik dengannya bukan lantaran di memang berlatar belakang pendidikan sarjana teknik informatika dan berpengalaman dibidangya, namun terus terang karena pengalaman menulisnya. Apalagi saat itu dia juga melampirkan beberapa karyanya yang pernah dimuat di beberapa media masa, baik media masa lokal maupun nasional.
Saya mengajak orang tersebut untuk berkolaborasi membuat buku. Kebetulan dia sering menulis artikel tetapi belum pernah membuat buku. Kami lalu sepakat untuk mengerjakan sebuah projek membuat bersama. Saya dan dia selanjutnya mennjadi sahabat dan mulai mencari thema dan judul buku yang akan kami buat. Saya dan dia sepakat membuat buku berjudul “25 Ide Bisnis Paling Kreatif” dengan sub judul dibawahnya “Yang Bisa membuat Hidup anda Berubah”. Sengaja kami membuat judul yang menarik agar orang penasaran untuk membelinya.
Apa langkah yang kami lakukan ? Mula-mula masing-masing dari kami wajib mengumpulkan 50 buah ide bisnis, sehingga totalnya menjadi 100 buah. Kemudian ide-ide bisnis yang kami buat di pertemukan. Jika ada ide yang sama, kami tandai dengan cara melingkari angkanya. Jika ada ide yang sudah usang dan sudah sering dibahas penulis lain lalu kami coret. Begitu seterusnya sehingga tersisa 25 ide bisnis yang menurut kami pantas untuk dimuat ke dalam buku dan dipublikasikan.
Langkah berikutnya adalah membagi tugas, dimana masing-masing kami mendapat jatah menulis sesuai dengan topik yang jadi tanggung jawabnya. Kebetulan saya hanya mendapat tugas menulis 12 topik, sedangkan rekan saya sisanya sebanyak 13 topik. Buku pertama kami akhirnya selesai juga tepat waktu.
Buku sudah selesai, lantas mau diterbitkan dimana ? Bagaimana kalau ditolak oleh penerbit ? Kami sudah sepakat, buku tersebut harus diterbitkan, tapi bagaimana caranya ? Jalan pintas adalah menerbitkannya sendiri, seperti apa yang dilakukan para grup musik under ground dengan indie labe-lnya. Lagi-lagi timbul masalah, modalnya dari mana ? Untuk mencetak buku sendiri dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Kebetulan kami tidak memiliki dana yang cukup untuk menerbitkannya sendiri. Akhirnya jalan keluar kami dapatkan yaitu dengan cara melibatkan investor untuk mendanai buku kami.
Jalan tengah yang kami dapatkan adalah menggandeng investor. Tentu saja kami menguraikan bagaimana cara sang investor mendapatkan keuntungan dari buku yang akan diterbitkan tersebut. Kesepakatan dicapai dengan aturan pembayaran dimuka sebesar 50% ketika naskah diberikan, lalu sisanya ketika buku selesai dicetak dan siap terbit.
Kebanggaan saya sebagai penulis untuk pertama kalinya saya rasakan ketika untuk pertama kalinya buku karya saya tersebut terbit dan terpajang di toko-toko buku seperti Gramedia dan Gunung Agung. Saya sengaja datang ke toko buku untuk mengecek keberadaanya. Dan lebih surprise lagi ketika beberapa bulan kemudian buku saya termasuk dalam kategori best seller.
Apa yang saya lakukan ketika buku saya ternyata bisa terbit dan best seller ? Saya hubungi teman-teman dan kolega saya agar mau membaca buku saya. Mereka saya ajak untuk menulis buku. Sayapun melanjutkan menulis buku yang kedua dengan judul “Mengintip Rahasia Sukses 17 pengusaha Bermodal Tekad”. Buku kedua inipun laku keras dibeberapa toko buku. Rasa percaya diri saya semakin meningkat dengan kejadian ini dan membuat saya semakin semangat untuk berkarya. Kebanggaan saya adalah karena karya saya bisa dibaca oleh orang lain. Dan lebih bangga lagi kalu mereka yang telah membaca buku saya menjadi terinspirasi sehingga bermanfaat baginya. Kalau saya bisa menulis, saya yakin andapun bisa. Jangan takut terkambat untuk menulis. Buku pertama saya terbit ketika saya berusia 41 tahun. Tak ada waktu terlambat untuk menulis. Selamat menulis !

Advertisements

5 responses

  1. asslamau’alaikum,
    wah bagus banget nih blognya,kerennnnnnnn,tulisannya keren knpga dikumpulindan dibukukan?

    1. Mbak Enno, memang aku ada rencana mau buat buku dari ide-ide segar yang ada di kepalaku. Makasih atas responnya. J.Haryadi

  2. Saya baca semua blog nya menarik juga, bisa membuat inspirasi untuk orang-orang yang kebingungan. bisa tukar informasi, pengalaman dan lain-lain nya.
    Saya pribadi blm punya blog, maklum serba terbatas. mudah2an kedepan di coba.
    Sukses selalu menjadi penulis profesional.

  3. assalamualaikum wr.wb

    Halo pak!wah saya setuju dengan bapak tentang tulisan ini.saya dulu juga merasa bahwa pelajaran B.Indonesia itu paling menakutkan.sehingga saya mnyepelekannya.tapi entah knapa saya sekarang ingin belajar untuk suka menulis.dan sekarang saya sudah ikut KARYA ILMIAH REMAJA di sekolah.maka itu saya salut dengan tulisan ini karena bisa membangkitkan semangat untuk menulis.trimakasih pak mungkin hanya ini komen dari saya
    wassalamualaikum wr.wb

  4. perjalanan hidupyang sangat menyenangkan. dari tulisan yang telah anda buat, anda bisa membuat orang menjadi terinspirasi sehingga menjadi bermanfaat untuk para pembacanya. anda tidak mementingkan sebuah materi melainkan sebuah kepuasan batin. saya juga menginginkan hal yang sama akan terjadi pada saya, tetapi saya juga tidak terlalu menyukai menulis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: